Wikikamus:Kutipan
|
|
Halaman ini merupakan konsep kasar bagi kebijakan, pedoman, atau petunjuk praktis yang belum ditetapkan secara resmi di Wikikamus bahasa Indonesia. Daftar isi: Kelayakan • Tata letak (Model entri) • Kutipan • Perlakuan bahasa • Pemungutan suara • Penghapusan |
Kutipan, juga disebut sitiran, adalah rekaman pemakaian sebuah istilah, yang disajikan dalam bentuk potongan teks beserta informasi kepustakaan di dalam sebuah entri Wikikamus.
Kegunaan
[sunting]Pemastian kelas kata dan makna
[sunting]Sebagaimana rujukan merupakan dasar bagi pemastian pernyataan, kutipan merupakan dasar bagi pemastian kelas kata dan makna sebuah istilah. Penyunting dapat memastikan kelas kata sebuah istilah dengan memperhatikan penggunaannya pada kutipan, apakah sebagai subjek/objek (nomina, pronomina), sebagai predikat (verba, adjektiva), atau unsur pelengkap kalimat lainnya.
Penyunting juga dapat memastikan apakah makna kutipan tersebut tetap sama ketika istilah sasaran ditukar dengan definisi yang dicantumkan di atasnya. Pemastian ini juga membantu penyunting dalam mempertimbangkan apakah penerangan definisi tersebut sudah tepat atau perlu disesuaikan.
Bukti ketercatatan
[sunting]Pemberian kutipan merupakan cara untuk membuktikan bahwa sebuah istilah memang tercatat dan dipakai secara umum oleh penutur dalam bahasa yang dimaksud. Contoh kutipan dari karya yang beragam oleh penulis berbeda dari periode berbeda dapat menunjukkan bahwa istilah tersebut sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari leksikon sebuah bahasa.
Contoh pemakaian
[sunting]Pemakaian sebuah istilah dalam situasi atau laras bahasa tertentu dapat digambarkan lewat kutipan. Penggambaran ini dapat mempermudah pembaca untuk memahami pemakaian istilah tersebut secara langsung, tanpa membutuhkan catatan penjelasan khusus. Walaupun penggambaran pemakaian juga dapat dilakukan dengan pencantuman contoh kalimat yang dibuat langsung oleh penyunting, contoh kalimat tidak dapat menggantikan fungsi utama kutipan sebagai dasar pemastian dan bukti ketercatatan.
Prinsip dasar
[sunting]Penggunaan alami
[sunting]Kutipan semestinya menggambarkan penggunaan alami sebuah istilah oleh penutur jati di dunia nyata. Penyebutan istilah dalam kamus atau sumber rujukan lain untuk penjabaran makna (seperti "Istilah X adalah...") bukanlah contoh penggunaan alami sehingga tidak dapat dikutip sebagai bukti ketercatatan. Hindari pula mengutip contoh yang memaknai istilah secara tidak biasa untuk keperluan sastrawi.
Konteks yang beragam
[sunting]Carilah kutipan yang menunjukkan keberagaman penggunaan sebuah istilah dalam sebanyak mungkin konteks kemunculan yang berbeda. Kutipan dapat diambil dari berbagai sumber tulisan dan lisan, mulai dari undang-undang, artikel berita, novel, cerpen, bahkan lagu dan film. Hindari menambahkan lebih dari satu kutipan dengan penggunaan dan konteks yang identik, karena hal ini tidak memberikan informasi baru.
Berdiri sendiri
[sunting]Kutipan sebaiknya memberikan konteks yang cukup tanpa perlu melihat lebih banyak teks dari sumber aslinya. Umumnya, sebuah istilah memerlukan setidaknya satu kalimat yang terdiri dari subjek serta predikat untuk menggambarkan maknanya, tetapi beberapa istilah mungkin saja memerlukan konteks yang lebih luas.
Pengujian kecukupan konteks dapat dilakukan dengan menukar istilah yang hendak digarisbawahi dengan "X". Apabila makna "X" masih bisa ditebak, berarti konteks yang tersedia sudah cukup. Contohnya, semisal kita menukar "Ia pergi ke pasar untuk membeli sayur dan beras" dengan "Ia pergi ke X untuk membeli sayur dan beras", makna "X" di situ masih bisa ditebak sebagai sebuah tempat (karena hadir setelah preposisi ke) yang menyediakan jual beli kebutuhan sehari-hari (karena dituju untuk membeli sayur dan beras).
Pendek
[sunting]Sebisa mungkin, carilah kutipan terpendek yang memenuhi prinsip-prinsip di atas. Kutipan yang terlalu panjang dapat mengganggu tampilan sebuah entri dan mempersulit navigasi bagi pembaca. Sebagai panduan, kutipan sebaiknya tidak lebih panjang dari dua kalimat.
Beda penggunaan dan penyebutan
[sunting]Berdasarkan kriteria ketercatatan, istilah yang ingin dibuktikan ketercatatannya melalui kutipan haruslah digunakan untuk menyatakan makna yang dikandungnya secara langsung, bukan sekadar disebutkan atau diterangkan maknanya.
Contoh kutipan berikut ini tidak sah untuk dijadikan bukti ketercatatan bagi kata palum dalam bahasa Indonesia:
- Lawan kata dari haus adalah palum. Dalam KBBI, palum didefinisikan sebagai sudah puas minum; hilang rasa haus. Kata ini diserap dari bahasa Batak Pakpak.
Pada kutipan di atas, palum hanya diterangkan sebagai "sudah puas minum; hilang rasa haus". Makna ini tidak dapat dipastikan, karena tidak ada konteks yang menggambarkan penggunaannya.
Sebaliknya, kutipan berikut ini dapat digunakan sebagai bukti ketercatatan bagi kata galgah dalam bahasa Indonesia:
Pada kutipan di atas, galgah tidak diterangkan maknanya. Namun, apabila kita memerhatikan konteks kemunculannya, kita dapat memastikan bahwa istilah ini bermakna "tidak haus lagi".
Tentunya, penyunting dapat terus memperbarui atau menambahkan makna bagi istilah ini, seiring dengan penambahan jumlah dan keragaman konteks dari kutipan yang dijadikan bukti ketercatan.