Lompat ke isi

Pengguna:Bennylin/Indeks/Linguistik

Dari Wikikamus bahasa Indonesia, kamus bebas
  1. ablatif absolut penggunaan konstruksi absolut yang terdiri atas partisipan dan nomina, keduanya dalam kasus ablatif
  2. ablaut perubahan vokal untuk menandai pelbagai fungsi gramatikal, misalnya untuk mengungkapkan perubahan kala, aspek, jumlah (seperti dalam bahasa Inggris drink, drank, drunk)
  3. adjektiva kata yang menerangkan nomina (kata benda) dan secara umum dapat bergabung dengan kata lebih dan sangat
  4. adjektival bersifat atau berfungsi sebagai adjektiva, misalnya frasa --
  5. adjektival kata atau kelompok kata yang berfungsi sebagai adjektiva, tetapi tidak dapat berinfleksi seperti adjektiva biasa
  6. adjektival berfungsi sebagai adjektiva, tetapi tidak dapat berinfleksi seperti adjektiva biasa
  7. adnominal kata atau kelompok kata yang menerangkan nomina
  8. adposisi konsep yang mencakup preposisi dan posposisi
  9. adstratum bahasa atau bentuk-bentuk bahasa yang memengaruhi bahasa lain yang lebih dominan
  10. adverbia kata yang memberikan keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat, misalnya sangat, lebih, tidak
  11. adverbial berfungsi sebagai adverbia, tetapi tidak berinfleksi seperti adverbia biasa
  12. adverbial bersifat atau berfungsi sebagai adverbia, misalnya frasa adverbial
  13. afasia anterior afasia yang terjadi karena kerusakan jaringan pada bagian depan otak dan ditandai dengan wicara yang sulit dan tersendat-sendat pada penderitanya
  14. afasia global afasia yang menyangkut kelainan produksi dan pemahaman bahasa yang gawat
  15. afasia posterior afasia yang terjadi karena kerusakan jaringan pada bagian belakang otak, ditandai oleh ketidakmampuan penderita memahami kalimat dan ketidaklancaran penderita menghasilkan kalimat-kalimat yang bermakna
  16. afasiologi kajian tentang afasia
  17. afektif mempunyai gaya atau makna yang menunjukkan perasaan (tentang gaya bahasa atau makna)
  18. aferesis penanggalan huruf awal atau suku awal kata (misalnya tirta marta dari tirta amarta, kan dari bukan atau akan)
  19. afiks bentuk terikat (seperti prefiks, infiks, konfiks, dan sufiks) yang apabila ditambahkan pada kata dasar atau bentuk dasar akan mengubah makna gramatikal; bentuk (atau morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan kata imbuhan
  20. afiksasi pengafiksan
  21. afinitas hubungan antara bahasa-bahasa yang menunjukkan kemiripan fonologis atau gramatikal karena kontak atau tipologi, bukan karena kekerabatan
  22. afrasia ketidakmampuan untuk mengungkapkan atau memakai ujaran yang dibentuk menurut pola gramatikal
  23. afrikat gabungan bunyi hambat dan frikatif; bunyi hambat dengan pelepas frikatif, misalnya bunyi pertama pada cakap
  24. agens nomina yang menampilkan perbuatan, yang menyebabkan, yang memulai suatu kejadian, atau yang memengaruhi suatu proses; pelaku
  25. agentif bersifat pelaku; sebagai pelaku
  26. aglutinasi pengimbuhan pada akar kata yang mengakibatkan perubahan makna atau pemakaian
  27. aglutinasi peleburan bunyi bahasa yang berdampingan
  28. agnatus hubungan antarkalimat yang mengandung unsur leksikal utama yang sama dengan struktur yang berbeda (misalnya dengan partikel-partikel yang berbeda, urutan yang berbeda dan sebagainya), tetapi teratur dan sistematis (terdapat pada klausa aktif dan pasif)
  29. agnosia hilangnya kemampuan untuk memahami informasi indra
  30. agramatisme ketidakmampuan untuk memahami atau mengungkapkan ujaran gramatikal karena cacat psikologis atau sebab lain
  31. akar unsur yang menjadi dasar pembentukan kata (seperti graf pada grafik, biografi, spektrograf)
  32. akar kata bagian kata yang menjadi dasar arti kata lain yang dibentuk dari kata tersebut
  33. akhiran sufiks
  34. akrofoni penggunaan lambang huruf yang berasal dari bagian awal sebuah suku kata atau kata
  35. akrolek variasi bahasa yang dianggap berprestise tinggi
  36. akronim singkatan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar (misalnya ponsel telepon seluler, sembako sembilan bahan pokok)
  37. akronimi pemendekan yang menggabungkan huruf, suku kata, atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai sebuah kata yang memenuhi kaidah fonotaktik suatu bahasa, misalnya FKIP dibaca efkip atau ABRI dibaca abri
  38. aksara sistem tanda grafis yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dan sedikit banyak mewakili ujaran
  39. aksara jenis sistem tanda grafis tertentu, misalnya aksara Pallawa, aksara Inka
  40. aksara huruf
  41. aksen tekanan suara pada kata atau suku kata
  42. aksentologi telaah sistematis tentang tekanan
  43. aksentuasi pemberian tekanan suara pada suku kata atau kata
  44. akulturasi proses atau hasil pertemuan kebudayaan atau bahasa di antara anggota dua masyarakat bahasa, ditandai oleh peminjaman atau bilingualisme
  45. akusatif kasus yang menunjukkan fungsi sebagai objek langsung atau objek berpreposisi dalam kalimat
  46. alalia ketidakmampuan untuk berbicara karena kelainan atau kerusakan pada alat ucap luar, bukan pada pusat saraf
  47. alat ucap organ tubuh manusia yang berfungsi dalam pengujaran bunyi bahasa, seperti paru-paru, laring, faring, rongga hidung, rongga mulut, bibir, gigi, lidah, alveolum, palatum, dan velum
  48. alih kode penggunaan bahasa lain atau variasi bahasa lain untuk menyesuaikan diri dengan peran atau situasi lain atau karena adanya partisipan lain
  49. alofon varian fonem berdasarkan posisi di dalam kata, misalnya fonem pertama pada kita dan kata secara fonetis berbeda, tetapi masing-masing adalah alofon dari fonem /k/
  50. alokron variasi panjang pendeknya bunyi bahasa yang tidak distingtif; anggota dari kronem
  51. aloleks anggota leksem yang telah ditentukan distribusinya
  52. alomorf anggota morfem yang sama, yang variasi bentuknya disebabkan oleh pengaruh lingkungan yang dimasukinya (misalnya morfem ber- mempunyai alomorf ber-, be-, dan bel-)
  53. alveolar berkaitan dengan pembentukan bunyi dengan mendekatkan atau menempelkan ujung atau daun lidah pada pangkal gigi
  54. alveolar bunyi (konsonan) yang dibuat dengan cara demikian
  55. amanat keseluruhan makna atau isi pembicaraan; konsep dan perasaan yang disampaikan pembicara untuk dimengerti dan diterima pendengar atau pembaca
  56. ambiguitas kemungkinan adanya makna lebih dari satu dalam sebuah kata, gabungan kata, atau kalimat; ketaksaan
  57. ameliorasi peningkatan nilai makna dari makna yang biasa atau buruk menjadi makna yang baik
  58. amlaut gejala linguistik ketika sebuah vokal belakang berubah menjadi vokal depan
  59. amplifikasi sarana dalam bahasa yang digunakan untuk memperluas, memperbesar, atau memberi tekanan pada suatu objek
  60. amplitudo jarak antara puncak gelombang bunyi dan titik rata-rata
  61. anafora pengulangan bunyi, kata, atau struktur sintaktis pada larik-larik atau kalimat-kalimat yang berturutan untuk memperoleh efek tertentu
  62. anafora hal atau fungsi merujuk kembali pada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana (yang disebut anteseden) dengan substitusi, misalnya -nya dalam Pak Karta rumahnya terbakar, kata -nya menunjuk kepada Pak Karta
  63. anak kalimat bagian kalimat (klausa) yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai kalimat lengkap; klausa terikat
  64. anakoluton pemakaian kalimat yang sengaja menyimpang dari pola yang umum
  65. analisis bahasa analisis yang dilakukan oleh peneliti atau pakar bahasa dalam menggarap data kebahasaan yang diperoleh dari penelitian lapangan atau dari pengumpulan teks (penelitian kepustakaan)
  66. analisis komponen analisis untuk menguraikan sebuah unsur atas bagian-bagian yang lebih kecil
  67. analisis komponen makna analisis yang digunakan untuk penyelidikan makna dengan memecah leksem atas komponen
  68. analisis terminologis studi tentang konsep dan jejaring terminologis dalam ilmu terminologi
  69. analisis wacana metode menguraikan wacana atas bagian-bagian yang berfungsi
  70. analogi kesepadanan antara bentuk bahasa yang menjadi dasar terjadinya bentuk lain
  71. ananim nama yang ditulis dari belakang
  72. anaptiksis penyisipan vokal pendek di antara dua konsonan atau lebih untuk menyederhanakan struktur suku kata
  73. anggota kalimat kata atau kelompok kata yang menjadi bagian kalimat
  74. anomali penyimpangan atau kelainan, dipandang dari sudut konvensi gramatikal atau semantis suatu bahasa
  75. anteseden informasi dalam ingatan atau konteks yang ditunjukkan oleh suatu ungkapan, misalnya dalam kalimat anaknya berapa?, bentuk -nya menunjuk anteseden tertentu
  76. anteseden unsur terdahulu yang ditunjuk oleh ungkapan dalam suatu klausa atau kalimat, misalnya “Ani cantik, tetapi kelakuannya jelek”, bentuk -nya menunjuk anteseden Ani
  77. antisipasi perubahan bunyi oleh alat ucap yang menyediakan posisi yang diperlukan untuk menghasilkan bunyi berikutnya
  78. antonim kata yang berlawanan makna dengan kata lain
  79. antonim leksem yang berpasangan secara antonimi
  80. antonimi oposisi makna dalam pasangan leksikal yang dapat dijenjangkan, misalnya dalam tinggi dan rendah; keantoniman
  81. anunasika anuswara
  82. anuswara bunyi sengau atau konsonan nasal
  83. apelativa penyebutan sesuatu berdasarkan penemu, pabrik pembuatnya, atau nama dalam sejarah, misalnya penyebutan laksamana yang tadinya nama tokoh, nama ikan mujair berdasarkan penemunya, skala Richter, dan sebagainya
  84. apikal berkenaan dengan ujung lidah
  85. apikal bunyi atau fonem yang terjadi karena penyempitan antara ujung lidah dan gigi atas atau alveolum, misalnya bunyi pertama pada kata datang, lari
  86. apikoalveolar berkaitan dengan bunyi ujar yang terjadi karena penyempitan jalan udara akibat dorsum yang dilekatkan pada velum
  87. apokope hilangnya satu bunyi atau lebih pada akhir sebuah kata
  88. aposiopesis penghentian pikiran yang belum lengkap secara tiba-tiba (dapat berupa penghentian kata atau frasa, pemutusan kalimat)
  89. aposisi ungkapan yang berfungsi menambah atau menjelaskan ungkapan sebelumnya dalam kalimat yang bersangkutan
  90. aptronim nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang, mis. si Cebol, si Gendut
  91. area wilayah geografis yang memiliki ciri-ciri tipologi bahasa yang bersamaan, seperti ciri-ciri lafal, leksikal, atau gramatikal
  92. argot bahasa dan perbendaharaan kata yang bersifat rahasia dari suatu kelompok orang, misalnya bahasa para pencopet
  93. argumen nomina atau frasa nominal yang bersama-sama predikator membentuk proposisi
  94. argumentasi teks yang berisi opini penulis yang disertai alasan dan pembuktian yang didukung oleh fakta, disampaikan secara logis dan objektif, bertujuan untuk meyakinkan dan memengaruhi pembaca
  95. arkaisme pemakaian kata atau bentuk kata yang bersifat arkais
  96. arkifonem golongan fonem yang kehilangan kontras pada posisi tertentu
  97. arkileksem leksem yang menetralisasi oposisi antara ciri-ciri makna beberapa leksem
  98. artikel unsur yang dipakai untuk membatasi atau memodifikasi nomina, misalnya the dalam bahasa Inggris
  99. artikula kata yang tidak memiliki arti, berfungsi untuk membatasi atau memodifikasi nomina; artikel
  100. artikulasi lafal, pengucapan kata
  101. artikulasi perubahan rongga dan ruang dalam saluran suara untuk menghasilkan bunyi bahasa
  102. artikulator bagian alat ucap yang dapat bergerak, misalnya bagian lidah dan bibir bawah
  103. arunika seberkas cahaya matahari setelah terbit di pagi hari
  104. arunika pemandangan saat matahari terbit
  105. asibilan bunyi afrikat yang dihasilkan pada gigi
  106. asibilasi proses terjadinya konsonan plosif menjadi konsonan sibilan karena asimilasi
  107. asidenton penghilangan konjungsi dalam frasa, klausa, atau kalimat, misalnya "kita lihat, kita datang, kita menang"
  108. asilabis tidak dapat membentuk suku kata atau tidak dapat menjadi inti suku kata (tentang bunyi bahasa)
  109. asimilasi perubahan bunyi konsonan akibat pengaruh konsonan yang berdekatan
  110. asimilasi fonemis asimilasi
  111. asimilasi jauh asimilasi yang terjadi antara fonem yang letaknya tidak berdekatan
  112. asimilasi morfologis perubahan dalam jumlah, jenis, atau kasus dari sebuah kata karena pengaruh kata lain yang di dekatnya
  113. asimilasi progresif proses perubahan suatu bunyi menjadi mirip dengan bunyi yang mendahuluinya
  114. asimilasi regresif proses perubahan bunyi menjadi mirip dengan bunyi yang mengikutinya
  115. asimilasi resiprokal proses perubahan dua fonem yang berurutan, yang menyebabkan kedua fonem itu menjadi fonem yang lain dari semula
  116. asindeton penghilangan konjungsi dalam frasa, klausa, atau kalimat, misalnya dia tidak datang, dia sibuk bekerja
  117. aspek kategori gramatikal verba yang menunjukkan lama dan jenis perbuatan
  118. aspek augmentatif aspek yang menggambarkan perbuatan meningkat
  119. aspek diminutif aspek yang menggambarkan perbuatan menurun
  120. aspek frekuentatif aspek yang menggambarkan perbuatan berulang berkali-kali (kekerapannya)
  121. aspek habituatif aspek yang menggambarkan perbuatan yang menjadi kebiasaan
  122. aspek imperfektif aspek inkompletif
  123. aspek inkoatif aspek yang menggambarkan perbuatan mulai
  124. aspek inkompletif aspek yang menggambarkan perbuatan belum selesai
  125. aspek inseptif aspek inkoatif
  126. aspek kompletif aspek yang menggambarkan perbuatan selesai
  127. aspek kontinuatif aspek yang menggambarkan perbuatan berlangsung
  128. aspek momentan aspek yang menggambarkan perbuatan berlangsung sebentar
  129. aspek perfektif aspek kompletif
  130. aspek permansif aspek yang menggambarkan keadaan permanen sebagai akibat dari perbuatan yang selesai
  131. aspek progresif aspek kontinuatif
  132. aspek pungtiliar aspek yang menggambarkan perbuatan dipandang sebagai satuan temporal tunggal
  133. aspek repetitif aspek yang menggambarkan perbuatan berulang
  134. aspek sesatif aspek yang menggambarkan perbuatan berakhir
  135. aspek simulfaktif aspek yang menggambarkan perbuatan berlangsung serentak
  136. aspirasi artikulasi konsonan hambat yang disertai letupan napas yang cukup keras sehingga dapat didengar
  137. aspirat bunyi bahasa yang dihasilkan dengan pergeseran dalam rongga (seperti bunyi [h])
  138. atlas dialek perangkat peta yang menggambarkan distribusi ciri-ciri dialek
  139. atribut penjelas
  140. atribut adjektiva yang menerangkan nomina dalam frasa nominal
  141. atribut kata berkelas tertentu yang mempunyai fungsi menerangkan nomina dalam frasa nominal, misalnya sekarang dalam pemuda sekarang
  142. atribut kategori variabel kualitatif (seperti laki-laki atau perempuan menunjukkan jenis kelamin)
  143. augmentatif bentuk kata yang terjadi dengan penambahan afiks yang bermakna besar
  144. awalan imbuhan yang dirangkaikan di depan kata; prefiks
  145. awasuara takbersuara
  146. bacaan penafsiran makna sebuah kalimat
  147. bahasa sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri
  148. bahasa bangsawan ragam bahasa tertentu yang dipakai oleh para bangsawan di dalam istana
  149. bahasa campuran bahasa yang terbentuk akibat pertukaran intensif unsur-unsur dari dua bahasa atau lebih, misalnya kreol
  150. bahasa ergatif bahasa yang menggunakan sufiks kasus tertentu untuk menandai pelaku dan sufiks kasus lain sebagai penanda argumen seperti penderita di dalam kalimat, misalnya bahasa Hindi
  151. bahasa etalon bahasa yang dipakai sebagai standar untuk studi kontrastif atau tipologis
  152. bahasa flektif bahasa yang kata-katanya mengalami perubahan bentuk sehubungan dengan perubahan jenis, subjek (pelaku), waktu, dan sebagainya
  153. bahasa halus ragam bahasa yang ditujukan kepada orang yang dihormati
  154. bahasa imigran bahasa ibu kelompok minoritas pendatang dalam suatu masyarakat bahasa, misalnya bahasa Hokien di Indonesia
  155. bahasa isyarat bahasa yang menggunakan isyarat (gerakan tangan, kepala, badan dan sebagainya), khusus diciptakan untuk tunarungu, tunawicara, tunanetra, dan sebagainya
  156. bahasa klasik dialek temporal bahasa yang dianggap mewakili puncak perkembangan kebudayaan pemakainya
  157. bahasa klasik bahasa kuno yang mempunyai kesusastraan tinggi
  158. bahasa oksitonis bahasa yang sebagian besar kata-katanya memiliki tekanan pada suku kata terakhir
  159. bahasa paroksitonis bahasa yang sebagian besar kata-katanya memiliki tekanan pada suku kata kedua dari belakang
  160. bahasa pinggiran bahasa yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan bahasa yang berdekatan yang disebabkan oleh adanya kontak budaya atau sebab lain
  161. bahasa prokem ragam bahasa dengan leksikon tertentu, biasanya digunakan oleh kaum remaja (seperti kata bokap untuk bapak, sepokat untuk sepatu, dan bokin untuk bini); bahasa sandi remaja dan kelompok tertentu
  162. bahasa purba bahasa hipotetis yang dianggap menurunkan beberapa bahasa yang nyata-nyata ada, misalnya bahasa proto-Austronesia adalah bahasa purba dari bahasa-bahasa Filipina, bahasa-bahasa Indonesia, bahasa-bahasa Polinesia
  163. bahasa sedang ragam bahasa yang dipakai untuk diri sendiri atau untuk orang lain yang sederajat dalam pembicaraan dengan orang yang lebih tinggi derajatnya atau lebih tua
  164. bahasa terbalik bahasa yang menggunakan kata-kata yang diucapkan secara terbalik dengan maksud sebagai sandi
  165. barbarisme penyimpangan dalam ucapan, tata bahasa, atau perbendaharaan kata dari ragam standar
  166. benefaktif bersangkutan dengan perbuatan (verba) yang dilakukan untuk orang lain, misalnya verba dalam kalimat Ibu membukakan Ayah pintu
  167. bentuk akrab unsur bahasa yang menyatakan keakraban para pembicara
  168. bentuk alegro kontraksi dari bentuk kata sebagaimana dipakai dalam ucapan cepat atau dalam ragam bahasa tidak resmi, misalnya pak, bu, dan sebagainya
  169. bentuk bahasa penampakan atau rupa satuan bahasa
  170. bentuk bahasa penampakan atau rupa satuan gramatikal atau leksikal dipandang secara fonis atau grafemis
  171. bentuk bebas bentuk bahasa yang dapat berdiri sendiri dan jelas maknanya
  172. bentuk dasar bentuk dari sebuah morfem yang dianggap paling umum dan paling tidak terbatas
  173. bentuk kanonis bentuk lema dasar dalam kamus, misalnya kata dasar untuk kamus bahasa Indonesia atau verba lampau berpelaku orang ketiga tunggal laki-laki untuk kamus bahasa Arab
  174. bentuk kata wujud kata tertentu yang mengisi fungsi tertentu dalam paradigma, misalnya bentuk nominatif dari nomina, bentuk lampau dari verba
  175. bentuk lento bentuk kata penuh yang berpadanan dengan bentuk ringkas yang biasa dipakai dalam ragam biasa atau ragam resmi, misalnya bapak, dahulu
  176. bentuk purba bentuk hipotetis yang dianggap menurunkan beberapa bentuk seasal dalam beberapa bahasa
  177. bentuk tegun bunyi atau kata yang diucapkan karena pembicara ragu-ragu atau sedang mencari ungkapan yang cocok, seperti e...,e..., ...apa namanya...
  178. bentuk terikat bentuk bahasa yang perlu bergabung dengan unsur lain agar dapat dipakai dengan makna yang jelas (misalnya -nya, juang)
  179. bentuk turunan bentuk yang berasal dari bentuk asal setelah mengalami berbagai proses
  180. bentuk turunan struktur sintaksis yang berasal dari kalimat inti setelah mengalami rangkaian transformasi
  181. bentuk ulang bentuk yang mengalami perulangan, seperti sia-sia, laba-laba
  182. berhierarki memiliki hubungan melalui kalimat majemuk yang tidak membentuk satuan yang bertingkat
  183. berkas isoglos gabungan isoglos yang menjadi penanda batas dialek atau bahasa
  184. berlimpap jumlah informasi yang berlebihan dari yang diperlukan dalam berkomunikasi
  185. bersuara dihasilkan dengan getaran pita suara, misalnya bunyi [b], [d], [g]
  186. bilabial dihasilkan dengan menyempitkan kedua bibir
  187. bilabial bunyi atau fonem yang terjadi karena penyempitan kedua bibir (misalnya p, b, dan m)
  188. bilingualisme penggunaan dua bahasa oleh penutur bahasa atau oleh suatu masyarakat bahasa; kedwibahasaan
  189. bilingualisme koordinat bilingualisme dengan dua sistem bahasa atau lebih yang berpisah
  190. bilingualisme majemuk bilingualisme dengan dua sistem bahasa atau lebih yang terpadu
  191. bilingualisme subordinat bilingualisme dengan dua sistem bahasa atau lebih yang terpisah, tetapi masih terdapat proses penerjemahan
  192. binomial terdiri atas dua kata atau dua unsur; gabungan yang dapat dibagi dua (mungkin lebih dari dua, misalnya terdiri atas empat unsur), misalnya gabungan seperti pulang pergi, suka duka
  193. biverbal berupa sinonim atau padanan kata (tentang definisi)
  194. brakilogi keringkasan bicara
  195. bubuhan imbuhan
  196. bunyi kesan pada pusat saraf sebagai akibat getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara
  197. bunyi ucapan apa yang tertulis (surat, huruf, dan sebagainya)
  198. bunyi geletar bunyi yang dihasilkan dengan mengartikulasikan ujung lidah pada lengkung kaki gigi, berulang-ulang sehingga lidah seakan-akan bergetar, misalnya bunyi /r/
  199. bunyi geser bunyi yang dihasilkan oleh udara yang melalui celah sempit, seperti pada waktu menyebutkan huruf f
  200. bunyi hambat bunyi bahasa yang dihasilkan dengan cara memberi hambatan pada tempat artikulasi tertentu terhadap suara yang dikeluarkan, (misalnya /p/ dan /b/ adalah bunyi hambat)
  201. bunyi letupan bunyi bahasa yang dihasilkan dengan cara jalan udara keluar mulut ditutup rapat-rapat kemudian dengan tiba-tiba udara dilepas sehingga terjadi semacam letupan, misalnya bunyi /b/, /p/, /k/, /d/; hentian
  202. bunyi pepet bunyi (pengucapan) vokal ∕ê⁄ pada kata benar, gelas, empat
  203. bunyi sengau bunyi yang dihasilkan dengan keluarnya udara melalui hidung
  204. bunyi sengau bunyi yang terjadi pada pengucapan m, n, dan ŋ
  205. cara artikulasi cara aliran udara disempitkan atau dilepaskan dalam saluran suara, dipakai untuk mengklasifikasikan bunyi bahasa atas plosif (hambat) nasal, frikatif, afrikat, lateral, getar, sentuh, semivokal, dan vokal
  206. ciri tanda atau sifat suatu bentuk kebahasaan
  207. ciri akustis ciri dengan bunyi bahasa yang berkaitan dengan tinggi nada, keras suara, dan panjang bunyi
  208. ciri ekspresif ciri akustik yang menandai sikap atau perasaan pembicara
  209. ciri ekstralinguistis ciri yang tidak menjadi perhatian utama linguistik atau yang dianggap tidak terlalu relevan bagi bahasa sebagai alat komunikasi, misalnya isyarat badan atau nada suara
  210. ciri intralinguistis ciri yang menjadi perhatian utama linguistik, misalnya ciri pembeda dari satuan fonologis atau ciri makna
  211. ciri khas bahasa ciri khas suatu bahasa pada semua subsistem yang membedakannya dari bahasa lain
  212. ciri konfigurasi ciri akustik yang menandai batas satuan gramatikal
  213. ciri korelasi ciri fonologis yang membedakan satu perangkat fonem dengan perangkat lain
  214. ciri lokal unsur lafal, gramatikal, atau leksikal yang terdapat pada dialek regional tertentu
  215. ciri melimpah ciri akustik yang menandai ciri bunyi lain tertentu yang mempunyai fungsi bahasa
  216. ciri nondistingtif ciri fonetis ujaran yang tidak dipakai untuk membedakan fonem
  217. ciri pembeda ciri yang membedakan satuan bahasa dengan satuan bahasa lain, misalnya [d] dan [t]
  218. ciri rongga ciri pembeda yang berkenaan dengan bentuk rongga mulut dan titik artikulasi
  219. ciri sekunder ciri artikulasi bunyi yang sering mengikuti ciri dasar artikulasi
  220. ciri sumber ciri pembeda yang meliputi kontras antara bersuara dan takbersuara, kasar dan lembut
  221. ciri suprasegmental ciri ujaran yang melingkupi lebih dari satu segmen ujaran atau bunyi, yaitu nada, tekanan, sendi, dan intonasi
  222. daerah artikulasi tempat artikulasi
  223. daerah pengamatan sampel wilayah tempat pengambilan data kebahasaan yang ada dalam komunitas tutur wilayah tersebut
  224. dampak perlokusi akibat atau peranan yang dicapai dalam bertutur
  225. dasar bentuk gramatikal yang menjadi asal dari suatu bentukan
  226. dasar terikat morfem terikat yang bukan afiks, yang dapat berdiri sebagai kata jika bergabung dengan morfem lain, misalnya juang, temu
  227. datif kata yang menduduki fungsi sebagai objek tidak langsung dari kata kerja (misalnya saya memberikan buku kepadanya; kepadanya adalah datif)
  228. daun lidah bagian lidah yang terletak tepat di ujung belakang
  229. daya ilokusi perbuatan yang dilakukan penutur dalam mengujarkan kalimat
  230. definisi sinonim penjelasan tentang sebuah kata atau frasa dengan sinonim
  231. defleksi hilangnya infleksi, misalnya apabila dua akhiran kasus bergabung menjadi satu
  232. defleksi terjadinya pergantian morfem inflektif oleh unsur lain
  233. defonologisasi hilangnya kontras antara beberapa fonem dalam sejarah suatu bahasa
  234. deiksis hal atau fungsi menunjuk sesuatu di luar bahasa; kata yang mengacu kepada persona, waktu, dan tempat suatu tuturan
  235. deklinasi sistem fleksi mengenai bentuk (nomina, adjektiva, pronomina, dan sebagainya) untuk menyatakan perbedaan kategori (genus atau kasus)
  236. deklinasi kuat deklinasi nomina dan adjektiva dalam bentuk tidak teratur dalam bahasa Jerman
  237. deklinasi lemah deklinasi nomina dan adjektiva dalam bentuk teratur dalam bahasa Jerman
  238. dekreolisasi proses peleburan sebuah kreol ke dalam pijin semula dan terjadi apabila kreol itu bertemu dengan pijin semula
  239. delabialisasi penghilangan labialisasi
  240. demonstrativa kata yang berfungsi untuk menunjuk atau menandai secara khusus orang atau benda, misalnya ini dan itu
  241. denasalisasi penghilangan bunyi nasal
  242. denominal berasal atau dibentuk dari nomina, misalnya kata menggembala adalah bentuk denominal dari gembala
  243. denotasi makna kata atau kelompok kata yang didasarkan atas penunjukan yang lugas pada sesuatu di luar bahasa atau yang didasarkan atas konvensi tertentu dan bersifat objektif
  244. dental berhubungan dengan gigi atas dalam proses artikulasi suatu bunyi
  245. dental terjadi karena penyempitan atau persentuhan antara (ujung) lidah dan gigi
  246. dental bunyi terbentuk dengan cara demikian
  247. depalatalisasi penghilangan bunyi palatal
  248. dependensi hubungan antara unsur-unsur gramatikal dengan salah satu sebagai penguasa dan yang lain sebagai unsur bergantung (dikuasai), misalnya frasa verba menguasai frasa nomina pada tataran klausa, vokal (inti) menguasai konsonan pada tataran suku kata
  249. dependensi mutual dependensi antara unsur-unsur bebas, misalnya antara frasa nominal dan frasa verbal dalam kalimat pondok mungil itu berharga jutaan
  250. dependensi unilateral dependensi yang terjadi antara unsur bebas dengan unsur takbebas, misalnya antara pondok dan mungil dalam pondok mungil
  251. deret hubungan antara unsur bahasa secara linear, misalnya deret fonem dalam kata; realisasi dari urutan
  252. deret konsonan dua konsonan yang berurutan dalam satu kata, setiap konsonan masuk ke dalam suku kata yang berbeda, misalnya -rt- dalam arti atau -nd- dalam indah
  253. deret vokal dua vokal yang berurutan dalam satu kata, setiap vokal masuk ke dalam suku kata berbeda dan memiliki satu embusan napas masing-masing, misalnya -oi- dalam menjagoi atau -au- dalam mau
  254. derivasi pengimbuhan afiks yang tidak bersifat infleksi pada bentuk dasar untuk membentuk kata
  255. derivasi balik pembentukan kata secara terbalik
  256. derivasi nol proses morfologis yang mengubah leksem menjadi kata tanpa penambahan atau pengurangan apa pun, misalnya leksem batu menjadi kata batu
  257. derivat kata berimbuhan; kata turunan
  258. derivatif berasal dari dasar kata (yang memperoleh imbuhan)
  259. desibel satuan untuk menyatakan intensitas bunyi relatif pada skala dari 0 untuk rata-rata bunyi yang dapat didengar sampai 130 untuk rata-rata bunyi pada ambang pendengaran tertinggi
  260. desinens afiks penanda fleksi, misalnya dalam kata Latin dominus bentuk domen adalah akarnya, u adalah vokal tematis, dan s adalah desinens
  261. deskripsi struktur penggambaran konstituen ujaran dan hubungannya dari sudut semantik, sintaksis, dan fonologi, kaidahnya terletak di sebelah kiri kaidah transformasi
  262. deskripsi struktur masukan yang memungkinkan terjadinya suatu transformasi
  263. determinator partikel yang ada di lingkungan nomina (di depan atau di belakang) dan membatasi maknanya, misalnya si, itu, -nya, dan -mu
  264. deverbal berasal atau dibentuk dari verba, misalnya kata penyuruh adalah bentuk deverbal dari menyuruh
  265. diafon satuan fonologis abstrak yang dirumuskan untuk menandai kesepadanan antara sistem bunyi dari dialek yang berbeda, misalnya dalam bahasa Melayu diafon //a// yang direalisasikan dalam dialek Melayu Riau [rupe] dan dalam dialek lain [rupa], [rupe], dan sebagainya
  266. diagram pencabangan diagram yang menunjukkan hubungan gagasan yang satu dengan gagasan yang lain secara bercabang
  267. diagram pohon diagram penjabaran suatu satuan atas konstituen secara hierarkis
  268. diakronis berkenaan dengan pendekatan terhadap bahasa dengan melihat perkembangan sepanjang waktu; bersifat historis
  269. dialek variasi bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai (misalnya bahasa dari suatu daerah tertentu, kelompok sosial tertentu, atau kurun waktu tertentu)
  270. dialektologi cabang linguistik mengenai variasi bahasa dengan memperlakukannya sebagai struktur yang utuh; ilmu tentang dialek
  271. dialektologi kota kajian pola bahasa dalam masyarakat kota modern
  272. dialektometri metode pengukuran statistik yang digunakan untuk melihat perbedaan dan persamaan unsur bahasa pada daerah pengamatan yang diteliti, bertujuan untuk menentukan status isolek
  273. dialinguistik penyelidikan mengenai jangkauan dialek dan bahasa yang dipakai dalam suatu masyarakat bahasa
  274. diamorf satuan morfologis abstrak yang dirumuskan untuk menandai kesepadanan antara satuan morfologis di antara pelbagai dialek
  275. diasistem jaringan hubungan formal yang memperlihatkan sistem bahasa bersama yang dianggap mendasari dua dialek atau lebih, dirumuskan sebagai kerangka untuk menjelaskan perbedaan struktural
  276. diasistem fenomena dua sistem atau lebih yang bekerja secara berdampingan yang mungkin memengaruhi perkembangan sistem itu, misalnya sistem fonem yang berbeda dari dialek yang berdekatan dalam satu bahasa
  277. diatesis kategori gramatikal yang menunjukkan hubungan antara partisipan atau subjek dengan perbuatan yang dinyatakan oleh verba
  278. diatesis aktif bentuk gramatikal dari sebuah verba, dan/atau klausa, subjek gramatikalnya merupakan pelaku
  279. diatesis medial diatesis yang menunjukkan pelaku berbuat untuk dirinya sendiri
  280. diatesis pasif diatesis yang menunjukkan bahwa subjek adalah tujuan dari perbuatan, misalnya ia bercukur
  281. diatesis reflektif diatesis yang menunjukkan subjek sebagai pelaku tindakan atas dirinya sendiri
  282. diatesis resiprokal diatesis yang menunjukkan subjek pluralis bertindak berbalasan atau subjek singularis bertindak berbalasan dengan komplemen, misalnya mereka berpukul-pukulan atau ia berpukul-pukulan dengan temannya
  283. diatipe ragam bahasa
  284. diatopik penyelidikan mengenai variasi bahasa dalam dimensi ruang dan dimensi sosial
  285. diferensial semantis alat yang dikembangkan oleh para ahli psikologi untuk mengukur makna yang diberikan oleh seorang informan kepada sebuah kata, misalnya si informan mendengar kata musik dan kemudian mencatat tanggapannya pada perangsang ini dengan memilih satu di antara adjektiva yang berlawanan, seperti gembira-sedih, keras-lembut, cepat-lambat
  286. diftong bunyi vokal rangkap yang tergolong dalam satu suku kata (seperti ai dalam kata rantai, au dalam kata imbau)
  287. diftong lebar diftong yang terjadi dengan perubahan letak lidah yang agak banyak, misalnya ai pada lantai
  288. diftong naik diftong yang bagian paling nyaringnya terdapat sesudah peluncurnya
  289. diftong sempit diftong yang terjadi dengan sedikit perubahan letak lidah, misalnya ei pada survei
  290. diftong turun diftong yang bagian paling nyaringnya terdapat sebelum peluncurnya, misalnya au pada harimau
  291. difusi pengaruh migrasi dan pengalihan pranata budaya melewati batas-batas bahasa, khususnya inovasi dan peminjaman
  292. difusi leksikal perubahan bahasa yang berangsur-angsur akibat proses perubahan kata
  293. diglosia situasi kebahasaan dengan pembagian fungsional atas variasi bahasa atau bahasa yang ada dalam masyarakat (misalnya ragam atau bahasa A untuk suasana resmi di kantor dan ragam atau bahasa B untuk suasana intim di rumah)
  294. digraf dua huruf yang melambangkan satu fonem (seperti kh dalam kata makhluk, ng dalam kata singa, ny dalam kata nyata)
  295. diksi pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan)
  296. diminutif berhubungan dengan bentuk kata dengan makna kecil, biasanya dengan penambahan sebuah sufiks, misalnya dalam bahasa Belanda tje dalam Marietje adalah sufiks diminutif
  297. dinamisme komunikatif teori yang menganggap ujaran sebagai proses yang mengungkapkan makna secara bertahap melalui sumbangan dinamis dari bagian ujaran ke arah efek komunikasif secara menyeluruh
  298. diptotos kata yang mempunyai dua sufiks yang berbeda untuk menandai kasus yang ada, misalnya dalam bahasa Arab makkatu ‘Makkah’ adalah diptotos karena makkatu merupakan bentuk nominatif dan makkata merupakan bentuk genetif dan akusatif
  299. disastria cacat wicara karena kelainan pusat saraf
  300. disfonia cacat dalam pengucapan suara
  301. disilabik terjadi dari dua suku kata; disilabis
  302. disilabis disilabik
  303. disimilasi proses yang mengakibatkan dua hal yang sama menjadi tidak sama, misalnya pasangan bunyi r dan r dihindarkan dan menjadi l dan r, seperti kata belajar (dari berajar), telantar (dari terantar)
  304. disimilasi dekat disimilasi yang terjadi atas bunyi yang dekat
  305. disjungsi hubungan antara bagian konstruksi yang dipisahkan oleh atau dan tetapi dan menunjukkan kontras atau asosiasi, misalnya mereka miskin, tetapi selalu gembira
  306. disjungtif konjungsi seperti atau dan tetapi
  307. disjungtif konstruksi yang mengandung disjungsi
  308. dislalia cacat wicara karena adanya cacat pada alat ucap dan bukan karena cacat di dalam pusat saraf
  309. disleksia gangguan pada penglihatan dan pendengaran yang disebabkan oleh kelainan saraf pada otak sehingga anak sulit membaca
  310. dislokasi pemindahan unsur kalimat ke awal (sebagai topik) atau ke akhir kalimat (sebagai penegasan)
  311. dislokasi kanan pemindahan unsur kalimat tertentu ke sebelah kanan, yakni ke akhir kalimat, dengan meninggal jejak di tempat semula
  312. dislokasi kiri pemindahan unsur kalimat tertentu ke sebelah kiri, yakni ke awal kalimat, dengan meninggalkan jejak di tempat semula berupa pronomina
  313. disonansi kombinasi bunyi yang dianggap kurang enak didengar
  314. disprosodia gangguan fungsi prosodis pada pengucapan, meliputi intonasi, irama, dan lain-lain
  315. disritmia kelainan denyut jantung yang meliputi gangguan frekuensi atau irama atau keduanya
  316. distingtif bersifat membedakan antara satuan bahasa
  317. distribusi semua posisi yang ditempati oleh unsur bahasa
  318. distribusi persebaran benda dalam suatu wilayah geografi tertentu
  319. distribusi komplementer dua varian dalam lingkungan tertentu yang saling melengkapi, misalnya alofon [k] dan [ķ] yang menjadi anggota fonem /k/ disebut berdistribusi komplementer karena [ķ] hanya muncul di depan konsonan atau vokal belakang, misalnya dalam [kota], sedangkan [ķ] hanya muncul di depan vokal depan, misalnya dalam [ķ]
  320. ditransitif verba yang menghendaki dua objek gramatikal, satu objek langsung dan satu objek taklangsung
  321. divergensi proses terpecahbelahnya suatu bahasa menjadi beberapa dialek karena tiadanya fasilitas pendidikan yang standar dan kurang cukupnya komunikasi
  322. domain semantik ranah semantik
  323. dominasi hal tergantungnya suatu konstituen sintaktis pada simpai di atasnya
  324. dorsal bunyi yang terjadi karena penyempitan punggung lidah dan langit-langit keras atau langit-langit lembut
  325. dorsopalatal bunyi ujar yang terjadi karena belakang lidah mendekati atau menempel pada langit-langit keras
  326. dorsovelar bunyi ujar yang terjadi karena punggung lidah mendekati velum
  327. dualis kategori gramatikal jumlah kata untuk menunjukkan dua hal atau benda yang dipertentangkan dengan singularis dan pluralis
  328. dualisme semantis teori dalam semantik yang menganggap adanya hubungan timbal balik antara lambang (unsur bahasa) dan objek atau konsep yang ditunjuknya
  329. durasi lamanya suatu bunyi diartikulasikan
  330. duratif bersifat durasi; berhubungan dengan durasi
  331. dwilingga salin suara pengulangan kata penuh dengan variasi vokal
  332. dwipurwa wisasena lingga pengulangan suku kata pertama dan penambahan akhiran -an, misalnya rasa menjadi rerasan 'saling membicarakan'
  333. dwiwasana pengulangan sebagian suku kata terakhir, misalnya cengis menjadi cengingis 'meringis-ringis'
  334. egresif dihasilkan dengan aliran udara bergerak ke luar dari alat ucap
  335. ejaan etimologis ejaan kata yang menekankan segi historisnya dengan mempertahankan unsur yang tidak direalisasikan secara fonetis
  336. ejaan fonemis ejaan yang menggambarkan tiap fonem dalam bahasa dengan satu lambang secara konsisten, misalnya ejaan Suomi dan ejaan Turki
  337. ejaan fonetis ejaan yang menggambarkan tiap varian fonem atau bunyi dengan satu lambang, misalnya ejaan Melayu sistem Wilkinson
  338. ejektif ditandai oleh penutupan glotis dan penyempitan lain di atas glotis
  339. eksaminasi penentuan autentik tidaknya suatu naskah dalam arti sesuai atau tidak dengan “keinginan” penulis
  340. eksofasia hal membunyikan bahasa secara nyata
  341. eksofora hal atau fungsi menunjuk kembali pada sesuatu yang ada di luar bahasa atau pada situasi
  342. eksonim bentuk asing untuk nama geografis, misalnya Penang untuk Pulau Pinang di Malaysia
  343. eksosentris ungkapan yang maknanya tidak berasal dari makna konstituennya (dalam semantik)
  344. eksplanasi teks yang menerangkan terjadinya proses atau fenomena, dirangkai secara berurutan dalam hubungan sebab akibat, berisi informasi yang berdasarkan fakta, biasanya digunakan untuk menjelaskan fenomen alam, sosial, atau budaya
  345. eksplikatur makna tuturan yang pemahamannya kadang-kadang bergantung pada relevansinya
  346. eksposisi teks yang berisi uraian atau informasi, bertujuan untuk menyampaikan pendapat atau gagasan, disajikan dengan fakta untuk memperkuat informasi
  347. ekstensi hal-hal yang ditunjukkan oleh ungkapan
  348. ekstraposisi kata atau kelompok kata yang ditempatkan di luar kalimat, seolah-olah tidak menjadi bagian dari kalimat itu secara konstruksional, misalnya orang itu dalam orang itu, apa urusannya dengan perkara ini?
  349. ekuatif tipe ketransitifan klausa yang menyangkut partisipan dan cirinya
  350. ekuivalensi makna yang sangat berdekatan
  351. ekuivalensi dinamis kualitas terjemahan yang mengandung amanat naskah asli yang telah dialihkan sedemikian rupa dalam bahasa sasaran sehingga tanggapan dari reseptor sama dengan tanggapan reseptor terhadap amanat naskah asli
  352. elatif tingkat bandingan yang meliputi tingkat komparatif dan superlatif
  353. elektroaerometer alat untuk merekam aliran udara selama seseorang berbicara
  354. elektrokimograf alat untuk merekam perubahan aliran udara dari mulut ke hidung selama seseorang berbicara
  355. elektrolaringograf alat untuk merekam getaran selaput suara
  356. elektromiografi pengamatan dan pengukuran otot pada waktu wicara dengan menusukkan elektrode atau menempelkan plester pada pelbagai bagian alat ucap
  357. elektropalatograf alat untuk merekam proses penempelan lidah dan palatum secara berkesinambungan selama seseorang berbicara
  358. elipsis tanda berupa tiga titik yang diapit spasi (...), menggambarkan kalimat yang terputus-putus atau menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dihilangkan
  359. eliptis bersifat atau bersangkutan dengan elipsis
  360. embolalia penggunaan bentuk tegun, misalnya er, apa namanya, anu dan lain-lain
  361. endofasia hal berbicara pelan kepada diri sendiri (ketika membaca)
  362. endofora hal atau fungsi yang menunjuk kembali pada hal-hal yang ada dalam wacana, mencakup anafora dan katafora
  363. endosentris dikatakan tentang ungkapan yang maknanya berasal dari makna-makna konstituennya (dalam semantik)
  364. endosentris berfungsi secara sintaktis dengan cara yang sama dengan pemadunya yang mana saja
  365. enklisis penggabungan kata dengan kata dalam ucapan atau tulisan, misalnya kena dan apa menjadi kenapa
  366. enklitik unsur tata bahasa yang tidak berdiri sendiri, selalu bergabung dengan kata yang mendahuluinya (seperti -mu dan -nya dalam bahasa Indonesia)
  367. entri kata atau frasa dalam kamus beserta penjelasan maknanya dengan tambahan penjelasan berupa kelas kata, lafal, etimologi, contoh pemakaian, dan sebagainya
  368. entri kata kepala; lema
  369. epanalepsis pengulangan kata untuk penegasan
  370. epentesis penyisipan bunyi atau huruf ke dalam kata, terutama kata serapan, tanpa mengubah arti untuk menyesuaikan dengan pola fonologis bahasa peminjam, seperti penyisipan /e/ dalam kata kelas
  371. epifaring bagian nasal (dekat rongga hidung) pangkal kerongkongan (faring) yang terletak di atas dan di belakang langit-langit lunak
  372. ergatif berkenaan dengan ergativitas
  373. etimologi cabang ilmu bahasa yang menyelidiki asal-usul kata serta perubahan dalam bentuk dan makna
  374. etimologi rakyat pengambilalihan unsur dari bahasa lain dengan memberinya bentuk yang lebih dikenal (misalnya nama Carpentin (Belanda dan Prancis) dijadikan sekar pace)
  375. etimon bentuk yang menurunkan bentuk dalam beberapa bahasa turunan (misalnya vayeg adalah etimon dari kata Toba aek, Jawa we, Melayu air, Fiji wai)
  376. etnografi komunikasi bidang etnolinguistik atau sosiolinguistik tentang bahasa dalam hubungannya dengan semua variabel di luar bahasa
  377. fase artikulasi tahap dalam produksi bunyi bahasa, baik luncuran awal, ke kangan, maupun luncuran akhir
  378. filogeni penyelidikan tentang sejarah dan perkembangan bahasa sebagai suatu sistem
  379. filologi ilmu tentang bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis
  380. filum kelompok bahasa berkerabat yang anggotanya telah berpisah antara 50–100 abad yang lampau
  381. fleksi perubahan bentuk kata sesuai dengan perbedaan waktu, jenis kelamin, jumlah, dan sebagainya, misalnya terdapat pada bahasa Inggris dan Jerman
  382. fleksi proses atau hasil penambahan afiks pada dasar atau pada akar untuk membatasi makna gramatikalnya
  383. fokus unsur yang menonjolkan suatu bagian kalimat sehingga perhatian pendengar (pembaca) tertarik pada bagian itu
  384. fokus ciri predikat verbal yang menentukan hubungan semantis predikat verbal itu dengan subjek, biasanya ditandai oleh afiks verbal
  385. fon bunyi ujar yang dihasilkan oleh alat ucap; bunyi bahasa
  386. fonem satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna (misalnya /h/ adalah fonem karena membedakan makna kata harus dan arus, /b/ dan /p/ adalah dua fonem yang berbeda karena bara dan para beda maknanya
  387. fonis berkenaan dengan produksi bunyi atau bunyi bahasa
  388. fonologis mengenai (berdasarkan, secara) fonologi
  389. fonotipi praktik mentranskripsikan bunyi bahasa dengan lambang-lambang fonetis
  390. forman garis horizontal yang tergambar pada spektogram yang ditimbulkan oleh penguatan suara dari pelbagai rongga dalam mulut dan tenggorok
  391. formatif morfem terikat, baik yang dipakai untuk membentuk dasar, misalnya juang dalam berjuang, maupun morfem derivatif dan inflektif
  392. frasa gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif (misalnya gunung tinggi disebut frasa karena merupakan konstruksi nonpredikatif)
  393. frekuensi jumlah pemakaian suatu unsur bahasa dalam suatu teks atau rekaman
  394. frekuensi jumlah getaran gelombang suara per detik
  395. frikatif bunyi yang dihasilkan jika udara menggeser alat ucap, (misalnya bunyi f)
  396. fungsi peran sebuah unsur bahasa dalam satuan sintaksis yang lebih luas (seperti nomina berfungsi sebagai subjek)
  397. fungsi ekspresif penggunaan bahasa untuk menampakkan hal ihwal yang bersangkutan dengan pribadi pembicara
  398. fungsi fatis penggunaan bahasa untuk mengadakan atau memelihara kontak antara pembicara dan pendengar
  399. fungsi ideasional fungsi untuk mengungkapkan hal yang berkenaan dengan interpretasi dan representasi pengalaman
  400. fungsi interpersonal fungsi untuk mengungkapkan hal yang berkenaan dengan interaksi antara penutur/penulis dan pendengar/pembaca
  401. fungsi kognitif penggunaan bahasa untuk penalaran akal
  402. fungsi komunikatif penggunaan bahasa untuk penyampaian informasi antara pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca)
  403. fungsi tekstual fungsi untuk mengungkapkan hal yang berkenaan dengan cara penciptaan teks dalam konteks
  404. fungsionalisme gerakan linguistik yang beranggapan bahwa struktur fonologis, gramatikal, dan semantis ditentukan oleh fungsi yang dijalankan dalam masyarakat, dan bahwa bahasa itu sendiri mempunyai fungsi yang beraneka ragam
  405. futur kala nanti; masa depan
  406. garis isosintagmis isoglos pada peta bahasa yang membatasi wilayah dengan ciri-ciri sintaksis yang serupa
  407. garis isotonis isoglos pada peta bahasa yang membatasi wilayah dengan ciri tona yang serupa
  408. garis watas kata isoglos
  409. gatra lingkungan tertentu dalam kalimat yang dapat ditempati oleh suatu unsur bahasa
  410. gaya bahasa pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis; lagak bahasa
  411. gaya bahasa penggunaan ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu
  412. gaya bahasa keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra
  413. gaya bahasa cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan
  414. gaya bustrofedon gaya menulis aksara berganti-ganti dari kanan ke kiri dan dari kiri ke kanan dan sebagainya, pernah digunakan dalam menuliskan aksara Yunani pada abad ke-6 SM
  415. geminat proses duplikasi konsonan dalam sebuah kata
  416. generatif bersifat menerangkan (tentang tata bahasa) dengan kaidah-kaidah yang merupakan pemerian struktur tentang kalimat yang terdapat di dalam sebuah bahasa
  417. genitif berkaitan dengan penanda hubungan kemilikan seperti dalam bahasa inflektif
  418. glosem konsep dasar dalam teori glosematik
  419. glosematik aliran yang selain berusaha memahami kaidah bahasa juga berusaha memahami pelbagai bidang sosial budaya pada umumnya (dalam konteks bahasa)
  420. glotal bunyi yang dihasilkan oleh celah pita suara (glotis) tertutup; bunyi hamzah
  421. glotalisasi artikulasi hamzah sebagai ciri sekunder dari suatu bunyi
  422. grafem satuan terkecil sebagai pembeda dalam sebuah sistem aksara
  423. grafemik penyelidikan mengenai tulisan atau huruf dalam sistem aksara
  424. grafemis bersifat (berkaitan dengan) grafem
  425. gramatika tata bahasa
  426. gramatikal sesuai dengan tata bahasa; menurut tata bahasa
  427. gugus kalimat kumpulan kalimat yang saling berkaitan karena ciri-ciri kelas, peran, atau keutuhan; paragraf
  428. gugus kata gabungan kata yang terdiri atas tiga kata atau lebih yang sering digunakan dalam laras bahasa tertentu
  429. gugus konsonan dua konsonan atau lebih yang berurutan dalam satu suku kata, misalnya pr- dalam prakata
  430. haplografi penghilangan satu atau dua huruf yang bersamaan dan berurutan dalam tulisan
  431. haplologi penghilangan satu atau dua bunyi secara bersamaan yang berurutan, misalnya morfofonologi menjadi morfonologi
  432. hentian bunyi konsonan yang dihasilkan dengan sepenuhnya menghambat udara dalam mulut (p, t, k, b, d, g)
  433. heterograf satu dari dua kata atau lebih yang maknanya sama, tetapi ejaannya berbeda
  434. heterografi sistem ejaan yang menggambarkan kata-kata yang bermakna dan/atau lafal yang sama dengan huruf yang berlainan
  435. heteroklitus nomina yang mempunyai lebih dari satu bentuk pangkal dalam deklinasinya
  436. heteronim salah satu dari dua kata atau lebih yang dieja sama, tetapi bermakna lain
  437. heteronimi hubungan antara heteronim-heteronim
  438. heuristis bersangkutan dengan prosedur analitis yang dimulai dengan perkiraan yang tepat dan mengecek ulang sebelum memberi kepastian
  439. hiatus peralihan di antara dua monoftong yang berdampingan, membentuk dua suku berurutan tanpa jeda atau konsonan antara
  440. hibrida kata kompleks yang bagian-bagiannya berasal dari bahasa berbeda, seperti dwifungsi
  441. hierarki fonologis hubungan antara satuan fonologi, yang satu merupakan bagian dari yang lain yang lebih besar
  442. hierarki gramatikal hubungan antara satuan gramatikal, yang satu merupakan bagian dari yang lebih besar
  443. hiperkelas perangkat kata yang kelasnya berlainan, tetapi secara sintaktis mempunyai perilaku yang sama
  444. hiponim kata yang memiliki makna lebih sempit dan terliput dalam makna dari satu kata yang lebih umum, misalnya kucing, anjing, kambing disebut hiponim dari hewan
  445. hipotaksis hubungan gramatikal antara klausa utama dan klausa terikat
  446. hipotaksis penggabungan kalimat dengan kalimat, klausa dengan klausa, frasa dengan frasa, atau kata dengan kata, dengan menggunakan kata penghubung
  447. holofrasis kata dengan makna yang mewakili makna seluruh kalimat
  448. homofon kata yang sama lafalnya dengan kata lain, tetapi berbeda ejaan dan maknanya (seperti masa dan massa, sangsi dan sanksi)
  449. homofoni hubungan antara homofon
  450. homograf kata yang sama ejaannya dengan kata lain, tetapi berbeda lafal dan maknanya (seperti teras /têras/ ‘inti kayu’ dan teras /téras/ ‘bagian rumah’)
  451. homografi hubungan antara homograf
  452. homogram salah satu homograf atau lebih yang mempunyai asal-usul berlainan
  453. homonim kata yang sama lafal dan ejaannya, tetapi berbeda maknanya karena berasal dari sumber yang berlainan (seperti hak pada hak asasi manusia dan hak pada hak sepatu)
  454. homonimi hubungan antara dua kata yang ditulis dan/atau dilafalkan dengan cara sama, tetapi tidak mempunyai makna yang sama; kehomoniman
  455. homorgan sama daerah basis artikulasinya (lafal)
  456. honorifik berkenaan dengan penggunaan ungkapan penghormatan dalam bahasa untuk menyapa orang tertentu
  457. hubungan analogi tersubstitusikannya satu konstituen dengan konstituen lain dalam konstruksi penyematan
  458. hubungan asosiatif hubungan paradigmatis
  459. hubungan paradigmatis hubungan antara dua unsur pada tataran tertentu yang dapat dipertukarkan; hubungan asosiatif
  460. hubungan sintagmatis hubungan linier pada satuan tertentu di antara unsur-unsur bahasa
  461. hukum DM konstruksi bahasa Indonesia, baik dalam kata majemuk maupun dalam kalimat bahwa bagian yang menerangkan (M) selalu terletak di belakang bagian yang diterangkan (D) (misalnya rumah Ali, rumah diterangkan (D) dan Ali menerangkan (M))
  462. ideofon ungkapan yang sering tidak lazim atau tidak teratur dalam fonologi (misalnya dengan memakai lambang bunyi) dan konstruksi sintaksisnya, terutama yang mengungkapkan konotasi yang spesifik, biasanya berupa kata yang sangat khas
  463. ideogram tanda grafis yang dipakai untuk menggambarkan bagian ujaran, ada logogram dan piktogram
  464. idiolek keseluruhan ciri perseorangan dalam berbahasa
  465. idiom konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna unsurnya, misalnya kambing hitam dalam kalimat dalam peristiwa itu hansip menjadi kambing hitam, padahal mereka tidak tahu apa-apa
  466. idiom bahasa dan dialek yang khas menandai suatu bangsa, suku, kelompok, dan lain-lain
  467. idiomatologi sistem dan penyelidikan mengenai kecenderungan khusus dalam suatu bahasa, seperti frekuensi homonim dan struktur kosakata
  468. ikrab perubahan bentuk kata berkenaan dengan perbedaan, posisi, waktu, persona, dan jumlah (dalam kalimat)
  469. imbuhan bubuhan (yang berupa awalan, sisipan, akhiran) pada kata dasar untuk membentuk kata baru; afiks
  470. imperatif bentuk perintah untuk kalimat atau verba yang menyatakan larangan atau keharusan melaksanakan perbuatan
  471. impersonalia yang tidak bersubjek perorangan
  472. implikatur maksud yang terkandung dalam ucapan yang biasanya tidak dinyatakan secara langsung
  473. implosif bunyi hambat yang terjadi dengan aliran udara diisap
  474. indeks rasio antara dua unsur kebahasaan tertentu yang mungkin menjadi ukuran suatu ciri tertentu; penunjuk
  475. indikatif berhubungan dengan bentuk verba yang menggambarkan keadaan nyata
  476. induk konstituen terpenting dalam konstruksi modifikasi yang berkemampuan menempati fungsi sintaktis yang sama dengan seluruh konstruksi itu, misalnya berjalan dalam berjalan cepat
  477. induk kalimat bagian kalimat (klausa) dari kalimat majemuk bertingkat yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat yang mempunyai potensi untuk menjadi kalimat
  478. infiks morfem yang disisipkan di tengah kata; sisipan
  479. infinitif bentuk verba yang sama sekali tidak mengandung fleksi
  480. infleksi perubahan bentuk kata (dalam bahasa fleksi) yang menunjukkan berbagai hubungan gramatikal (seperti deklinasi nomina, pronomina, adjektiva, dan konjugasi verba)
  481. infleksibel hanya mempunyai satu bentuk dan tidak dapat memperoleh infleksi untuk menunjukkan kasus, jenis, jumlah, dan sebagainya
  482. informasi keseluruhan makna yang menunjang amanat yang terlihat dalam bagian-bagian amanat itu
  483. ingresif bunyi yang dihasilkan dengan aliran udara bergerak ke dalam saluran suara, misalnya bunyi ceklik
  484. inkorporasi pemaduan morfem-morfem dasar menjadi kata tunggal
  485. inovasi unsur yang mengalami pembaruan dalam bahasa modern
  486. inovasi eksternal bentuk bahasa yang terdapat dalam bahasa turunan, tetapi tidak dapat dirunut lagi pada bentuk purba yang menjadi asal bentuk bahasa tersebut
  487. inovasi internal unsur bahasa purba yang masih dipelihara dalam isolek turunan, tetapi dapat disertai perubahan fonologis
  488. instrumental nama kasus atau peran semantik suatu frasa nomina yang menyatakan atau berfungsi sebagai alat
  489. intensi perangkat atribut atau ciri yang menjelaskan sesuatu yang dapat diacu dengan kata tertentu (dibedakan dengan ekstensi)
  490. interferensi masuknya unsur serapan ke dalam bahasa lain yang bersifat melanggar kaidah gramatika bahasa yang menyerap
  491. interfiks afiks yang muncul di antara dua unsur yang membentuk kata majemuk
  492. interjeksi kata yang mengungkapkan seruan perasaan
  493. interkonsonantal muncul di antara konsonan
  494. interlud gugus konsonan yang muncul di antara vokal, misalnya mb dalam tumbuh
  495. interogatif bentuk verba atau tipe kalimat yang digunakan untuk mengungkapkan pertanyaan
  496. inti bagian konstruksi yang paling bebas atau dominan
  497. intonasi lagu kalimat
  498. intransitif tanpa objek langsung atau pelengkap penderita (tentang verba) seperti pada kata loncat, terjun, jatuh
  499. inversi pembalikan susunan bagian kalimat yang berbeda dari susunan yang lazim (misalnya ia makan roti menjadi makan roti ia)
  500. isofon isoglos pada peta bahasa yang digambarkan melingkari satu unsur fonologis tertentu
  501. isoglos garis pada peta bahasa yang menghubungkan daerah yang mewakili kelompok penutur yang menggunakan unsur bahasa (fonologi, gramatikal, dan leksikal) yang sama
  502. isokronisme ciri bahasa bertempo tekanan yang memiliki suku bertekanan dengan jarak waktu yang lebih kurang sama, dengan akibat suku tak bertekanan berkurang temponya sejalan dengan banyaknya yang terdapat di antara dua suku bertekanan
  503. isolek istilah netral yang digunakan untuk merujuk pada varian bahasa yang belum ditentukan statusnya (sebagai bahasa, dialek, subdialek, dan sebagainya)
  504. isomorf isoglos pada peta bahasa yang digambarkan melingkari satu unsur morfologis tertentu
  505. isomorfis berada dalam hubungan yang sepadan, misalnya hubungan antara episode cerita dan urutan paragraf dalam wacana tuturan
  506. isomorfisme kesamaan struktur fonologis, gramatikal, leksikal, atau semantis dua bahasa atau lebih
  507. isoplet garis yang digambarkan pada peta bahasa yang menandai, baik batas pemakaian ciri bahasa maupun ciri adat istiadat, ciri geografis, dan ciri budaya yang menjadi faktor penyatu bagi dialek atau bahasa regional
  508. isosilabisme ciri bahasa bertempo suku kata dengan tiap-tiap suku kata diucapkan dalam waktu yang lebih kurang sama, baik dalam ujaran cepat maupun dalam ujaran lambat
  509. istilah kekerabatan kata atau frasa yang mengungkapkan anggota suatu kelompok yang secara biologis berhubungan (berkerabat), misalnya kata ayah, abang, ipar, mertua
  510. isyarat akustis isyarat yang dapat ditangkap untuk membedakan segmen bunyi, misalnya saat awal bunyi
  511. jamak bentuk kata yang menyatakan lebih dari satu atau banyak
  512. jeda hentian sebentar dalam ujaran (sering terjadi di depan unsur kalimat yang mempunyai isi informasi yang tinggi atau kemungkinan yang rendah)
  513. jenis klasifikasi kata yang kadang-kadang bersangkutan dengan kelamin, kadang-kadang tidak; gender
  514. jenis kata kategori kata atau kelas kata (misalnya kata benda, kata kerja)
  515. kadensa naik turunnya nada, kelantangan atau tekanan pada akhir kalimat atau di depan jeda dalam pola intonasi
  516. kaidah Behaghel kedua prinsip bahwa unsur kalimat yang menjadi pokok pembicaraan cenderung untuk ditempatkan di depan dan tekanannya dilemahkan dalam intonasi atau dijadikan pronomina, sedangkan apa yang dibicarakan tentang pokok itu cenderung untuk ditempatkan pada akhir kalimat dan ditonjolkan dalam intonasi
  517. kaidah Behaghel pertama prinsip dalam pengelompokan kata bahwa apa yang secara mental berkelompok akan dikelompokkan secara sintaktis
  518. kaidah fonologi kaidah dalam ilmu tata bunyi
  519. kaidah konstruksi kaidah penyusunan bentuk bahasa yang lebih besar
  520. kakografi ejaan yang menyimpang dari ejaan yang berlaku
  521. kakologi bahasa yang menyimpang dari norma ucapan atau bahasa yang berlaku
  522. kakuminal bunyi yang terjadi karena penyempitan antara ujung lidah yang berkeluk dan alveolum
  523. kakuminal bunyi yang terjadi demikian, misalnya bunyi /t/ dalam bahasa Jawa thuthuk ‘pukul’; retrofleks
  524. kala perbedaan bentuk verba untuk menyatakan perbedaan waktu
  525. kalimat satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa
  526. kalimat aktif kalimat yang subjeknya melakukan perbuatan dalam predikat verbalnya
  527. kalimat bebas struktur sintaksis yang tidak memerlukan konteks tambahan untuk dapat dipahami maknanya
  528. kalimat berita kalimat yang isinya memberitakan atau menyatakan sesuatu
  529. kalimat bersusun kalimat majemuk bertingkat
  530. kalimat dasar kalimat inti yang hanya terdiri atas unsur-unsur wajib berdasarkan tipe verba predikatnya yang dihasilkan atau disusun dengan kaidah-kaidah dasar
  531. kalimat deklaratif kalimat yang ditandai intonasi turun dan pada umumnya mengandung makna yang menyatakan atau memberitahukan sesuatu, dalam ragam tulis, biasanya diberi tanda titik pada bagian akhirnya
  532. kalimat dwitransitif kalimat yang mempunyai objek dan pelengkap atau keterangan yang wajib
  533. kalimat eliptis kalimat tidak lengkap yang terjadi karena pelesapan beberapa bagian klausa tunggal
  534. kalimat inversi kalimat dengan susunan predikat mendahului subjek; kalimat susun balik
  535. kalimat kompleks kalimat majemuk bertingkat
  536. kalimat lengkap kalimat yang mempunyai segala unsur yang paling sering dipakai dalam suatu bahasa, seperti kalimat yang mengandung subjek dan predikat
  537. kalimat majemuk kalimat yang terjadi dari dua klausa atau lebih yang dipadukan menjadi satu
  538. kalimat majemuk bertingkat kalimat yang terjadi dari dua klausa atau lebih yang dipadukan menjadi satu, yang hubungan antarklausanya subordinatif; kalimat kompleks
  539. kalimat majemuk setara kalimat yang terjadi dari dua klausa atau lebih yang hubungan antarklausanya koordinatif
  540. kalimat menyimpang kalimat yang maknanya dianggap aneh atau tidak lazim oleh bahasawan
  541. kalimat minor kalimat yang dipakai secara terbatas, dapat lengkap, dapat pula tidak lengkap, seperti panggilan, judul, semboyan, pepatah, dan kalimat telegram
  542. kalimat pasif kalimat yang subjeknya merupakan tujuan dari perbuatan dalam predikat verbalnya
  543. kalimat perintah kalimat yang mengandung intonasi dan makna perintah atau larangan
  544. kalimat simpleks kalimat tunggal
  545. kalimat tanya kalimat yang mengandung intonasi dan makna pertanyaan
  546. kalimat terbelah kalimat yang terjadi karena proses tematisasi dengan menempatkan salah satu konstituen ke sebelah kiri sehingga menjadi tema
  547. kalimat tunggal kalimat yang hanya terdiri atas satu klausa
  548. kanji huruf Jepang yang mulai dipakai sekitar abad-abad pertama Masehi, tiap huruf menggambarkan kata atau morfem
  549. kanonis yang paling lazim (dikatakan tentang pola bentuk kata)
  550. kasus kategori gramatikal dari nomina, frasa nominal, pronomina, atau adjektiva yang menunjukkan hubungannya dengan kata lain dalam konstruksi sintaksis
  551. kasus hubungan antara argumen dan predikator dalam suatu proposisi (dalam teori kasus)
  552. kasus abesif kasus yang menandai makna ‘tiada, tanpa’ pada nomina atau yang sejenisnya
  553. kasus ablatif kasus yang menandai makna gerak dari, cara atau tempat pada nomina, atau yang sejenisnya
  554. kasus adhesif kasus yang menandai makna ‘tempat pada, dengan, dan seterusnya’, pada nomina atau yang sejenisnya
  555. kasus akusatif kasus yang menandai nomina atau yang sejenisnya sebagai objek langsung
  556. kasus alatif kasus yang menandai makna ‘gerak ke arah’ pada nomina atau yang sejenisnya
  557. kasus bahasa absolutif kasus bahasa ergatif
  558. kasus bahasa ergatif bentuk kasus dari subjek atau pelaku verba transitif yang subjek dari verba intransitifnya mempuyai bentuk kasus yang sama dengan objek atau penderita dari verba transitif; kasus absolutif
  559. kasus datif kasus yang menandai bahwa nomina adalah penerima suatu perbuatan atau objek taklangsung
  560. kasus elatif kasus yang menandai makna ‘dari’ pada nomina atau sejenisnya
  561. kasus ergatif bentuk kasus dari subjek atau pelaku dari verba transitifnya dalam bahasa tertentu seperti bahasa Baska, Hindi, yang subjek dari verba intransitifnya mempunyai bentuk kasus yang sama dengan objek atau penderita dari verba transitif
  562. kasus esif kasus yang menandai makna ‘keadaan yang terus-menerus’ pada nomina atau yang sejenisnya
  563. kasus genetif kasus yang menandai makna ‘milik’ pada nomina atau yang sejenisnya
  564. kasus ilatif kasus yang menandai makna ‘tempat ke’ pada nomina atau yang sejenisnya
  565. kasus inesif kasus yang menandai makna ‘dalam’ pada nomina atau sejenisnya
  566. kasus instruktif kasus yang menandai makna ‘sebagai alat’ pada nomina atau yang sejenisnya
  567. kasus instrumental kasus instruktif
  568. kasus komitatif kasus yang menandai makna ‘menyertai, dengan’ pada nomina atau yang sejenisnya
  569. kasus lokatif kasus yang menandai makna ‘tempat’ pada nomina atau sejenisnya
  570. kasus lurus istilah umum untuk kasus nominatif dan vokatif
  571. kasus miring istilah umum untuk kasus-kasus, selain kasus nominatif dan vokatif
  572. kasus nominatif kasus yang menandai nomina atau sejenisnya sebagai subjek
  573. kasus objektif kasus yang menandai nomina dan pronomina sebagai objek dari verba transitif atau preposisi
  574. kasus partitif kasus yang menandai makna ‘bagian dari’ pada nomina atau sejenisnya
  575. kasus penderita kasus datif
  576. kasus prolatif kasus yang menandai makna ‘gerak sepanjang’ pada nomina atau yang sejenisnya
  577. kasus translatif kasus yang menandai makna ‘perubahan keadaan’ pada nomina atau yang sejenisnya
  578. kasus tujuan hubungan kasus yang menandai objek atau keadaan (tujuan) sebagai akibat perbuatan atau keadaan yang dinyatakan oleh verba
  579. kasus vokatif bentuk kasus dalam bahasa inflektif untuk menandai orang atau benda yang diajak bicara
  580. kata morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas
  581. kata satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal (misalnya batu, rumah, datang) atau gabungan morfem (misalnya pejuang, pancasila, mahakuasa)
  582. kata asli kata yang berkembang dari perbendaharaan asli suatu bahasa dan bukan kata pinjaman
  583. kata bantu bilangan kata penggolong
  584. kata benda nomina
  585. kata bentukan kata turunan
  586. kata bersayap kata yang mengandung kiasan
  587. kata bersusun kata yang terdiri atas satu morfem bebas dan satu morfem terikat atau lebih
  588. kata bertimbal kata dengan dua makna yang berlawanan
  589. kata bilangan numeralia
  590. kata dasar kata-kata yang menjadi dasar bentukan kata yang lebih besar, misalnya jual menjadi dasar bentuk jualan kata jualan menjadi dasar bentukan kata berjualan
  591. kata deiktis kata yang menunjukkan tempat, waktu atau partisipan dalam ujaran dari sudut pandangan pembicara
  592. kata depan preposisi
  593. kata fonologis satuan bahasa yang bebas yang mempunyai ciri-ciri fonologis tetap, misalnya dalam bahasa Latin bercirikan tekanan yang tetap, yang secara umum dibatasi oleh kesenyapan potensial
  594. kata ganti pronomina
  595. kata ganti milik pronomina posesif
  596. kata ganti orang pronomina persona
  597. kata ganti taktentu pronomina tidak tentu
  598. kata generik kata yang maknanya mencakup semua anggota dari suatu kelas tertentu
  599. kata gramatikal satuan gramatikal yang ada di antara morfem dan frasa yang mempunyai ciri keutuhan intern dan diapit oleh jeda potensial dan yang terjadi dari morfem atau gabungan morfem
  600. kata hubung konjungsi
  601. kata jadian kata turunan; kata berimbuhan
  602. kata keadaan adjektiva
  603. kata kepala kata yang diterangkan dalam kamus atau ensiklopedia (biasanya dicetak dengan huruf tebal); bentuk dasar dari subentri; entri pokok; lema
  604. kata kerja verba
  605. kata kerja bantu verba bantu
  606. kata keterangan adverbia
  607. kata leksikal satuan bahasa yang dianggap satuan terkecil dan menjadi unsur dari leksikon suatu bahasa, dan umumnya diterangkan dalam kamus sebagai entri
  608. kata majemuk gabungan morfem dasar yang seluruhnya berstatus sebagai kata yang mempunyai pola fonologis, gramatikal, dan semantis yang khusus menurut kaidah bahasa yang bersangkutan
  609. kata morfemis satuan terkecil yang mempunyai posisi tertentu dalam kalimat
  610. kata mubazir kata yang berlebihan dalam kalimat, jika dihilangkan tidak akan mengubah makna kalimat
  611. kata nama nomina
  612. kata nama abstrak nomina abstrak
  613. kata nonreferensial kata yang tidak mempunyai acuan di luar bahasa
  614. kata ortografis satuan terkecil yang oleh bahasawan dianggap sebagai bentuk bebas dan dituliskan dengan diapit oleh spasi (mungkin bentuk ini bukan kata dipandang dari sudut lain)
  615. kata penggolong kata untuk menggolongkan nomina, biasanya mengikuti bilangan
  616. kata penghubung konjungsi
  617. kata pinjaman kata yang dipinjam dari bahasa lain dan kemudian disesuaikan dengan kaidah bahasa sendiri
  618. kata pungutan kata serapan
  619. kata sambung konjungsi
  620. kata sandang artikel
  621. kata sapaan kata yang digunakan untuk menyapa seseorang (misalnya kata Anda, Saudara, Tuan, Nyonya, Ibu, Bapak, Kakak, dan Adik)
  622. kata serapan kata yang diserap dari bahasa lain berdasarkan kaidah bahasa penerima
  623. kata seru kata atau frasa yang dipakai untuk mengawali seruan
  624. kata sifat adjektiva
  625. kata tambahan adverbia
  626. kata tanya kata yang dipakai sebagai penanda pertanyaan dalam kalimat tanya
  627. kata transisi kata penghubung antaralinea
  628. kata tugas kata yang terutama menyatakan hubungan gramatikal yang tidak dapat bergabung dengan afiks, dan tidak mengandung makna leksikal
  629. kata turunan kata yang terbentuk sebagai hasil proses afiksasi, reduplikasi, atau penggabungan
  630. kata ulang kata yang terjadi sebagai hasil reduplikasi, seperti rumah-rumah, tetamu, dag-dig-dug
  631. kata wantahan kata yang diserap dari bahasa asing dan digunakan dalam bentuk aslinya, misalnya de facto, de jure
  632. katafora pengacuan pada sesuatu yang disebut di belakang, misalnya -nya pada kalimat dng gayanya yang khas, ia mulai bicara mengacu pada ia
  633. katakana aksara silabis di Jepang yang lebih sederhana daripada aksara kanji
  634. kategori golongan satuan bahasa yang anggotanya mempunyai perilaku sintaksis dan sifat hubungan yang sama
  635. kategori gramatikal golongan satuan bahasa yang dibedakan atas bentuk, fungsi, dan makna, misalnya kelas kata atau jenis kata
  636. kategori gramatikal golongan satuan bahasa yang diungkapkan dengan morfem terikat
  637. kategori leksikal golongan satuan bahasa yang diungkapkan dengan morfem bebas
  638. kategori primer istilah lain untuk kelas kata
  639. kategori sekunder istilah lain untuk kasus, jumlah, jenis, aspek, dan sebagainya
  640. kategori semantis hasil pengelompokan unsur-unsur alam di luar bahasa dalam wujud konsep yang abstrak, yang kadang-kadang muncul dalam bahasa, kadang-kadang tidak
  641. kategori sintaksis golongan yang diperoleh suatu satuan sebagai akibat hubungan dengan kata lain dalam konstruksi sintaksis
  642. kategori sintaksis kategori gramatikal
  643. kategorisasi proses dan hasil pengelompokan unsur bahasa dan bagian pengalaman manusia yang digambarkan ke dalam kategori
  644. kategorisasi cara untuk mengungkapkan makna dengan pelbagai potensi yang ada dalam bahasa
  645. kausatif bentuk verba yang menyatakan sebab atau menjadikan (misalnya dalam kalimat para pekerja melebarkan jalan, kata melebarkan mengandung pengertian kausatif, artinya menjadikan lebar)
  646. kawan bicara peserta dalam percakapan atau situasi bahasa yang lain, yaitu pendengar dalam ragam lisan atau pembaca dalam ragam tulis
  647. kekerabatan hubungan antara dua bahasa atau lebih yang diturunkan dari sumber yang sama
  648. kelantangan intensitas penanggapan atas bunyi, tergantung dari kombinasi frekuensi dan amplitudo gelombangnya, bersifat subjektif karena tidak dapat diukur (seperti frekuensi dan amplitudo), tingkat kelantangan dapat ditandai dengan desingan desibel
  649. kelas kata kelas atau golongan (kategori) kata berdasarkan bentuk, fungsi, atau maknanya
  650. kelinieran prinsip penderetan fonem yang menggambarkan deretan fonem
  651. kemampuan bahasa kemampuan seseorang menggunakan bahasa yang memadai dilihat dari sistem bahasa
  652. kemampuan berinteraksi kemampuan seseorang untuk berinteraksi dalam suatu masyarakat bahasa, antara lain mencakupi sopan santun, memahami giliran dalam bercakap-cakap, dan mengakhiri percakapan
  653. kemampuan komunikatif kemampuan seseorang untuk mempergunakan bahasa yang secara sosial dapat diterima dan memadai
  654. kenem satuan terkecil dalam tingkat ungkapan dan tidak mempunyai makna; satuan ini bersifat kosong
  655. kenematik ilmu tentang kenem
  656. kenyaringan resonansi bunyi seperti kelantangan atau kepanjangan yang memungkinkan bunyi itu lebih menonjol daripada yang lain
  657. kepadaan deskriptif tingkat kepadaan gramatika atau teori yang berhasil memerinci data dan yang secara psikologis sahih, gramatika yang mencapai kepadaan deskriptif benar-benar mewakili kompetensi bahasawan
  658. kepadaan observasi tingkat kepadaan gramatika atau teori yang berhasil menggambarkan fakta secara eksplisit
  659. kerancuan pengacauan atau hasil penggabungan dua bentuk yang secara tidak sengaja atau tidak lazim dihubung-hubungkan
  660. kesalingan bentuk bahasa yang menunjukkan makna timbal balik atau saling
  661. kesederhanaan syarat pemerian kebahasaan yang didasarkan atas pendekatan uraian (dengan ketuntasan dan kehematan)
  662. ketakrifan hal yang bersangkutan dengan sifat nomina atau frasa nomina yang acuannya (dianggap) telah sama-sama diketahui oleh pembicara dan pendengar dalam situasi komunikasi
  663. keterampilan bahasa kecakapan seseorang untuk memakai bahasa dalam menulis, membaca, menyimak, atau berbicara
  664. keterampilan tematis kesanggupan pemakai bahasa untuk menanggapi secara betul stimulus lisan atau tulisan, menggunakan pola gramatikal dan kosakata secara tepat, menerjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain, dan sebagainya
  665. keterangan kata atau kelompok kata yang menerangkan (menentukan) kata atau bagian kalimat yang lain
  666. ketuntasan prinsip dalam analisis bahasa yang tujuannya ialah memerinci sampai habis kontras-kontras dalam suatu perangkat data, dan pada akhirnya semua kontras dalam bahasa secara keseluruhan
  667. keutuhan taraf keterikatan antara pelbagai unsur dalam struktur sintaksis atau struktur wacana
  668. khazanah fonem jumlah fonem yang dimiliki oleh suatu bahasa
  669. khazanah kata jumlah kata yang dimiliki suatu bahasa
  670. kiasmus pengulangan dan sekaligus pembalikan dua kata dalam satu kalimat
  671. klausa satuan gramatikal yang mengandung predikat dan berpotensi menjadi kalimat
  672. klausa nominal klausa subordinatif yang berfungsi sebagai nomina
  673. klik bunyi letup yang dihasilkan dengan sentuhan lidah yang tersentak dilepaskan sehingga timbullah penghirupan udara
  674. klitik bentuk yang terikat secara fonologis, tetapi berstatus kata karena dapat mengisi gatra pada tingkat frasa atau klausa, misalnya bentuk nya dalam bukunya
  675. kodifikasi pencatatan norma yang telah dihasilkan oleh pembakuan dalam bentuk buku tata bahasa, seperti pedoman lafal, pedoman ejaan, pedoman pembentukan istilah, atau kamus
  676. kognat berhubungan karena bersumber pada bahasa yang sama (tentang kata-kata dari dua bahasa atau lebih)
  677. koherensi hubungan logis antara bagian karangan atau antara kalimat dalam satu paragraf
  678. kohesi keterikatan antarunsur dalam struktur sintaksis atau struktur wacana yang ditandai antara lain dengan konjungsi, pengulangan, penyulihan, dan pelesapan, seperti dia tetap belajar meskipun sudah mengantuk
  679. kohiponim hubungan antara kata-kata khusus dari superordinat yang sama
  680. koligasi hubungan antara kategori gramatikal dari unsur leksikal di dalam struktur sintaktis
  681. koligasi kelompok unsur leksikal yang berkategori gramatikal sama dalam struktur sintaktis
  682. kolokasi asosiasi tetap antara kata dan kata lain dalam lingkungan yang sama
  683. kolokat kata yang memiliki asosiasi tetap dengan kata lain dalam lingkungan yang sama
  684. komen bagian kalimat yang memberi pernyataan tentang topik
  685. kompetensi kemampuan menguasai gramatika suatu bahasa secara abstrak atau batiniah
  686. komplemen kata atau frasa yang secara gramatikal melengkapi kata atau frasa lain; pelengkap
  687. kompositum kata majemuk
  688. konfiks afiks tunggal yang terjadi dari dua unsur yang terpisah (misalnya ke-...-an dalam kemerdekaan)
  689. konjugasi sistem perubahan bentuk verba yang berhubungan dengan jumlah, jenis kelamin, modus, dan waktu (terdapat pada bahasa fleksi); tasrif
  690. konjungsi kata atau ungkapan penghubung antarkata, antarfrasa, antarklausa, dan antarkalimat
  691. konjungsi koordinatif konjungsi yang menggabungkan kata atau klausa yang berstatus sama, misalnya dan, tetapi, atau
  692. konjungsi subordinatif konjungsi yang menghubungkan anak kalimat dan induk kalimat atau menghubungkan bagian dari kalimat subordinatif
  693. konjungtor kata sambung; penghubung; konjungsi
  694. konotasi tautan pikiran yang menimbulkan nilai rasa pada seseorang ketika berhadapan dengan sebuah kata; makna yang ditambahkan pada makna denotasi
  695. konotatif (tentang kata) mempunyai makna tautan; mengandung konotasi
  696. konsep gambaran mental dari objek, proses, atau apa pun yang ada di luar bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain
  697. konsesif (konjungsi atau klausa) yang menyatakan keadaan atau kondisi yang berlawanan dengan sesuatu yang dinyatakan dalam klausa utama
  698. konsistensi kontekstual kualitas terjemahan yang diperoleh dengan menerjemahkan ungkapan yang cocok untuk konteks tertentu dan bukannya untuk semua konteks
  699. konsonan bunyi bahasa yang dihasilkan dengan menghambat aliran udara pada salah satu tempat di saluran suara di atas glotis
  700. konsonan bunyi bahasa yang dapat berada pada tepi suku kata dan tidak sebagai inti suku kata
  701. konsonan fonem yang mewakili suatu bunyi kontoid
  702. konsonan ambisilabis konsonan yang menjadi transisi dari dua suku kata
  703. konsonan silabis konsonan yang mendukung puncak kenyaringan dalam suku kata
  704. konsonantal sifat sistem aksara yang silabis dan tidak menggambarkan vokal
  705. konstatatif ujaran yang mengandung gambaran tentang peristiwa
  706. konstituen unsur bahasa yang merupakan bagian dari satuan yang lebih besar; bagian dari atau pendukung konstruksi (misalnya pena saya, lebih tajam, daripada , dan senjata Anda adalah konstituen dari pena saya lebih tajam daripada senjata Anda)
  707. konstituen akhir komponen yang dihasilkan dalam tahap akhir dari analisis konstituen
  708. konstituen langsung komponen yang dihasilkan dalam tahap pertama dari analisis konstituen
  709. konstituen terbagi unsur tunggal yang muncul diantarai oleh unsur lain
  710. konstruksi susunan dan hubungan kata dalam kalimat atau kelompok kata
  711. konstruksi absolut frasa atau klausa yang diselipkan yang tidak mempunyai hubungan formal dengan klausa matriks
  712. konstruksi antipasif konstruksi verba transitif yang disertai objek miring (bukan objek langsung), misalnya berbicara tentang x (berlainan dengan membicarakan x yang nonantipasif karena dapat dipasifkan secara biasa)
  713. konstruksi direktif konstruksi eksosentris yang konstituennya berupa perangkai dan sumbu, misalnya di rumah, di adalah perangkai dan rumah adalah sumbu
  714. konstruksi eksosentris konstruksi yang secara keseluruhan tidak berfungsi sama dengan salah satu konstituennya, misalnya frasa preposisi di rumah
  715. konstruksi endosentris konstruksi yang secara sintaksis mempunyai fungsi yang sama dengan salah satu konstituennya, misalnya meja kayu yang berat adalah konstruksi endosentris karena seluruhnya mempunyai fungsi yang sama dengan meja
  716. konstruksi konektif konstruksi eksosentris yang terdiri atas penghubung atau kopula dan atribut
  717. konstruksi koordinatif konstruksi yang konstituennya mempunyai status yang sederajat, misalnya konstruksi yang terdiri atas dua kata, seperti makanan dan minuman, atau kalimat yang terdiri atas klausa yang digabungkan dengan dan, seperti saya datang, saya melihat, dan saya menang
  718. konstruksi modifikatif konstruksi gramatikal yang terdiri atas induk dan modifikator, misalnya majalah baru, bekerja keras, amat sangat
  719. konstruksi morfologis konstruksi formatif dalam kata
  720. konstruksi nonantipasif konstruksi verba transitif yang disertai objek langsung
  721. konstruksi predikatif konstruksi eksosentris yang terjadi dari subjek dan predikat yang membentuk klausa, misalnya mereka berbunyi
  722. konstruksi sintaktis pengelompokan satuan yang sesuai dengan kaidah sintaktis suatu bahasa, misalnya rumah makan (dan bukan makan rumah); sepeda ini (dan bukan ini sepeda)
  723. konstruksi subordinatif konstruksi endosentris dengan konstituen, yang disebut induk, yang dimodifikasikan oleh konstituen lain, misalnya dalam konstruksi enak sekali, induk enak dimodifikasikan oleh sekali
  724. kontak bahasa saling memengaruhi antara pelbagai bahasa karena para penuturnya sering bertemu
  725. kontak fatis hubungan antara pembicara dan kawan bicara yang berlangsung sangat singkat yang dinyatakan dengan perbuatan atau ungkapan yang tidak berisi informasi mendalam
  726. kontaminasi penggabungan beberapa bentuk (kata, frasa, dan sebagainya) yang menimbulkan bentuk baru yang tidak lazim
  727. konteks bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna
  728. konteks budaya keseluruhan budaya atau situasi nonlinguistis tempat sebuah komunikasi terjadi
  729. konteks linguistis konteks yang memberikan makna yang paling cocok pada unsur bahasa
  730. konteks semotaktis lingkungan semantis yang ada di sekitar suatu unsur bahasa; makna unsur bahasa
  731. konteks sintaktis lingkungan gramatikal dari suatu unsur bahasa yang menentukan kelas dan fungsi unsur tersebut
  732. konteks situasi lingkungan nonlinguistis ujaran yang merupakan alat untuk memerinci ciri-ciri situasi yang diperlukan untuk memahami makna ujaran
  733. kontekstualisme aliran yang menyelidiki makna dalam bahasa dengan metode probabilitas dan memusatkan diri pada distribusi formal bentuk bahasa, ujaran, dan hubungan antara ujaran atau wacana dan lingkungan fisik dan sosial
  734. kontoid bunyi ujar yang pada dasarnya dihasilkan oleh alat ucap dengan hambatan pada pita suara (digunakan dalam bidang fonetik yang maksudnya sama dengan konsonan dalam bidang fonemik)
  735. kontraksi proses atau hasil pemendekan suatu bentuk kebahasaan (seperti tidak menjadi tak)
  736. kontranim bentuk bahasa (kata, frasa) yang memiliki dua makna yang bertentangan, seperti kata haram yang bermakna 'suci' dan 'dilarang'
  737. kontras fonemis perbedaan antara bunyi-bunyi yang cukup untuk memungkinkannya membedakan kata, misalnya /b/ dan /p/ dalam bahasa Indonesia memperlihatkan kontras sehingga bahasawan dapat membedakan ‘bak’ dan ‘pak’
  738. kontras minimal kontras terkecil yang dimungkinkan oleh struktur fonemis suatu bahasa, misalnya mu dan bu
  739. kontur pola ciri-ciri yang terjadi dari pola nada, gerak nada dengan atau tanpa tekanan yang meliputi sebagian atau seluruh ujaran tertentu
  740. kontur intonasi pola turun-naiknya nada yang menyertai ujaran
  741. konvergensi fonemis perubahan bunyi yang mengakibatkan dinetralisasikannya dua fonem
  742. konversi pengalihan kata dari kategori gramatikal satu ke kategori gramatikal lain tanpa perubahan bentuk (seperti kata kubur dalam "Ia berziarah ke kubur ayahnya" dan "Segera kubur bangkai itu!")
  743. koordinasi penggabungan satuan gramatikal yang sederajat dengan konjungsi koordinatif
  744. kopula verba yang menghubungkan subjek dengan komplemen (misalnya kata merupakan dalam kalimat mencuri merupakan tindakan tercela)
  745. kopulatif bersifat (berfungsi) menggabungkan kata atau kalimat yang setara
  746. koreferensialitas persamaan referen antara konstituen kalimat, misalnya antara ia dan -nya dalam ia dengan senang hati meminjamkan bukunya
  747. koronal dihasilkan dengan daun lidah sebagai artikulator dan langit-langit keras sebagai titik artikulasi
  748. korpus kumpulan ujaran yang tertulis atau lisan yang digunakan untuk menyokong atau menguji hipotesis tentang struktur bahasa
  749. koteks kalimat yang mendahului dan/atau mengikuti sebuah kalimat dalam wacana
  750. krasis peleburan dua vokal atau dua diftong menjadi satu vokal panjang atau diftong karena vokal yang pertama terdapat pada akhir sebuah kata, vokal yang kedua terdapat pada awal kata yang berdekatan, misalnya dalam bahasa Latin ‘co-ago’ > ‘co:go’
  751. kreol alat komunikasi sosial dalam kontak yang singkat (misalnya dalam perdagangan)
  752. kreol ragam pijin yang sudah mempunyai penutur asli
  753. kreolisasi perubahan sebuah pijin menjadi kreol
  754. kriptografi penyelidikan tentang kode rahasia
  755. kriptogram teks yang tertulis dalam kode rahasia
  756. kronem satuan panjangnya bunyi bahasa yang distingtif
  757. kutipan pengambilalihan satu kalimat atau lebih dari karya tulisan lain untuk tujuan ilustrasi atau memperkokoh argumen dalam tulisan sendiri
  758. labial berkaitan dengan bunyi yang terjadi karena penyempitan jarak antara bibir atas dan bibir bawah, misalnya [p], [b], [f], [v]
  759. labialisasi pengucapan bunyi yang disertai pembulatan bibir
  760. labiodental berkaitan dengan bunyi ujar yang terjadi karena penyempitan jarak antara bibir bawah dan gigi atas (misalnya bunyi pertama pada kata fajar)
  761. labiovelar berkaitan dengan bunyi ujar yang terjadi karena penyempitan jarak antara bibir atas dan bibir bawah dan antara belakang lidah dan langit-langit lembut, misalnya bunyi [w]
  762. lakuran kata baru yang terbentuk dari hasil penggabungan dua kata atau lebih kata sehingga menghasilkan arti gabungan dari kata-kata pembentuknya
  763. langgam ragam bahasa menurut sikap penutur dan jenis pemakaiannya
  764. laras bahasa kesesuaian di antara bahasa dan pemakaiannya
  765. laringal bunyi bahasa yang dihasilkan dalam laring, antara lain, bunyi hamzah
  766. lateral dihasilkan dengan penutupan sebagian lidah (tentang bunyi ujar)
  767. lawan kata antonim
  768. leksem satuan leksikal dasar yang abstrak yang mendasari pelbagai bentuk kata
  769. leksem satuan terkecil dalam leksikon; lema
  770. leksikal berkaitan dengan kata
  771. leksikal berkaitan dengan leksem
  772. leksikal berkaitan dengan kosakata
  773. leksikografi cabang ilmu bahasa mengenai teknik penyusunan kamus
  774. leksikografi perihal penyusunan kamus
  775. leksikografis bersifat (secara, berdasarkan) kamus
  776. leksikon kosakata
  777. leksikon kamus yang sederhana
  778. leksikon daftar istilah dalam suatu bidang disusun menurut abjad dan dilengkapi dengan keterangannya
  779. leksikon komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemakaian kata dalam bahasa
  780. leksikon kekayaan kata yang dimiliki suatu bahasa
  781. leksikostatistik penerapan metode statistik dalam perbandingan bahasa yang memakai kosakata sebagai bahan bandingan
  782. leksis telaah leksikon
  783. leksis leksikologi
  784. lenis bunyi yang terjadi karena pernapasan lembut dan otot kendur, seperti /d/, /g/, /z/
  785. lenisi perubahan bunyi keras yang diucapkan dengan pernapasan yang lembut dan otot kendur, seperti bunyi /b/ menjadi /g/
  786. lesap hilang satu dari dua unsur atau bagian konstruksi yang koreferensial, seperti subjek anak kalimat pada sebelum pergi, dia menulis surat
  787. letupan lateral pelepasan konsonan oklusif yang memungkinkan udara keluar melalui samping lidah
  788. letupan nasal pelepasan konsonan oklusif sedemikian rupa sehingga udara keluar lewat hidung
  789. ligatur huruf tercetak atau tertulis yang merupakan gabungan dua huruf atau lebih yang berlainan
  790. likuida konsonan malaran apikoalveolar yang menyerupai vokal, yaitu [r] dan [l]
  791. linguistik deskriptif bidang linguistik yang menyelidiki sistem bahasa pada waktu tertentu
  792. linguistik deskriptif pendekatan linguistik dengan mempergunakan teknik penelitian lapangan dan tata istilah yang sesuai untuk bahasa yang diselidiki
  793. linguistik diakronis linguistik historis-komparatif
  794. linguistik forensik cabang linguistik yang berhubungan dengan konteks forensik hukum, bahasa, investigasi kejahatan, persidangan, dan prosedur peradilan
  795. linguistik historis cabang linguistik yang menyelidiki perubahan jangka pendek dan jangka panjang dalam sistem bunyi, gramatika, dan kosakata satu bahasa atau lebih
  796. linguistik historis-komparatif bidang linguistik yang menyelidiki perkembangan bahasa dari satu masa ke masa yang lain, serta menyelidiki perkembangan satu bahasa dengan bahasa lain
  797. linguistik komparatif cabang linguistik yang mempelajari kesepadanan fonologis, gramatikal, dan leksikal dari bahasa yang berkerabat atau dari periode historis satu bahasa
  798. linguistik komputasi cabang linguistik yang menggunakan teknik komputer dalam penelitian bahasa dan kesusastraan, antara lain, dengan mesin penerjemah dan sintaksis wicara
  799. linguistik sinkronis linguistik deskriptif
  800. linguistik terapan istilah umum bagi pelbagai cabang linguistik yang memanfaatkan deskripsi, metode, dan hasil penelitian linguistik untuk pelbagai keperluan praktis
  801. logogram ideogram yang dipakai untuk menggambarkan kata
  802. lokatif kasus yang menunjukkan makna tempat pada nomina atau sejenisnya
  803. lokusi gaya bicara (idiom, kata, atau frasa)
  804. majas cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakannya dengan sesuatu yang lain; kiasan
  805. makna afektif makna emotif
  806. makna denotasi makna kata atau kelompok kata yang didasarkan atas hubungan lugas antara satuan bahasa dan wujud di luar bahasa, seperti orang, benda, tempat, sifat, proses, kegiatan
  807. makna denotatif makna yang bersifat denotasi
  808. makna ekstensi makna yang mencakupi semua objek yang dapat dirujuk dengan kata itu
  809. makna emotif makna kata atau frasa yang ditautkan dengan perasaan (ditentukan oleh perasaan)
  810. makna gramatikal makna yang didasarkan atas hubungan antara unsur-unsur bahasa dalam satuan yang lebih besar, misalnya hubungan antara kata dan kata lain dalam frasa atau klausa
  811. makna intensi makna yang mencakupi semua ciri yang diperlukan untuk keterterapan suatu kata (istilah)
  812. makna khusus makna kata atau istilah yang pemakaiannya terbatas pada bidang tertentu
  813. makna kiasan makna kata atau kelompok kata yang bukan mengacu ke makna yang sebenarnya, melainkan mengiaskan sesuatu, misalnya mahkota wanita berarti ‘rambut wanita’
  814. makna kognitif aspek-aspek makna satuan bahasa yang berhubungan dengan ciri-ciri dalam alam di luar bahasa atau penalaran
  815. makna konotasi makna (nilai rasa) yang timbul karena adanya tautan pikiran antara denotasi dan pengalaman pribadi
  816. makna konotatif makna yang bersifat konotasi
  817. makna kontekstual makna yang didasarkan atas hubungan antara ujaran dan situasi pemakaian ujaran itu
  818. makna leksikal makna unsur bahasa sebagai lambang benda, peristiwa, dan sebagainya
  819. makna lokusi makna yang dimaksudkan penutur dalam perbuatan berbahasa
  820. makna luas makna ujaran yang lebih luas daripada makna pusatnya, misalnya makna sekolah dalam kalimat ia bersekolah lagi di Seskoal (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut) yang lebih luas daripada makna ‘gedung tempat belajar’
  821. makna pusat makna kata yang umumnya dapat dimengerti walaupun kata itu diberikan tanpa konteks
  822. makna referensial makna unsur bahasa yang sangat dekat hubungannya dengan dunia di luar bahasa (objek atau gagasan), dan dapat dijelaskan oleh analisis komponen; makna denotasi
  823. makna sempit makna ujaran yang lebih sempit daripada makna pusatnya
  824. makna suratan makna denotasi
  825. makna takberciri makna pusat
  826. makna tautan konotasi
  827. makna umum kata atau istilah yang pemakaiannya menjadi unsur bahasa umum
  828. malaran ciri pembeda dari bunyi yang tidak mengalami hambatan, yakni vokal dan bunyi frikatif
  829. masdar bentuk nomina yang diturunkan dari bentuk verba dengan fleksi, misalnya dari fa’ala berubah menjadi fa’lan; infinitif
  830. matronim nama yang dimiliki orang berdasarkan nama ibunya, misalnya Kaunteya berarti anak laki-laki dari Kunti (dalam cerita Mahabharata)
  831. medan makna seperangkat unsur leksikal yang memiliki makna saling berhubungan dan dapat dikelompokkan berdasarkan kesamaan ciri semantik yang dimiliki kata tersebut
  832. membendakan menjadikan (menganggap) berkelas nomina
  833. meminjam terjemah peminjaman atau pinjaman frasa dengan mempertahankan makna leksikal dan/atau makna gramatikal aslinya, tetapi dengan mengganti morfem dan fonemnya
  834. meminjam ubah peminjaman atau pinjaman kata atau frasa dari bahasa lain dengan mengubah bentuk fonologinya sehingga dikira merupakan sumber asli
  835. mentransformasikan mengubah struktur dasar menjadi struktur lahir dengan menerapkan kaidah transformasi
  836. menurunkan membentuk (kata dan sebagainya) jadian (seperti dengan awalan, akhiran, atau sisipan)
  837. menyisip memberi sisipan (seperti el, em, dan er) pada suatu kata, misalnya gigi menjadi geligi, kilau menjadi kemilau, suling menjadi seruling
  838. menyisipkan membubuhkan sisipan pada suatu kata
  839. meronim kata yang menunjukkan objek yang merupakan bagian dari objek lain, misalnya ban merupakan meronim dari roda
  840. meronimi hubungan leksikal antara objek yang merupakan bagian dari objek lain
  841. metabahasa bahasa atau perangkat lambang yang dipakai untuk menguraikan bahasa
  842. metafora pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan, misalnya tulang punggung dalam kalimat pemuda adalah tulang punggung negara
  843. metalinguistik penelitian tentang hubungan antara faktor bahasa dan faktor bukan bahasa dalam masyarakat
  844. metatesis pergantian letak bunyi (huruf) dalam sebuah kata, misalnya berantas jadi banteras, copot menjadi pocot
  845. metode sikap sekelompok sarjana terhadap bahasa atau linguistik, misalnya -- preskriptif, -- komparatif
  846. metode prinsip dan praktik pengajaran bahasa, misalnya metode langsung dan metode terjemahan
  847. metode gramatika terjemahan metode pengajaran bahasa asing yang mengutamakan pengajaran kaidah tata bahasa dengan sejumlah kata kemudian diikuti dengan latihan penerjemahan, baik dari bahasa asing itu ke dalam bahasa murid maupun sebaliknya
  848. metode komparatif metode untuk menentukan kekerabatan bahasa dengan membandingkan bentuk kata seasal yang bertujuan merekonstruksi bahasa purba
  849. metode sintetis metode pengajaran membaca dan menulis permulaan dengan menyajikan unsur satuan bahasa, kemudian menyuruh siswa menggabung-gabungkannya menjadi satuan bahasa yang bersangkutan
  850. metonimia majas yang berupa pemakaian nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang, atau hal sebagai penggantinya, misalnya ia menelaah Chairil Anwar (karyanya), olahragawan itu hanya mendapat perunggu (medali perunggu)
  851. modalitas klasifikasi pernyataan menurut hal menyungguhkan atau mengingkari kemungkinan atau keharusan
  852. modalitas cara pembicara menyatakan sikap terhadap suatu situasi dalam suatu komunikasi antarpribadi
  853. modalitas makna kemungkinan, keharusan, kenyataan, dan sebagainya yang dinyatakan dalam kalimat (dalam bahasa Indonesia dinyatakan dengan kata barangkali, harus, dan sebagainya)
  854. modus bentuk verba yang mengungkapkan suasana kejiwaan sehubungan dengan perbuatan menurut tafsiran pembicara tentang apa yang diucapkannya
  855. modus nilai yang paling besar frekuensinya dalam suatu deretan nilai
  856. modus desideratif modus yang menyatakan keinginan
  857. modus imperatif modus yang menyatakan perintah atau larangan
  858. modus indikatif modus yang menyatakan sikap objektif atau netral
  859. modus interogatif modus yang menyatakan pertanyaan
  860. modus optatif modus yang menyatakan harapan
  861. monosem kata atau frasa yang hanya mempunyai satu makna
  862. monosemantik hubungan antara ungkapan dan makna yang tetap dan tegas
  863. monosilabel kata yang terdiri atas satu suku kata
  864. monosilabisme gejala banyaknya kata yang bersuku satu dalam struktur fonologi dan morfologi suatu bahasa
  865. morf fonem atau untaian fonem yang berasosiasi dengan suatu makna
  866. morfem satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna secara relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil
  867. morfem bebas morfem yang secara potensial dapat berdiri sendiri dalam suatu bangun kalimat, misalnya saya, duduk, dan kursi
  868. morfem dasar morfem yang dapat diperluas dengan dibubuhi afiks, misalnya juang dalam berjuang
  869. morfem dasar terikat morfem dasar yang hanya dapat menjadi kata apabila bergabung dengan afiks atau dengan morfem lain, misalnya juang dan temu
  870. morfem gramatikal morfem yang jumlahnya terbatas dan berfungsi sebagai penghubung di antara morfem leksikal
  871. morfem leksikal morfem yang jumlahnya tidak terbatas dan sangat produktif (mencakupi kata penuh dan afiks derivatif)
  872. morfem penyambung unsur yang diletakkan antara dua morfem lain
  873. morfem segmental morfem yang terjadi dari fonem segmental
  874. morfem suprasegmental morfem yang terjadi dari fonem suprasegmental
  875. morfem terbagi morfem yang realisasinya dalam bentuk morfem diantari oleh unsur lain, seperti ke- -an dalam keadaan
  876. morfem terikat morfem yang tidak mempunyai potensi untuk berdiri sendiri dan yang selalu terikat dengan morfem lain untuk membentuk ujaran, misalnya ber-, meng-, dan -kan
  877. morfem unik morfem yang hanya mampu berkombinasi dengan satu satuan tertentu (misalnya morfem gulita, petas, dan siur pada kombinasi gelap gulita, beras petas, dan simpang siur)
  878. morfemik teknik penganalisisan bahasa ke dalam morfem, termasuk deskripsi mengenai bentuk dan susunannya (istilah ini digunakan di dalam kajian sinkronis, aspek kesejarahan mengenai pembentukan kata yang tercakup di dalam bidang morfologi)
  879. morfemis bersifat morfem
  880. morfofonem satuan fonologis yang terjadi dari beberapa fonem, yang muncul dalam alomorf dari morfem tertentu
  881. morfofonemik telaah tentang perubahan-perubahan fonem yang terjadi sebagai akibat pertemuan (hubungan) morfem dengan morfem lain; morfofonologi
  882. morfofonemik perubahan fonem yang terjadi sebagai akibat pertemuan (hubungan) morfem dengan morfem lain
  883. morfofonologi ilmu tentang perubahan fonem akibat pertemuan (hubungan) morfem dengan morfem lain; morfofonemik
  884. morfoleksikal berkaitan dengan morfoleksikon
  885. morfoleksikon telaah tentang satuan bunyi yang membentuk morfem
  886. morfologi cabang linguistik tentang morfem dan kombinasinya; ilmu bentuk kata
  887. morfosintaksis telaah tentang kategori gramatikal yang secara bersamaan mempertimbangkan kriteria morfologi dan sintaksis
  888. nahu tata bahasa (menyangkut tata kalimat dan tata bentuk); gramatika
  889. nahu sintaksis
  890. narasi teks yang menceritakan peristiwa atau kejadian secara detail dan kronologis, dapat berupa fiksi maupun nonfiksi, bertujuan untuk menghibur atau memberikan wawasan kepada pembacanya, biasanya ditulis dalam bentuk novel, cerita pendek, biografi dan lain-lain
  891. nasal bersangkutan dengan bunyi bahasa yang dihasilkan dengan mengeluarkan udara melalui hidung, yaitu m, n, ng, dan ny
  892. neologisme kata bentukan baru atau makna baru untuk kata lama yang dipakai dalam bahasa yang memberi ciri pribadi atau demi pengembangan kosakata
  893. netral tidak dalam kelompok jantan atau betina (tentang kata-kata)
  894. netralisasi kondisi hilangnya kontras antara dua fonem dalam lingkungan fonologis tertentu, misalnya dalam bahasa Indonesia hilangnya kontras antara /d/ dan /t/ pada posisi akhir
  895. netralisasi kondisi hilangnya kontras semantis antara beberapa unsur dalam konteks tertentu, misalnya aktor yang dapat dinetralisasi untuk menyatakan laki-laki ataupun perempuan
  896. ngoko tingkatan bahasa yang terendah dalam bahasa Jawa yang dipakai untuk berbicara dengan orang yang sudah akrab, dengan orang yang lebih rendah kedudukannya, atau dengan orang yang lebih muda
  897. nilai semantik kemampuan unsur bahasa untuk membedakan makna leksikal, misalnya fonem /r/ dan /l/ membedakan kata rata dan lata
  898. noa kata penghalus yang dipakai sebagai pengganti kata tabu, misalnya penghuni untuk menggantikan hantu
  899. nomina kelas kata yang dalam bahasa Indonesia ditandai oleh tidak dapatnya bergabung dengan kata tidak, misalnya rumah adalah nomina karena tidak mungkin dikatakan tidak rumah, biasanya dapat berfungsi sebagai subjek atau objek dari klausa
  900. nomina abstrak nomina yang biasanya berasal dari adjektiva atau verba, yang tidak menunjuk pada sebuah objek tetapi pada suatu kejadian atau pada suatu abstraksi
  901. nomina atributif nomina yang mewatasi nomina lain, misalnya hutan dalam anjing hutan
  902. nomina kolektif nomina yang menunjukkan kelompok orang, benda, atau ide
  903. nomina konkret nomina yang menunjukkan benda berwujud
  904. nomina predikatif nomina atau pronomina yang berfungsi sebagai predikat, misalnya guru dalam Simon menjadi guru, dan dia dalam itu dia
  905. nomina verbal nomina yang fungsi dan maknanya berdekatan dengan verba
  906. nominal berkaitan dengan nomina
  907. nominalisasi proses membentuk nomina dari kelas kata yang lain dengan menggunakan afiks tertentu
  908. nominalisasi proses atau hasil membentuk satuan berkelas nominal dari kata, frasa, klausa, atau kalimat berkelas lain
  909. nominatif kasus yang menandai nomina atau yang sejenisnya sebagai pokok kalimat (subjek)
  910. nominatif bentuk kata benda yang timbul sebagai subjek; bagian kata benda dari suatu predikat atau sebagai keterangan pada bagian kalimat
  911. nondistingtif tidak membedakan makna
  912. nonpredikatif tidak berkaitan dengan predikat
  913. nonsilabis (bunyi bahasa yang) tidak dapat menjadi inti suku kata, misalnya bunyi pertama dan ketiga dalam hati
  914. notasi alfabetis notasi dengan huruf
  915. notasi analfabetis notasi yang tidak menggunakan huruf, tetapi dengan lambang yang diciptakan khusus untuk keperluan tertentu
  916. notasi fonemis sistem untuk merekam fonem suatu bahasa yang ditandai dengan garis miring ganda (/.../), misalnya sang ditulis dengan /saŋ/
  917. notasi fonetis sistem untuk merekam bunyi suatu bahasa yang ditandai dengan kurung siku (--), misalnya sang ditulis dengan --
  918. numeralia multiplikatif numeralia yang menyatakan beberapa kali perbuatan terjadi, misalnya sekali, dua kali, dsb
  919. numeralia partitif numeralia yang menyatakan pecahan, misalnya setengah, sepertujuh
  920. numeralia pokok numeralia yang memberi jawaban atas pertanyaan berapa?
  921. numeralia tingkat numeralia yang memberi jawab atas pertanyaan ke berapa?
  922. objek nomina yang melengkapi verba transitif dalam klausa, misalnya teh manis dalam kalimat Kiki minum teh manis
  923. objek afektif objek langsung yang dikenai oleh perbuatan yang terdapat dalam predikat verbal, tetapi tidak merupakan hasil perbuatan itu (berlainan dengan objek efektif), misalnya buku dalam mereka membaca buku dan jalan dalam anak-anak sedang menyeberang jalan
  924. objek efektif objek langsung yang ditimbulkan sebagai hasil perbuatan yang terdapat dalam predikat verbal, misalnya rumah dalam mereka membeli rumah, sumur dalam para pekerja menggali sumur, dan nasi dalam ibunya menanak nasi
  925. objek faktitif objek efektif
  926. objek langsung nomina atau kelompok nominal yang melengkapi verba transitif dalam frasa verbal dan yang sifatnya sangat erat dengan verba tersebut, dalam beberapa bahasa tertentu ditandai dengan kasus akusatif, misalnya adik dalam kakak memukul adik adalah objek langsung
  927. objek preposisional objek yang didahului oleh preposisi yang dapat menjadi subjek dalam klausa pasif
  928. objek primer objek langsung
  929. objek sekunder objek taklangsung
  930. objek taklangsung nomina atau kelompok nominal yang menyertai verba transitif, dan merupakan bagian dari frasa verbal tersebut, misalnya kata Tuti dalam Ibu membuatkan Tuti baju
  931. obstruen bunyi
  932. obviatif persona keempat (terdapat dalam bahasa yang mempunyai bentuk khusus untuk persona ketiga) dan menunjukkan pihak lain yang berbeda daripada yang ditunjuk oleh persona ketiga, misalnya pada bahasa Icdi (Indian/Amerika)
  933. oklusi udara yang keluar dari jalan pernapasan mendapat hambatan penuh ketika suara di daerah artikulasi akan keluar
  934. oklusif bersifat oklusi (tentang konsonan)
  935. oklusif aspirat oklusif yang dilepas dengan embusan napas
  936. oklusif takberaspirat oklusif yang dilepas tanpa embusan napas
  937. oksimoron penempatan dua antonim dalam suatu hubungan sintaksis (dalam koordinasi atau subordinasi)
  938. oksiton kata yang bertekanan pada suku akhir
  939. oksitonis berkenaan dengan oksiton
  940. onomasiologi penyelidikan tentang hubungan semantis antara lambang bahasa dan hal-hal yang diartikannya, termasuk dalam hal ini penyelidikan mengenai polisemi dan sinonimi
  941. onomastika penyelidikan tentang asal-usul, bentuk, dan makna nama diri, terutama nama orang dan tempat
  942. onomatologi ilmu tentang asal dan arti nama
  943. onomatope kata tiruan bunyi, misalnya “kokok” merupakan tiruan bunyi ayam, “cicit” merupakan tiruan bunyi tikus
  944. ontogeni penyelidikan mengenai kebiasaan berbahasa seseorang sepanjang hidupnya
  945. oposisi pertentangan antara dua unsur bahasa untuk memperlihatkan perbedaan arti
  946. oposisi berarah oposisi leksikal dalam pasangan leksikal yang menyangkut gerak ke arah yang berlawanan dipandang dari titik tertentu
  947. oposisi bertahap oposisi antara fonem karena perbedaan dalam tahap kualitas
  948. oposisi bilateral oposisi antara dua fonem saja dan tidak ada dalam pasangan lain
  949. oposisi ekuipolen oposisi antara dua fonem, bukan karena perbedaan kualitas
  950. oposisi leksikal perbedaan makna dalam pasangan leksem (lawan kata)
  951. oposisi melintang oposisi antara leksem yang berlawanan arahnya dalam medan makna yang beranggotakan beberapa pasangan
  952. oposisi menyiku oposisi antara leksem yang berdekatan dalam medan makna yang beranggotakan beberapa pasangan
  953. oposisi multilateral oposisi antara dua fonem yang persamaannya muncul juga dalam fonem lain
  954. oposisi privatif oposisi antara dua fonem, yang satu mengandung suatu ciri, yang lain tidak
  955. oposisi proporsional oposisi antara dua fonem yang juga ada dalam pasangan lain
  956. oposisi taklangsung oposisi dalam suatu pasangan minimal
  957. oposisi ternetralkan oposisi antara dua fonem yang mungkin tidak terjadi dalam keadaan tertentu
  958. oposisi terpencil oposisi antara dua fonem yang tidak terdapat dalam pasangan lain
  959. optatif kata-kata yang ada hubungannya dengan penyusunan sebuah kalimat yang menyatakan harapan atau keinginan, seperti kiranya, semoga
  960. oral berkaitan dengan bunyi bahasa yang dihasilkan oleh udara yang seluruhnya melewati mulut
  961. oral bersangkutan dengan wicara lisan yang dipertentangkan dengan tulisan
  962. ortoepi lafal standar suatu bahasa
  963. pada satuan pola tekanan yang dipakai untuk mengukur struktur persajakan
  964. pada satuan fonologis yang terjadi dalam sekelompok suku kata bertekanan dan/atau tidak bertekanan
  965. padanan kata atau frasa dalam sebuah bahasa yang memiliki kesejajaran makna dengan kata atau frasa dalam bahasa lain, misalnya maison dalam bahasa Prancis padanannya rumah dalam bahasa Indonesia; ekuivalen
  966. palatal berkaitan dengan langit-langit keras
  967. palatalisasi perubahan kualitas bunyi yang dihasilkan karena naiknya lidah ke arah palatum, biasanya menjadi ciri artikulasi sekunder
  968. palato-alveolar terjadi karena penyempitan antara daun lidah dan alveolum bagian depan lidah dan langit-langit keras
  969. palato-alveolar bunyi yang terjadi karena penyempitan antara daun lidah dan alveolum serta bagian depan lidah dan langit-langit keras
  970. palatografi penyelidikan mengenai artikulasi dengan mengamati persentuhan fisiologis antara lidah dan palatum dalam wicara dengan mengambil cetakan di dalam mulut, atau dengan menggunakan palatum buatan, atau dengan memotret
  971. palatogram gambar, foto, atau cetakan dari titik persentuhan lidah dengan palatum selama artikulasi bunyi bahasa
  972. palatum bangun tulang cekung yang membentuk atap mulut di belakang alveolus
  973. palindrom kata, rangkaian kata, atau bilangan yang terbaca sama, baik dari depan maupun dari belakang, seperti kodok, radar, taat
  974. pandialektal tentang ciri bahasa, kaidah linguistik, dan sebagainya yang dapat diberlakukan pada semua dialek dari suatu bahasa
  975. pangkal morfem, kata, atau frasa yang bergabung dengan afiks, misalnya olah pada mengolah, atau tani pada bertani
  976. pangkal tunggal pangkal yang terjadi dari satu morfem dasar, misalnya tani pada bertani
  977. pangkon tanda penutup konsonan pada akhir kalimat
  978. pangolat tanda diakritis yang menghilangkan bunyi huruf induk pada akhir suku kata
  979. paninggil tanda diakritis yang menutup suku kata dengan bunyi
  980. pankronis bersangkutan dengan cara memandang peristiwa bahasa sebagai sesuatu yang telah terjadi pada suatu masa ataupun sebagai hasil perkembangan historis; kombinasi sinkronis dan diakronis
  981. panlektal tentang model gramatika yang dapat saling menghubungkan pelbagai variasi yang masing-masing disebut lek
  982. paradigma daftar semua bentukan dari sebuah kata yang memperlihatkan konjugasi dan deklinasi kata tersebut
  983. paradigmatis berkaitan dengan hubungan unsur bahasa dalam tingkat tertentu dengan unsur lain di luar tingkat itu yang dapat dipertukarkan
  984. parafasia cacat produksi bahasa yang terlihat dari pengacauan bentuk kata atau dari penukarannya dengan kata lain sehingga maknanya tidak dapat dipahami
  985. parafrasa pengungkapan kembali suatu tuturan dari sebuah tingkatan atau macam bahasa menjadi tuturan yang lain tanpa mengubah pengertian
  986. parafrasa penguraian kembali suatu teks (karangan) dalam bentuk (susunan kata-kata) yang lain, dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna yang tersembunyi
  987. paragog penambahan huruf atau bunyi pada akhir sebuah kata
  988. paraksiton kata yang memiliki tekanan pada suku kata kedua dari belakang
  989. paraksitonis berkenaan dengan paraksiton
  990. paralelisme penggunaan bentuk sintaksis yang sepadan
  991. paralinguistik sistem dan penyelidikan mengenai ciri-ciri paralinguistis
  992. paralinguistis berkaitan dengan ciri-ciri bunyi, misalnya berbisik, suara meninggi, dan sebagainya yang ada dalam atau menyertai suara seseorang dalam berbahasa
  993. parapalatal bunyi palatal yang diartikulasikan di bagian depan palatum
  994. paraplasme kata baru yang diciptakan untuk menggantikan kata yang sudah lama dikenal, misalnya kata suku cadang untuk menggantikan onderdil
  995. parasintesis pembentukan kata dengan menggunakan afiks derivatif
  996. parataksis (hubungan) konstruksi kalimat, klausa, atau frasa koordinatif yang tidak menggunakan kata penghubung (seperti dan)
  997. parataktis berkaitan dengan atau bersifat parataksis
  998. parentesis kata, frasa, atau kalimat penjelasan yang ditambahkan dalam kalimat lain, biasanya dipisahkan dengan diapit tanda koma, garis pemisah, atau tanda kurung dan berfungsi menjelaskan atau apositif
  999. paronim kata yang bentuknya sama dengan kata seasal dalam bahasa lain, misalnya mahal dalam bahasa Tagalog dan bahasa Indonesia
  1000. paronomasia permainan kata-kata dengan memanfaatkan polisemi atau homonimi
  1001. partikel kata yang biasanya tidak dapat diderivasikan atau diinfleksikan, mengandung makna gramatikal dan tidak mengandung makna leksikal, termasuk di dalamnya artikel, preposisi, konjungsi, dan interjeksi
  1002. partikel ingkar bentuk yang dipakai untuk mengubah klausa menjadi klausa ingkar, misalnya tak
  1003. partikel penegas partikel yang digunakan untuk mengungkapkan penegasan, misalnya lah dalam bahasa Indonesia
  1004. partikel tanya bentuk yang dipakai untuk menandai kalimat tanya, msl,kah, tah dalam bahasa Indonesia
  1005. pasangan huruf penanda konsonan yang ditulis untuk menutup konsonan lain di depannya
  1006. pasangan mencurigakan bunyi-bunyi yang mempunyai persamaan fonetis yang mungkin tergolong dalam fonem yang sama atau yang berbeda
  1007. pasangan minimal dua ujaran yang salah satu unsurnya berbeda
  1008. pasangan semantik pasangan unsur leksikal yang berkaitan dalam makna, seperti sinonim dan antonim
  1009. pasar dipakai dalam pergaulan sehari-hari (tentang bahasa yang kurang baik tata bahasanya, pilihan katanya, dan sebagainya)
  1010. pasif (jenis kalimat) yang menunjukkan bahwa subjek adalah tujuan dari perbuatan, misalnya ia dipukul
  1011. pasif dapat memahami bacaan, pembicaraan, dan sebagainya, tetapi tidak dapat mengemukakan kembali, baik lisan maupun tulis (tentang penguasaan bahasa)
  1012. pasigrafi sistem tulisan yang menggunakan lambang yang dipakai secara luas, tidak terbatas pada satu bahasa tertentu, misalnya angka Arab: 1, 2, 3, dan seterusnya
  1013. patois variasi lokal suatu bahasa yang bersifat nonstandar
  1014. patologi bahasa penyelidikan mengenai cacat dan gangguan yang menghambat kemampuan berkomunikasi verbal orang
  1015. pelengkap unsur kalimat yang melengkapi predikat verbal
  1016. pelengkap pelaku pelengkap dalam kalimat pasif yang melakukan pekerjaan
  1017. pelengkap penderita objek langsung
  1018. pemasifan proses, cara, perbuatan memasifkan kalimat
  1019. pembatasan syarat yang menentukan atau membatasi penerapan kaidah kebahasaan
  1020. pemerian kata atau kelompok kata yang membatasi atau meluaskan makna kata lain
  1021. peminjaman dialektal proses peminjaman suatu unsur dari satu dialek ke dialek lain dalam satu bahasa, misalnya pemakaian kata kakak dalam bahasa Melayu yang berasal dari bahasa Minangkabau, sebenarnya merupakan dialek bahasa Melayu
  1022. penanda sifat khusus satuan kebahasaan yang menunjukkan kelas atau fungsinya
  1023. penanda gramatikal unsur yang mengungkapkan ciri gramatikal, misalnya penanda peng--an yang menyatakan bahwa kata yang bersangkutan adalah nomina dalam pembacaan, pengangkatan, penarikan
  1024. penentu bentuk yang membatasi atau menentukan acuan nomina, misalnya kata ini, itu
  1025. pengacuan referensi
  1026. pengafiksan proses atau hasil penambahan afiks (prefiks, infiks, konfiks, sufiks) pada kata dasar
  1027. pengebelakangan pemindahan unsur kalimat dari posisi dasarnya ke bagian akhir kalimat
  1028. pengedepanan pemindahan unsur kalimat tertentu dari tempat yang biasa ke bagian awal kalimat
  1029. pengenalan wicara identifikasi unsur bahasa, seperti suku kata dan kata secara cermat dalam kaitannya dengan meniru dan menyelidiki bahasa manusia dengan mesin atau alat elektronik
  1030. pengisi gatra bentuk yang dapat mengisi gatra tertentu
  1031. penyuaraan penggetaran pita suara selama bunyi bahasa berartikulasi
  1032. pepet tanda “^” untuk menyatakan bunyi /ə/ dalam kata seperti segar, lekas
  1033. percakapan satuan interaksi bahasa antara dua pembicara atau lebih
  1034. perfektif menandai aspek verba yang menggambarkan perbuatan selesai
  1035. perifrasa pengungkapan yang panjang sebagai pengganti pengungkapan yang lebih pendek
  1036. perifrastis dinyatakan dengan kata-kata terpisah dan bukan dengan infleksi
  1037. permutasi proses perubahan deret unsur-unsur kalimat
  1038. persenyawaan penggabungan dua kata sehingga mewujudkan satu kesatuan makna (majemuk)
  1039. persona orang atau benda yang berperanan dalam pembicaraan (persona I, pembicara; persona II, orang yang diajak bicara; persona III, orang yang dibicarakan)
  1040. persona topeng, wajah, ciri khas seseorang, identik dengan pribadinya
  1041. perspektif gelombang pandangan dari sudut satuan kompleks bahasa sebagai wujud yang bergerak, yang mempunyai bagian awal, inti, dan bagian akhir; pandangan dinamis
  1042. perspektif medan pandangan dari sudut satuan bahasa sebagaimana satuan itu berkaitan dengan yang lain dalam suatu sistem atau jaringan; pandangan relasional
  1043. perspektif partikel pandangan dari sudut satuan bahasa sebagai unsur yang lepas; pandangan statis
  1044. pertalian hubungan antara unsur bahasa dalam kesatuan yang utuh, misalnya pertalian antara kalimat dan kalimat dalam wacana
  1045. pertanyaan langsung pertanyaan dalam ucapan langsung, misalnya “Mau ke mana?”?
  1046. pertanyaan retoris pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban
  1047. pertanyaan taklangsung pertanyaan yang dikutip dalam wacana tidak langsung, misalnya ia bertanya apakah saya akan datang
  1048. pertuturan ekspresif perbuatan yang menyatakan keadaan psikologis pembicara karena sesuatu
  1049. pertuturan ilokusioner perbuatan yang dilakukan dalam mengujarkan sesuatu, misalnya dalam memperingatkan, bertanya, dan sebagainya
  1050. pertuturan komisif pertuturan yang menuntut pembicara melakukan apa yang dikatakannya
  1051. pertuturan lokusioner perbuatan bertutur; hal mengungkapkan sesuatu
  1052. pertuturan perlokusioner perbuatan yang dilakukan dengan mengujarkan sesuatu dengan maksud membuat orang lain percaya pada apa yang dikatakan sehingga mendorongnya untuk berbuat sesuatu dan sebagainya
  1053. pertuturan taklangsung pertuturan yang dinyatakan oleh kalimat, terutama yang tidak dimaksudkan untuk menyampaikan isi pertuturan itu sendiri, misalnya permintaan yang disampaikan dengan kalimat tanya
  1054. peruntung yang memperoleh keuntungan
  1055. petogram aksara kuno yang dituliskan pada batu
  1056. peyorasi perubahan makna yang mengakibatkan sebuah ungkapan menggambarkan sesuatu yang lebih tidak enak, tidak baik, dan sebagainya, misalnya kata perempuan sudah mengalami peyorasi, dahulu artinya ‘yang menjadi tuan’
  1057. pijinasi proses terjadinya sebuah pijin, dapat berupa campuran struktur dan leksikon berbagai bahasa dan dapat pula berupa penyederhanaan struktur dan leksikon suatu bahasa untuk kontak sosial yang singkat
  1058. piktogram ideogram yang berupa gambar untuk mengungkapkan amanat tertentu, misalnya tanda lalu lintas
  1059. pilihan kata diksi
  1060. pinjaman fonemis pinjaman yang mempertahankan bunyi atau kombinasi bunyi dari bahasa sumber
  1061. pinjaman fonologis pemasukan unsur fonologis dalam suatu bahasa atau dialek lain, misalnya pola gugus konsonan dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa daerah atau asing
  1062. pisahan hasil perubahan sebuah fonem menjadi dua fonem
  1063. plerem satuan terkecil dari ungkapan yang mempunyai makna
  1064. plosif konsonan yang dihasilkan jika udara yang keluar (nasal atau oral) tertutup secara sempurna dan terbuka (tutupnya) dengan tiba-tiba
  1065. plural jamak; lebih dari satu
  1066. pluralis kategori jumlah yang menunjukkan lebih dari satu atau lebih dari dua dalam bahasa yang mempunyai bentuk dualis
  1067. poetika penyelidikan mengenai puisi dari sudut linguistik
  1068. pola intonasi pola dalam ujaran yang terjadi dari satu kelompok jeda atau lebih
  1069. pola kalimat konsep sintaktis yang mencakupi konstruksi, seperti indikatif, interogatif, imperatif
  1070. pola kalimat pola seperti nomina + verba + nomina untuk menggambarkan kalimat misalnya “Adik membaca buku”
  1071. polifon huruf atau karakter yang memiliki lebih dari satu cara pengucapan
  1072. polisem bentuk bahasa (kata, frasa, dan sebagainya) yang bermakna lebih dari satu
  1073. polisindeton pemakaian konjungsi beberapa kali, misalnya kata dan dalam kami tidak mempunyai dana dan tenaga dan sarana dan kemampuan
  1074. polisintetik berkenaan dengan bahasa yang tata kalimatnya disampaikan melalui beberapa afiks pada satu kata
  1075. posisi sintaktis posisi suatu unsur dalam kalimat
  1076. pragmatik berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi
  1077. pragmatika cabang semiotika tentang asal-usul, pemakaian, dan akibat lambang dan tanda
  1078. pragmatika ilmu tentang pertuturan, konteks, dan maknanya
  1079. prapalatal bunyi palatal yang diartikulasikan di bagian depan palatum
  1080. predikat bagian kalimat yang menandai apa yang dikatakan oleh pembicara tentang subjek; sebutan (dalam kalimat)
  1081. predikatif bersangkutan dengan predikat; sebagai predikat
  1082. prefiks imbuhan yang ditambahkan pada bagian awal sebuah kata dasar atau bentuk dasar; awalan
  1083. preposisi kata yang biasa terdapat di depan nomina, misalnya dari, dengan, di, dan ke
  1084. produktif mampu menghasilkan terus dan dipakai secara teratur untuk membentuk unsur-unsur baru
  1085. proklitik klitik yang secara fonologis terikat dengan kata yang mengikutinya, misalnya ke dalam ke rumah
  1086. proksimat persona ketiga yang dipentingkan (terdapat dalam bahasa yang mempunyai sistem empat persona)
  1087. proleksem bentuk bahasa yang mempunyai makna leksikal seperti kata, tetapi tidak dapat berdiri sendiri apabila tidak bergabung dengan kata lain, dan tidak dapat mengalami pengimbuhan (misalnya awa-, catur-, dasa-, maha-)
  1088. pronomina kata yang dipakai untuk mengganti orang atau benda; kata ganti seperti aku, engkau, dia
  1089. pronomina persona pronomina yang menunjukkan kategori persona seperti saya, ia, mereka
  1090. pronominal sebagai (bersifat) kata ganti
  1091. pronominalisasi proses atau hasil pemakaian pronomina untuk menggantikan salah satu bagian kalimat
  1092. proposisi ungkapan yang dapat dipercaya, disangsikan, disangkal, atau dibuktikan benar tidaknya
  1093. proposisi eksklusif proposisi yang di dalamnya terdapat kata-kata hanya, sendiri, tak lain, tak satu pun, kecuali
  1094. prosede perubahan yang bersifat sinkronis
  1095. prosedur semu metode analisis bahasa yang konon mengikuti prinsip ilmiah, tetapi dalam kenyataannya melanggar karena asumsi penyelidikan tidak konsisten atau karena sulit dilaksanakan dalam praktik
  1096. proses bahasa alat, bahan, dan prosedur yang dipakai manusia untuk menghasilkan bahasa
  1097. proskriptivisme sikap dalam pemakaian bahasa yang berusaha untuk menunjukkan kesalahan yang harus dihindarkan dalam berbicara dan menulis
  1098. protesis penambahan vokal atau konsonan pada awal kata, untuk memudahkan lafal misalnya e pada nyak menjadi enyak, dan sebagainya
  1099. pseudokata kata yang dapat berdiri sendiri, tetapi tidak mempunyai makna (misalnya yang, bahwa)
  1100. pseudomorf bentuk takteratur
  1101. psikolinguistik ilmu tentang hubungan antara bahasa dan perilaku dan akal budi manusia; ilmu interdisipliner linguistik dengan psikologi
  1102. puncak penyaringan bagian dari suku kata yang paling menonjol karena bernada paling tinggi atau bertekanan paling keras
  1103. ragam laras (tentang bahasa)
  1104. ragam akrab ragam bahasa yang dipakai apabila pembicara menganggap kawan bicara sebagai sesama, lebih muda, atau rendah statusnya, atau apabila topik pembicaraan bersifat tidak resmi
  1105. ragam bahasa variasi bahasa menurut pemakaian, topik pembicaraan, hubungan pembicara, lawan bicara, orang yang dibicarakan, serta medium pembicaraan
  1106. ragam baku ragam bahasa yang oleh penuturnya dipandang sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), biasa dipakai di kalangan terdidik, dalam karya ilmiah, dalam suasana resmi, atau dalam surat resmi (misalnya surat-menyurat dinas, perundang-undangan, karangan teknis)
  1107. ragam cakapan ragam akrab
  1108. ragam hormat ragam bahasa yang dipakai jika lawan bicara orang yang dihormati, misalnya orang tua, atasan
  1109. ragam kasar ragam bahasa yang digunakan dalam pemakaian takresmi di kalangan orang yang saling mengenal
  1110. ragam lisan ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan, terikat oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman
  1111. ragam resmi ragam bahasa yang dipakai dalam suasana resmi (misalnya dalam surat dinas, dalam sidang pengadilan, dan sebagainya)
  1112. ragam santai tahap situasional dari bahasa lisan, sebagian ditandai oleh penggunaan slang dan elipsis dan digunakan dalam lingkungan yang akrab
  1113. ragam tulis ragam bahasa yang digunakan melalui media tulis, tidak terikat ruang dan waktu sehingga diperlukan kelengkapan struktur sampai pada sasaran secara visual
  1114. ranah lingkungan yang memungkinkan terjadinya percakapan, merupakan kombinasi antara partisipan, topik, dan tempat (misalnya keluarga, pendidikan, tempat kerja, keagamaan, dan sebagainya)
  1115. ranah semantik bidang makna dan kata-kata yang digunakan untuk mengungkapkannya yang dikelompokkan berdasarkan kesamaan fitur semantiknya, biasanya dinamai dengan kata yang paling umum (misalnya ranah melihat meliputi kata-kata melirik, mengerling, mengintip)
  1116. redundansi repetisi; pengulangan
  1117. reduplikasi proses atau hasil perulangan kata atau unsur kata, seperti kata rumah-rumah, tetamu, bolak-balik
  1118. referen benda atau orang tertentu yang diacu oleh kata atau untaian kata dalam kalimat atau konteks tertentu
  1119. referensi hubungan antara referen dan lambang (bentuk bahasa) yang dipakai untuk mewakilinya
  1120. relasi sintagmatis hubungan kata atau frasa dengan dasarnya dari sudut urutan gramatikal
  1121. rema bagian kalimat yang menyatakan gagasan, biasanya berupa predikat
  1122. repertoar perbendaharaan bahasa (dialek, ragam) yang dimiliki oleh seseorang atau masyarakat
  1123. resiprokal bersifat saling berbalasan (tentang kata kerja)
  1124. retensi unsur bahasa purba yang dipelihara dalam isolek (bahasa, dialek, subdialek, atau beda wicara) turunan tanpa ada perubahan
  1125. retrofleks bunyi yang dibentuk dengan ujung lidah melengkung ke belakang (misalnya bunyi t dalam bahasa Jawa thuthuk)
  1126. salin suara perubahan bunyi yang terjadi pada salah satu fonem dalam pengulangan
  1127. sandi perubahan fonologis yang terjadi pada sebuah kata karena pengaruh afiksasi atau karena pengaruh fonem yang ada di dekatnya
  1128. sandi rasa kata seru
  1129. sandi sora onomatope
  1130. sandi ton perubahan tona yang terjadi pada salah satu atau semua kata yang tergabung dalam satuan yang lebih besar
  1131. sapaan kata atau frasa untuk saling merujuk dalam pembicaraan dan yang berbeda-beda menurut sifat hubungan di antara pembicara itu, seperti Anda, Ibu, Saudara
  1132. sebutan bagian kalimat yang menceritakan atau memberi pernyataan tentang pokok kalimat; predikat, misalnya “menangis” dalam kalimat “Adik menangis” adalah sebutan
  1133. segmen satuan bahasa yang diabstraksikan dari kesatuan wicara atau teks
  1134. segmental bersangkutan dengan segmen
  1135. seksisme penggunaan kata atau frasa yang meremehkan atau menghina berkenaan dengan kelompok, gender, ataupun individual
  1136. semantik ilmu tentang makna kata dan kalimat; pengetahuan mengenai seluk-beluk dan pergeseran arti kata
  1137. semantik bagian struktur bahasa yang berhubungan dengan makna ungkapan atau struktur makna suatu wicara
  1138. semantik filsafat pendekatan filosofis terhadap makna dalam bahasa (misalnya hakikat penamaan objek, kebenaran dan kesahihan pernyataan)
  1139. semantik generatif aliran transformasi generatif yang menganggap komponen semantik sebagai dasar penurunan struktur sintaktis
  1140. semantik gramatikal penyelidikan makna bahasa dengan menekankan hubungan dalam pelbagai tataran gramatikal
  1141. semantik historis bagian linguistik historis yang menyelidiki perubahan-perubahan makna
  1142. semantik interpretif teori linguistik generatif yang beranggapan bahwa kaidah penafsiran semantis berfungsi sebagai produk struktur sintaktis
  1143. semantik kognitif aliran semantik yang memperlakukan makna sebuah ungkapan bahasa sebagai konsep yang diaktifkan dalam akal budi pembicara atau pendengar
  1144. semantik kombinatoris cabang semantik yang menyelidiki hubungan antara makna kalimat dan makna kata atau makna morfem yang membentuknya
  1145. semantik leksikal semantik yang meneliti makna unsur-unsur kosakata suatu bahasa pada umumnya
  1146. semantik struktural pendekatan pada semantik yang menekankan hubungan makna antara kata dan kelompok kata
  1147. semantis berhubungan dengan ilmu tentang makna dalam bahasa; menurut atau mengenai semantik
  1148. semantis menyangkut makna
  1149. semasiologi metode semantik yang berkaitan dengan penjelasan makna kata atau frasa
  1150. semem satuan makna terkecil
  1151. semesta bahasa ciri yang pasti terdapat dalam semua bahasa
  1152. semiidiom konstruksi yang salah satu anggotanya memiliki makna biasa, anggota yang lain memiliki makna khusus dalam konstruksi yang sama
  1153. semivokal bunyi bahasa yang mempunyai ciri vokal ataupun konsonan, mempunyai sedikit geseran dan tidak muncul sebagai inti suku kata, misalnya [y], [r], [w]
  1154. sempadan unsur grafemis, fonologis, atau gramatikal yang menandai batas antara satuan bahasa (seperti kata, frasa), berupa sendi atau tekanan
  1155. sendi peralihan bermakna dari satu segmen fonologis ke segmen fonologis yang lain atau segmen fonologis ke kesenyapan, baik yang terbuka maupun yang tertutup
  1156. sendi buka sendi yang terjadi pada akhir kata dan membatasinya dengan kata lain
  1157. sendi naik sendi akhir yang terjadi apabila nada suara naik sebelum jeda
  1158. sendi turun sendi yang terjadi pada waktu nada suara turun menjadi kesenyapan
  1159. sendi tutup sendi yang terdapat dalam urutan bunyi-bunyian yang tidak putus dari satu kata
  1160. sengau nasal
  1161. serebral retrofleks; kakuminal
  1162. sibilan bunyi frikatif yang dihasilkan dengan memaksa udara lewat lubang berbentuk alur antara lidah dan bagian belakang pangkal gigi, misalnya bunyi s
  1163. silabel suku kata
  1164. silabis bersangkutan dengan silabel
  1165. silabis dapat berdiri sendiri sebagai suku kata
  1166. silih konstituen yang tidak ditentukan atau tidak terdapat dalam struktur dasar, diperlukan untuk menjelaskan suatu derivasi
  1167. silih unsur tidak bermakna yang mempunyai fungsi sintaksis, tetapi tidak mempunyai fungsi semantis
  1168. silsilah penggambaran hubungan antara bahasa induk dan bahasa-bahasa turunan dalam keluarga bahasa
  1169. simulfiks afiks yang tidak berbentuk suku kata dan yang ditambahkan atau dileburkan pada dasar; misalnya n pada ngopi (pangkalnya kopi)
  1170. sindeton konstruksi yang bagian-bagiannya dihubungkan dengan konjungsi, misalnya krn saya melihat, saya senang
  1171. sinekdoke majas pertautan yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhannya; pars pro toto
  1172. sinekdoke majas pertautan yang menyebutkan nama keseluruhan sebagai pengganti nama bagiannya; totem pro parte
  1173. sinekdoke majas pertautan yang menyebutkan nama bahan sebagai pengganti nama barang yang terbuat dari bahan itu
  1174. sineresis pelafalan gugus vokal sebagai diftong dalam suku tunggal, misalnya pelafalan /paus/ dalam frasa ikan paus
  1175. sinestesia metafora berupa ungkapan yang bersangkutan dengan indra yang dipakai untuk objek atau konsep tertentu, biasanya disangkutkan dengan indra lain, misalnya sayur itu pedas untuk kata-kata sangat pedas
  1176. singular tunggal; mufrad
  1177. singularis tunggal (bukan jamak)
  1178. singulum pinggang
  1179. singulum struktur berbentuk seperti sabut
  1180. singulum tepi email di sekitar gigi
  1181. sinkope hilangnya bunyi atau huruf di tengah kata (misalnya tak untuk tidak)
  1182. sinkrisis perbandingan bahasa dalam penyelidikan tipologi dan penyelidikan kontrastif, tidak untuk tujuan historis
  1183. sinonim bentuk bahasa yang maknanya mirip atau sama dengan bentuk bahasa lain; muradif
  1184. sinonimi hubungan antara bentuk bahasa yang mirip atau sama maknanya; kesinoniman
  1185. sintagma gabungan kata; frasa
  1186. sintagmatis tentang hubungan linier antara unsur bahasa dalam tataran tertentu
  1187. sintaksis pengaturan dan hubungan kata dengan kata atau dengan satuan lain yang lebih besar
  1188. sintaksis cabang linguistik tentang susunan kalimat dan bagiannya; ilmu tata kalimat; ilmu nahu
  1189. sintaksis subsistem ilmu bahasa yang mencakup hal tersebut
  1190. sintesis penggabungan unsur-unsur untuk membentuk ujaran dengan menggunakan alat-alat bahasa yang ada
  1191. sintesis apriori sintesis yang pernyataannya bergantung pada suatu pengalaman tertentu, tetapi sebenarnya pernyataan lain sudah ada sebelumnya
  1192. sintesis posteriori sintesis yang pernyataannya bergantung pada suatu pengalaman tertentu
  1193. sirkumfiks konfiks
  1194. sisipan imbuhan (-el-, -er-, -em-, dan sebagainya) yang disisipkan di dalam kata; infiks
  1195. sistem bunyi uraian mengenai semua fonem atau alofon dan hubungannya dalam suatu bahasa
  1196. sistem leksikal hubungan yang dapat ditentukan antara unsur sekelompok kata dalam suatu medan makna
  1197. sistem sapaan sistem yang mengikat unsur bahasa yang menandai perbedaan status dan peran partisipan dalam komunikasi dengan bahasa
  1198. slang ragam bahasa tidak resmi dan tidak baku yang sifatnya musiman, dipakai oleh kaum remaja atau kelompok sosial tertentu untuk komunikasi intern dengan maksud agar yang bukan anggota kelompok tidak mengerti
  1199. sonoran bunyi nasal dan likuida yang dapat membentuk suku kata sendiri
  1200. sosiolek variasi bahasa yang berkorelasi dengan kelas sosial atau kelompok pekerja
  1201. spektogram grafik bunyi yang memberikan informasi tentang perubahan dalam rentang waktu, frekuensi, dan intensitas gelombang bunyi menurut sumbu waktu
  1202. struktur pengaturan pola dalam bahasa secara sintagmatis
  1203. struktur batin struktur yang dianggap mendasari kalimat atau kelompok kata
  1204. struktur fonemis keseluruhan inventarisasi fonem; hubungan antara fonem beserta deskripsi alofon suatu bahasa
  1205. struktur frase pengaturan unsur kalimat untuk membentuk satuan yang lebih besar, misalnya frasa nominal ditambah frasa verbal untuk membentuk kalimat
  1206. struktur lahir urutan liniar bunyi kata, frasa, dan klausa yang memerincikan apa yang diujarkan
  1207. struktur semantis subsistem bahasa tempat makna dan hubungan makna antara pelbagai unsur bahasa bergerak yang dianalisis dalam semantik
  1208. struktur sintaksis subsistem bahasa tempat unsur-unsur kalimat dan hubungannya secara horizontal yang dianalisis dalam sintaksis
  1209. struktur tematis aspek struktur kalimat yang menghubungkan kalimat itu dengan konteksnya
  1210. strukturalisme gerakan linguistik yang berpandangan bahwa hubungan antara unsur bahasa lebih penting daripada unsur itu sendiri, satu-satunya objek bahasa adalah sistem bahasa, dan penelitian bahasa dapat dilakukan secara sinkronis
  1211. subjek bagian klausa yang menandai apa yang dikatakan oleh pembicara; pokok kalimat
  1212. subjek gabungan frasa nominal yang terdiri atas lebih dari satu nomina atau pronomina yang digabungkan dengan konjungsi atau intonasi yang berfungsi sebagai subjek dalam klausa
  1213. subjek gramatikal subjek
  1214. subjek logis nomina atau frasa nominal yang dalam klausa pasif berfungsi sebagai pelaku atau penyebab perbuatan, untuk membedakannya dari subjek gramatikal
  1215. subjek psikologis topik suatu kalimat, misalnya orang itu dalam kalimat orang itu rumahnya jauh
  1216. subkategorisasi perincian jenis unsur bahasa yang dapat mewakili sebuah kategori dalam lingkungan tertentu
  1217. subordinasi penggabungan dua unsur gramatikal dengan cara sedemikian rupa sehingga yang satu terikat kepada yang lain; hubungan antara klausa terikat dan klausa bebas dalam sebuah kalimat
  1218. subordinasi hubungan makna antara dua atau lebih konsep dalam tingkat hierarki yang berbeda
  1219. subordinat bagian yang memodifikasi, menerangkan, atau membatasi induk dalam frasa endosentris
  1220. substandar kata atau frasa yang dianggap tidak sesuai dengan norma standar variasi bahasa, dan biasanya diberi label tertentu dalam kamus atau dalam petunjuk penggunaan
  1221. substansi medium yang dipakai untuk mengungkapkan bahasa
  1222. substantif nomina; kata benda
  1223. substitusi proses atau hasil penggantian unsur bahasa oleh unsur lain dalam satuan yang lebih besar untuk memperoleh unsur pembeda
  1224. sufiks afiks yang ditambahkan pada bagian belakang kata dasar, misalnya -an, -kan, dan -i; akhiran
  1225. sufiks inflektif sufiks yang ditambahkan pada akar atau dasar untuk membatasi makna gramatikal
  1226. suku buka suku kata yang berakhir dengan vokal
  1227. suku kalimat bagian kalimat, seperti subjek, predikat, dan sebutan
  1228. suku kata struktur yang terjadi dari satu atau urutan fonem yang merupakan konstituen kata
  1229. suku tertutup suku kata yang berakhir dengan konsonan
  1230. sumbu bagian frasa eksosentris yang berupa kata, frasa, atau klausa, seperti frasa atau klausa yang mengikuti preposisi atau konjungtor
  1231. superlatif tingkat perbandingan yang teratas (bentuk kata yang menyatakan paling, yaitu ter-)
  1232. superordinat kata yang menunjukkan objek yang lebih tinggi dalam suatu sistem klasifikasi, misalnya anjing adalah superordinat dari pudel
  1233. suprasegmental berhubungan dengan segmen ujaran atau bunyi (fonem), yaitu nada, tekanan, sendi, intonasi
  1234. suprasegmental (fonem yang) tidak dapat membentuk kata, tetapi membedakan makna kata (misalnya tekanan)
  1235. swarabakti vokal pendek yang disisipkan dalam proses anaptiksis
  1236. takbersuara dihasilkan tanpa getaran pita suara, misalnya bunyi [p], [t], dan [k]
  1237. takigrafi penggunaan steno atau tulisan yang disingkat demi kecepatan
  1238. taksem unsur gramatikal terkecil dari seleksi, urutan, tekanan, titi nada, atau modifikasi fonetik
  1239. taksonomi klasifikasi unsur bahasa menurut hubungan hierarkis; urutan satuan fonologis atau gramatikal yang dimungkinkan dalam satuan bahasa
  1240. tasrif sistem perubahan bentuk kata untuk membedakan kasus, kala, jenis, jumlah, dan aspek
  1241. tata bahasa filosofis tata bahasa yang tidak berdasarkan pemakaian bahasa tertentu, tetapi dari sudut ciri-ciri yang dipunyai bersama oleh pelbagai bahasa
  1242. tata bahasa normatif tata bahasa yang dimaksudkan sebagai pedoman yang ketat dan standar bagi pemakai bahasa
  1243. tataran fonologis bagian telaah struktur bahasa yang berkaitan dengan sistem bunyi
  1244. tataran gramatikal bagian telaah struktur bahasa yang berkaitan dengan sistem kata, frasa, klausa, dan kalimat
  1245. tautofoni dua kata bersajak yang digunakan secara berdampingan, misalnya pecah belah, suka duka
  1246. tautologi pengulangan gagasan, pernyataan, atau kata yang berlebih yang tidak diperlukan, misalnya duda pria; amat sangat mahal; kemubaziran; pleonasme
  1247. tegang ciri pembeda yang ditandai dengan penegangan otot dalam artikulasi, misalnya e adalah tegang, a adalah kendur
  1248. tekanan keras lembutnya pengucapan bagian ujaran; aksen
  1249. tekanan yang dipentingkan (sangat diutamakan); titik berat
  1250. tekanan keadaan tidak menyenangkan yang umumnya merupakan beban batin
  1251. tekanan dinamis tekanan yang diucapkan dengan sedikit banyak energi pada waktu menghasilkan bunyi agresif, dan terdengar sebagai variasi dalam kenyaringan
  1252. tekanan fonemis tekanan yang apabila letaknya berubah akan mengakibatkan perubahan makna kata atau kelas kata
  1253. tekanan morfofonemis perubahan dalam pola tekanan yang membedakan frasa dengan kompositum dalam bahasa Inggris
  1254. tekanan resesif tekanan yang keras pada awal suku kata
  1255. tempus waktu (sebagai kategori semantis)
  1256. teori gelombang teori yang menyatakan bahwa bahasa yang berkerabat berasal dari pusat yang sama (bahasa induknya tersebar) ke segala penjuru (teori Johannes Schmidt)
  1257. teori kasus teori linguistik generatif yang menganggap bahwa setiap nomina mempunyai kasus abstrak pada struktur batin dan kemudian diwujudkan dengan bentuk morfologis tertentu pada struktur lahir
  1258. teori kasus teori linguistik yang menggunakan peran relasional semantis sebagai konsep dasar, misalnya pelaku, penderita
  1259. teori lokalistis teori yang beranggapan bahwa bahasa diumpamakan sebagai ruang dan semua afiks, kasus, dan preposisi pada asasnya adalah penanda tempat
  1260. teori migrasi teori tentang gerak perpindahan bangsa yang berdasarkan pengelompokan bahasa dan distribusi geografis bahasa
  1261. teori monogenesis teori yang menyatakan bahwa semua bahasa di dunia berasal dari satu bahasa induk
  1262. teori poligenesis teori yang menyatakan bahwa bahasa-bahasa dunia tumbuh dari pelbagai sumber dan tidak dari satu bahasa induk
  1263. terminografi aktivitas kompleks yang terdiri atas desain, penyusunan, penggunaan, dan evaluasi kamus terminologis
  1264. tersubstitusikan tergantikannya unsur bahasa oleh unsur lain dalam satuan yang lebih besar untuk memperoleh unsur pembeda
  1265. tetara yang menjelaskan status atau identitas
  1266. tingkat eksesif tingkat yang menyatakan kualitas atau keadaan yang sangat, dipandang dari titik tertentu, dalam bahasa Jawa berupa peninggian vokal, seperti dawa ‘panjang’ menjadi dawi ‘sangat panjang’
  1267. tingkat elatif bentuk tingkat perbandingan yang mencakup tingkat komparatif dan superlatif
  1268. tingkat komparatif tingkat yang menyatakan suatu kualitas atau keadaan lebih tinggi atau lebih rendah dalam hubungan dengan titik tertentu
  1269. tingkat perbandingan klasifikasi atas adjektiva dan adverbia yang menandai tingkat dalam proses, sifat, ukuran, hubungan, dan sebagainya
  1270. tingkat superlatif tingkat yang menyatakan kualitas atau keadaan yang paling tinggi atau paling rendah dipandang dari sudut tertentu, misalnya paling panas
  1271. tipe bahasa jenis bahasa yang oleh klasifikasi tipologis dianggap mempunyai kemiripan struktural, lepas dari sejarah dan lokasi pemakaiannya
  1272. tipologi klasifikasi kamus dan buku acuan lain
  1273. tipologi ilmu tentang kesamaan sintaksis dan morfologi bahasa-bahasa tanpa mempertimbangkan sejarah bahasa
  1274. titik artikulasi tempat terjadinya persentuhan atau penyempitan pada saluran suara (ketika alat ucap aktif menempel atau mendekati alat ucap pasif) dalam pembentukan bunyi bahasa
  1275. titinada keseluruhan tinggi rendah nada yang dimungkinkan dalam suatu bahasa
  1276. tmesis pemisahan bagian kata majemuk oleh kata lain di antara kata majemuk itu
  1277. tona titi nada distingtif yang menjadi salah satu faktor penentu makna kata
  1278. tonem tona yang membedakan kata-kata yang secara segmental sama, tetapi yang secara semantis berbeda
  1279. tonetika sistem dan penyelidikan mengenai tona dalam bahasa
  1280. tonik (dalam analisis intonasi) merujuk ke suku kata yang mendapat tekanan paling keras dalam suatu kelompok tona
  1281. topik subjek yang dibahas dalam sebuah teks
  1282. topikalisasi pengubahan salah satu unsur kalimat menjadi topik
  1283. topolek variasi bahasa, khususnya kosakata, yang berkaitan dengan lokasi geografis tertentu
  1284. transformasi perubahan struktur gramatikal menjadi struktur gramatikal lain dengan menambah, mengurangi, atau menata kembali unsur-unsurnya
  1285. transformasionalis penganut tata bahasa generatif yang beranggapan bahwa bentuk turunan terjadi karena transformasi
  1286. transitif bersangkutan dengan kata kerja yang memerlukan objek
  1287. transkripsi pengalihan tuturan (yang berwujud bunyi) ke dalam bentuk tulisan
  1288. transkripsi penulisan kata, kalimat, atau teks dengan menggunakan lambang-lambang bunyi
  1289. transkripsi fonemis transkripsi yang menggunakan satu lambang untuk menggambarkan satu fonem tanpa melihat perbedaan fonetisnya
  1290. transkripsi fonetis transkripsi yang berusaha menggambarkan semua bunyi secara sangat teliti
  1291. transkripsi halus transkripsi yang mencoba menandai perbedaan fonetis yang ada selengkap mungkin
  1292. transkripsi kasar transkripsi fonetis yang menandai perbedaan fonetis yang penting (fungsional) saja
  1293. transmutasi penggunaan kata dalam kalimat dengan kategori yang berbeda tanpa mengubah bentuknya, seperti kata untung dalam untung dia cepat datang dan dia bekerja tanpa memikirkan untung rugi
  1294. transposisi proses atau hasil perubahan fungsi atau kelas kata tanpa penambahan apa-apa
  1295. trema tanda titik dua (¨) yang letaknya horizontal di atas vokal untuk menunjukkan bahwa vokal itu diucapkan sebagai suku terpisah (misalnya taät dalam ejaan lama)
  1296. triftong inti suku kata yang kualitasnya ditandai oleh tiga timbre vokal yang berbeda
  1297. trigraf kombinasi tiga huruf untuk melambangkan satu bunyi
  1298. triptotos kata yang mempunyai tiga sufiks yang berbeda untuk menandai kasus-kasus yang ada
  1299. trokea birama suku bertekanan diikuti oleh suku takbertekanan, atau suku panjang diikuti oleh suku pendek
  1300. tugas fungsi (jabatan)
  1301. tunggal bukan jamak (bukan majemuk); mufrad
  1302. turunan kata yang dibentuk dari hasil afiksasi, reduplikasi, atau penggabungan; kata jadian; kata turunan
  1303. undak usuk sistem ragam bahasa menurut hubungan antara pembicara, terjadi dari bahasa cakap, bahasa kasar, bahasa menengah, bahasa sedang, bahasa luwes
  1304. ungkapan kelompok kata atau gabungan kata yang menyatakan makna khusus (makna unsur-unsurnya sering kali menjadi kabur)
  1305. ungkapan gerak mata (tangan dan sebagainya), perubahan air muka yang menyatakan perasaan hati
  1306. ungkapan penghubung kata atau ungkapan yang menghubungkan unsur-unsur di dalam kalimat, atau kalimat dengan kalimat sebelumnya
  1307. ungkapan penghubung antarkalimat kata atau ungkapan penghubung yang menghubungkan sebuah kalimat dengan kalimat sebelumnya
  1308. ungkapan penghubung intrakalimat kata atau ungkapan penghubung antara unsur-unsur di dalam kalimat
  1309. universal kategori keilmubahasaan yang berlaku untuk semua bahasa
  1310. universalisme pendekatan dalam linguistik yang menganggap semua bahasa di dunia ini mempunyai dasar yang sama dengan sistem logika
  1311. unsur gramatikal unsur bentuk yang dapat dipisahkan berdasarkan fungsi tertentu
  1312. unsur ikonis unsur bahasa yang langsung berkaitan dengan perbuatan, benda, atau hal yang digambarkannya, seperti kokok dengan suara ayam, gemeretuk dengan suara gigi, fonem /i/ dengan sesuatu yang kecil, dan sebagainya
  1313. unsur leksikal satuan dari kosakata bahasa seperti kata atau frasa yang didaftarkan dalam kamus
  1314. unsur peyoratif unsur bahasa yang memberikan makna menghina, merendahkan, dan sebagainya
  1315. unsur pinjaman bunyi, fonem, unsur gramatikal, atau unsur leksikal yang diambil dari bahasa lain
  1316. unsur utama kata atau frasa yang dimodifikasikan oleh aposisi, misalnya adikku dalam adikku Hasan
  1317. untaian rangkaian unsur dalam deret linier; deret unsur gramatikal; deret morfem
  1318. untaian akhir untaian beberapa formatif yang dihasilkan oleh kaidah struktur frasa yang kemudian dioperasikan oleh kaidah transformasi
  1319. urutan kumpulan unsur-unsur bahasa berstruktur yang secara teoretis terletak berderetan dalam suatu hubungan formal
  1320. urutan kata penempatan kata dalam deretan tertentu menurut norma suatu bahasa, baik dalam tingkat kalimat dan klausa, maupun dalam tingkat frasa
  1321. urutan kata bebas urutan kata yang tidak dipakai untuk menandai hubungan gramatikal dan yang dapat diubah tanpa mengubah atau merusak makna kalimat, terutama terdapat dalam bahasa inflektif yang strukturnya ditandai oleh morfem terikat
  1322. urutan kata tetap urutan kata yang dipakai untuk menyatakan hubungan gramatikal dan yang tidak dapat diubah tanpa mengubah atau merusak makna kalimat
  1323. urutan pelolosan dua kaidah, A dan B, berurutan sehingga kaidah A mengubah segmen yang seharusnya menjadi masukan atau penentu kaidah B, maka dikatakan bahwa kaidah A meloloskan kaidah B, atau antara kaidah A dan B terdapat urutan pelolosan
  1324. urutan pelolosan balik dua kaidah, A dan B, berurutan sehingga A akan meloloskan B apabila urutan dibalik
  1325. urutan pengumpanan dua kaidah, A dan B berurutan sehingga kaidah A menghasilkan segmen yang menjadi masukan atau penentu kaidah B
  1326. urutan pengumpanan balik dua kaidah, A dan B berurutan sehingga A akan mengumpani B apabila urutannya dibalik
  1327. uvular bunyi yang terjadi karena penyempitan antara uvula dan belakang lidah, misalnya bunyi [R] dalam beberapa dialek Melayu dan bahasa Prancis standar
  1328. valensi hubungan sintaksis antara verba dan unsur di sekitarnya, mencakupi ketransitifan dan penguasaan verba atas argumen di sekitarnya
  1329. variabel satuan bahasa yang paling terpengaruh oleh variasi sosial dan stilistis, dalam jangka panjang mudah berubah
  1330. variabel kelas kata yang dapat menyatakan hubungan gramatikal dengan perubahan bentuk, dalam hal ini kelas nomina, verba, dan adjektiva
  1331. varian nilai tertentu suatu variabel, misalnya variabel [é] dalam bahasa Indonesia mempunyai dua varian, yaitu [e] dan [ε]
  1332. varian wujud satuan bahasa dalam konteks tertentu, misalnya alofon adalah varian dari fonem, alomorf adalah varian dari morfem
  1333. variasi wujud pelbagai manifestasi, baik bersyarat maupun tidak bersyarat dari suatu satuan
  1334. variasi konsep yang mencakupi variabel dan varian
  1335. varietas ragam bahasa
  1336. velarisasi artikulasi bunyi bahasa dengan dorsum diangkat ke arah velum
  1337. velum struktur atau selaput mirip kudung kepala, terdapat di rahang bagian atas
  1338. verba kata yang menggambarkan proses, perbuatan, atau keadaan; kata kerja
  1339. verbal bersifat verba
  1340. vibran bunyi bahasa yang diartikulasikan dengan getaran yang bersinambung antara alat ucap yang bergerak dan tidak bergerak, misalnya bunyi [v] dengan bibir bawah bergerak dan gigi atas tidak bergerak
  1341. vitalitas daya hidup suatu bahasa yang ditunjukkan oleh eksistensi dan intensitas penggunaannya dalam berbagai konteks sosial
  1342. vokal bunyi bahasa yang dihasilkan oleh arus udara dari paru-paru melalui pita suara dan penyempitan pada saluran suara di atas glotis
  1343. vokal satuan fonologis yang diwujudkan dalam lafal tanpa pergeseran, seperti [a], [i], [u], [e], [o]
  1344. vokalis oposisi ciri pembeda yang secara akustis ditandai oleh adanya lawan dan tiadanya struktur formal yang jelas, secara artikulasi ditandai oleh bergetar tidaknya selaput suara dan ada tidaknya hambatan dalam saluran suara
  1345. vokoid bunyi ujar yang pada dasarnya dihasilkan oleh alat ucap tanpa hambatan pada pita suara
  1346. wacana keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan
  1347. wacana satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh, seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah
  1348. wacana kemampuan atau prosedur berpikir secara sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat
  1349. wacana pertukaran ide secara verbal
  1350. wacana langsung kutipan wacana yang sebenarnya dibatasi oleh intonasi atau pungtuasi
  1351. wacana pembeberan wacana yang tidak mementingkan waktu dan penutur, berorientasi pada pelaku dan seluruh bagiannya diikat secara logis
  1352. wacana penuturan wacana yang mementingkan urutan waktu dituturkan oleh orang pertama atau ketiga dalam waktu tertentu, berorientasi pada pelaku, dan seluruh bagiannya diikat secara kronologis
  1353. warna bunyi sifat khusus yang menjadi dasar perbedaan bunyi vokal ditinjau dari sudut kesan dengar
  1354. wicara rangkaian bunyi bahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi; tutur kata; bicara
  1355. wicara buatan produksi bunyi manusia dengan alat-alat buatan
  1356. wicara esofagus bunyi bahasa yang dihasilkan dengan udara lewat kerongkongan, dipakai oleh orang yang laringnya telah dibedah
  1357. zoosemiotika penyelidikan mengenai komunikasi antara hewan