Lompat ke isi

Kategori:id:Istilah sastra

Dari Wikikamus bahasa Indonesia, kamus bebas
Halaman yang ada di kategori ini berasal dari penggunaan templat {{Sas}} (cek pranala).

Istilah-istilah yang terdaftar di kategori ini atau turunannya merupakan Istilah-istilah yang berhubungan dengan sastra:

  1. abaian penghilangan atau pengubahan bagian naskah yang tidak dipahami lagi oleh penyalin
  2. aforisme pernyataan yang padat dan ringkas tentang sikap hidup atau kebenaran umum (seperti peribahasa)
  3. agon adegan dalam drama yang menunjukkan perdebatan (perselisihan) antara tokoh protagonis dan tokoh antagonis
  4. agroikos pelaku yang berperan sebagai pemain yang menjadi bulan-bulanan atau bahan tertawaan
  5. ajaib sesuatu yang aneh; keheranan; yang tidak dapat diterangkan dengan akal
  6. alazon pelaku yang berperan sebagai pembual, pembohong, dan sebagainya
  7. alegori cerita yang dipakai sebagai lambang (ibarat atau kias) perikehidupan manusia yang sebenarnya untuk mendidik (terutama moral) atau menerangkan sesuatu (gagasan, cita-cita, atau nilai kehidupan, seperti kebijakan, kesetiaan, dan kejujuran)
  8. aliterasi sajak awal (untuk mendapatkan efek kesedapan bunyi)
  9. aliterasi pengulangan bunyi konsonan dari kata-kata yang berurutan
  10. alur rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan saksama dan menggerakkan jalan cerita melalui kerumitan ke arah klimaks dan penyelesaian
  11. alur jalinan peristiwa dalam karya sastra untuk mencapai efek tertentu (pautannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal atau waktu dan oleh hubungan kausal atau sebab-akibat)
  12. alur balik perubahan keadaan yang berlawanan dengan keadaan yang diharapkan
  13. alur bawahan alur kedua atau tambahan yang disisipkan di sela-sela bagian alur utama sebagai variasi
  14. alur cahaya bagan yang berkenaan dengan peralatan tata cahaya, isyarat, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan penataan cahaya dalam pementasan lakon
  15. alur cerita jalinan peristiwa dalam cerita untuk memperoleh efek tertentu
  16. alur erat jalinan peristiwa yang sangat padu dalam karya sastra, kalau salah satu peristiwa ditiadakan, keutuhan cerita akan terganggu
  17. alur ketat alur erat
  18. alur longgar jalinan peristiwa yang tidak padu dalam karya sastra
  19. alur menanjak jalinan peristiwa dalam karya sastra yang makin lama makin menanjak, tanpa ada peleraian hingga cerita itu selesai di puncak
  20. alusi majas perbandingan yang merujuk secara tidak langsung seorang tokoh atau peristiwa pada karya sastra; kilatan
  21. amanat gagasan yang mendasari karya sastra
  22. amanat pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca atau pendengar
  23. anabasis bagian alur cerita yang menggambarkan penonjolan kejadian menuju klimaks
  24. anakronisme penempatan tokoh, peristiwa percakapan, dan unsur latar yang tidak sesuai menurut waktu di dalam karya sastra (seperti Hang Tuah melihat arlojinya, lalu menghidupkan pesawat televisinya)
  25. anapes sajak yang terdiri atas tiga suku kata atau dua suku kata tidak bertekanan, yang diikuti oleh suku kata bertekanan
  26. ancang ekstrinsik pendekatan terhadap karya sastra dengan menggunakan ilmu bantu bukan sastra, seperti sejarah, sosiologi, dan psikologi
  27. ancang intrinsik pendekatan terhadap karya sastra yang bertolak dari unsur-unsur dalam karya sastra itu sendiri, yang objek kajiannya semata-mata unsur dalam karya sastra itu
  28. angkatan kelompok sastrawan yang bertindak sebagai kesatuan yang berpengaruh pada masa tertentu dan secara umum menganut prinsip yang sama untuk mendasari karya sastra
  29. angkatan pengangkatan; keangkatan
  30. Angkatan Balai Pustaka sastrawan dan karya sastra yang terbit antara tahun 1920--1950, dipelopori oleh penerbit Balai Pustaka, pada masa ini prosa (roman, novel, cerita pendek, drama dan sebagainya) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam, dan hikayat
  31. angkatan empat puluh lima kelompok pengarang dan seniman yang muncul sekitar tahun 1945
  32. Angkatan Pujangga Baru angkatan sastrawan yang muncul sesudah angkatan Balai Pustaka sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa itu
  33. antagonis tokoh dalam karya sastra yang merupakan penentang dari tokoh utama; tokoh lawan
  34. antah-berantah terdapat di dalam dunia khayal atau dongeng saja
  35. antinovel karya sastra yang pengarangnya meniadakan penggunaan unsur struktur novel dalam pengertian tradisional, khususnya berkenaan dengan perkembangan alur
  36. antiwirawan tokoh yang tidak memiliki nilai keagungan hidup (keberanian, idealisme, dan ketabahan) yang tercermin dalam tindakan dan maksud yang mulia
  37. arsis tekanan suara naik
  38. arsis suku kata yang mendapat tekanan pada suatu kaki sajak
  39. asimilasi penyesuaian (peleburan) sifat asli yang dimiliki dengan sifat lingkungan sekitar
  40. asonansi perulangan bunyi vokal dalam deretan kata; purwakanti
  41. atmosfer suasana perasaan yang bersifat imajinatif dalam naskah drama yang diciptakan oleh pengarangnya
  42. babad kisahan berbahasa Jawa, Sunda, Bali, Sasak, dan Madura yang berisi peristiwa sejarah; cerita sejarah
  43. babak bagian besar dalam suatu drama atau lakon (terdiri atas beberapa adegan)
  44. bahasa bermajas bahasa yang menggunakan kata-kata yang susunan dan artinya sengaja disimpangkan dengan maksud mendapatkan kesegaran dan kekuatan ekspresi
  45. balada sajak sederhana yang mengisahkan cerita rakyat yang mengharukan, kadang-kadang berupa nyanyian (dinyanyikan), kadang-kadang berupa dialog
  46. barok ciri-ciri tertentu yang dimiliki oleh tokoh drama tragedi (seperti sikap agung, tidak langsung)
  47. batak petualang; pengembara
  48. bengawan paya
  49. berketopong diselubungi
  50. bina akumulasi dan akselerasi secara bertahap dalam tempo, intensitas, emosi, dan kelakuan untuk mencapai titik klimaks dalam drama
  51. biomekani metode pementasan yang aktornya berperan hanya seperti boneka, tidak memiliki kepribadian dan kehilangan daya pikir
  52. bombas ungkapan yang berlebih-lebihan dalam berlakon; bahasa atau kata yang muluk-muluk; gembusan
  53. bonet sastra lisan dari Timor berupa tuturan syair, dilantunkan sambil menari membentuk lingkaran dan bergandeng tangan, biasanya dilakukan saat perkawinan atau pesta adat
  54. cacat naskah bagian naskah yang mengandung keburukan
  55. cakapan karya sastra atau bagiannya yang berbentuk percakapan antara dua tokoh atau lebih, atau adakalanya seorang tokoh berbicara kepada dirinya sendiri atau kepada pembaca dan pendengar; dialog
  56. cakapan tunggal cakapan panjang yang diucapkan oleh seorang tokoh dalam sebuah karya sastra, baik yang ditujukan kepada diri sendiri maupun yang ditujukan kepada pendengar; monolog
  57. cakapan tunggal dramatik sajak yang terdiri atas kata-kata yang diucapkan seorang tokoh tunggal pada saat kritis, yang mengungkapkan keadaan dirinya dan situasi yang dihadapinya
  58. candra bulan
  59. candra sebangsa dewa
  60. caturlarik bait atau sajak yang terdiri atas empat larik, biasanya berpola rima a-b-a-b
  61. caturlarik salah satu dari kedua bait dalam oktaf soneta yang terdiri atas empat baris; kuatren
  62. cerita berantai rangkaian cerita yang cerita pertamanya membuahkan cerita kedua dan selanjutnya
  63. cerita berbingkai cerita yang di dalamnya mengandung cerita lain (pelaku atau peran dalam cerita itu bercerita)
  64. cerita bersambung cerita rekaan yang dimuat sebagian demi sebagian, secara berturut-turut di dalam surat kabar atau majalah; roman berangsur
  65. cerita binatang cerita yang menggambarkan watak dan budi manusia yang pelakunya diperankan oleh binatang, biasanya mengandung ibarat, hikmah, atau ajaran budi pekerti; fabel
  66. cerita bingkai cerita berbingkai
  67. cerita ibarat cerita yang disusun untuk menyampaikan ajaran agama, ajaran moral, atau kebenaran umum dengan menggunakan perbandingan atau ibarat; parabel
  68. cerita jenaka cerita penghibur yang membangkitkan tawa, jenaka, keriangan atau sindiran, misalnya Si Kabayan (Sunda), Pak Pandir, Pak Belalang (Melayu)
  69. cerita nyata cerita yang diangkat dari peristiwa yang benar-benar terjadi
  70. cerita pendek kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi (pada suatu ketika)
  71. cerita rakyat cerita dari zaman dahulu yang hidup di kalangan rakyat dan diwariskan secara lisan
  72. cerita rekaan cerita yang sengaja dikarang oleh pengarangnya sebagai hasil khayalannya; cerita khayal; fiksi
  73. ciri mantra (doa) yang dibacakan pada waktu penobatan raja; ceria
  74. citra kesan mental atau bayangan visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frasa, atau kalimat, dan merupakan unsur dasar yang khas dalam karya prosa dan puisi
  75. citraan cara membentuk citra mental pribadi atau gambaran sesuatu; kesan atau gambaran visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frasa, atau kalimat, dan merupakan unsur dasar yang khas dalam karya prosa dan puisi
  76. dame tokoh wanita yang secara tradisional diperankan oleh laki-laki
  77. datu raja; ratu
  78. datung datuk; kakek
  79. dekontekstualisasi jarak waktu yang memisahkan pembaca teks dengan teks yang ditelitinya sebagai tidak adanya kemungkinan pembaca bertanya secara langsung tentang teks yang ditelitinya
  80. depersonifikasi majas yang berupa pembandingan manusia dengan bukan manusia atau dengan benda (misalnya dikau langit, daku bumi)
  81. dialog batin kata-kata yang diucapkan oleh pemain untuk mengungkapkan pikiran atau perasaannya tanpa ditujukan kepada pemain lain
  82. dialog pemancing kata-kata pemancing yang diucapkan oleh seorang pemain kepada pemain lain yang lupa akan percakapan lanjutannya
  83. dialog pribadi ucapan pemain kepada penonton, dan ucapan itu tidak terdapat dalam naskah
  84. digresi peristiwa yang menyimpang dari pokok masalah yang sedang dihadapi dalam karya sastra
  85. digresi bagian yang tidak langsung bertalian dengan tema dan alur karya sastra
  86. diri engkau
  87. distikon puisi yang setiap baitnya terdiri atas dua baris, biasanya berirama akhir; kuplet tertutup
  88. drama komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (peran) atau dialog yang dipentaskan
  89. drama cerita atau kisah, terutama yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater
  90. drama kejadian yang menyedihkan
  91. drama absurd drama yang sengaja mengabaikan atau melanggar konvensi alur, penokohan, tematik
  92. drama baca naskah drama yang hanya cocok untuk dibaca, bukan dipentaskan
  93. drama borjuis drama yang bertema tentang kehidupan kaum bangsawan (muncul abad ke-18)
  94. drama duka drama yang khusus menggambarkan kejatuhan atau keruntuhan tokoh utama
  95. drama duka drama yang melukiskan tikaian di antara tokoh utama dan kekuatan yang luar biasa yang berakhir dengan malapetaka atau kesedihan; tragedi
  96. drama duka ria drama dengan alur yang sebenarnya lebih cocok untuk drama duka, tetapi berakhir dengan kebahagiaan
  97. drama heroik drama yang merupakan peniruan bentuk tragedi dan yang selalu bertemakan cinta dan nama baik
  98. drama liris drama yang berbentuk puisi
  99. drama mini kata drama yang dialognya pendek-pendek
  100. drama realis drama yang ditulis sesuai dengan konsep aliran realisme dalam teater
  101. drama satire drama yang berisi sindiran, umumnya bersifat komedi
  102. drama tendens drama yang berisi masalah sosial, seperti kepincangan yang terjadi dalam masyarakat
  103. dramaturg ahli seni drama
  104. dramaturg pengarang naskah drama
  105. dramaturgi keahlian dan teknik penyusunan karya dramatik
  106. dwimatra larik yang terdiri atas dua kaki matra (dua pasang kaki yang bertekanan)
  107. edisi versi karya sastra yang diterbitkan pada waktu dan tempat tertentu
  108. ekranisasi alih wahana
  109. eksodos adegan penutup dalam drama Yunani kuno, khususnya tragedi
  110. eksposisi bagian awal karya sastra yang berisi keterangan tentang tokoh dan latar; paparan
  111. enjambemen peristiwa sambung-menyambungnya isi dua larik sajak yang berurutan
  112. envoi bait penutup yang pendek
  113. epifora pengulangan sebuah kata atau lebih pada akhir beberapa larik sajak atau pada akhir beberapa frasa yang berurutan untuk mencapai kesedapan bunyi atau keefektifan bahasa; pengulangan kata-kata untuk penegasan dalam puisi
  114. epigraf kalimat atau bagian kalimat pada bagian awal karya sastra yang menggambarkan tema
  115. epigram syair atau ungkapan pendek yang mengandung gagasan atau peristiwa yang diakhiri dengan pernyataan menarik dan biasanya merupakan sindiran
  116. epigram peribahasa yang padat dan penuh kearifan, sering mengandung paradoks
  117. epilog bagian penutup pada karya sastra, yang fungsinya menyampaikan inti sari cerita atau menafsirkan maksud karya itu oleh seorang aktor pada akhir cerita
  118. epilog pidato singkat pada akhir drama yang memuat komentar tentang apa yang dilakonkan
  119. epilog peristiwa terakhir yang menyelesaikan peristiwa induk
  120. epitel kata atau frasa yang ditambahkan pada nama seseorang atau sesuatu untuk memerikan sifat khas nya; julukan
  121. epos cerita kepahlawanan; syair panjang yang menceritakan riwayat perjuangan seorang pahlawan; wiracarita
  122. erotika karya sastra yang tema atau sifatnya berkenaan dengan nafsu kelamin atau keberahian
  123. eskapisme kehendak atau kecenderungan menghindar dari kenyataan dengan mencari hiburan dan ketenteraman di dalam khayal atau situasi rekaan
  124. fabel cerita yang menggambarkan watak dan budi manusia yang pelakunya diperankan oleh binatang (berisi pendidikan moral dan budi pekerti)
  125. fabula istilah Latin untuk berbagai bentuk drama
  126. fiksi cerita rekaan (roman, novel, dan sebagainya)
  127. fiksi mini fiksi pendek yang dibuat tidak lebih dari 140 karakter huruf
  128. filmisasi alih wahana ke film
  129. fokalisasi sudut pandang penceritaan
  130. garis lakon bagian cerita yang mengandung situasi dramatis
  131. gawatan bagian alur yang mencakup rumitan dan tikaian serta menuju ke klimaks atau titik balik; gerak menanjak
  132. gazal puisi yang berasal dari Persia, terdiri atas delapan baris, tiap bait berisi perihal asmara dan tiap baris berakhir dengan kata yang sama
  133. gejala sastra isu-isu seperti pelarangan, pengadilan sastra, kata dan istilah khas yang menjadi perdebatan sastra
  134. gemaung berkumandang; bergaung
  135. gemawan berbagai-bagai rupa awan
  136. gemawan melayang (tentang awan)
  137. gembusan bombas
  138. gemirang girang; sukaria
  139. genre jenis, tipe, atau kelompok sastra atas dasar bentuknya; ragam sastra
  140. gentala kereta sakti yang bergerak sendiri
  141. gerak menanjak gawatan
  142. gerak tentangan gerak seorang pemain di atas pentas yang berlawanan dengan gerak kelompok pemain pada umumnya
  143. gita puja sajak lirik yang dinyanyikan untuk memuliakan Tuhan atau sesuatu yang dimuliakan seperti pahlawan bangsa, cita-cita; himne
  144. guru lagu bunyi sanjak akhir tertentu di setiap baris kalimat tembang macapat
  145. guru suara guru lagu
  146. guru wilangan jumlah suku kata tertentu dalam setiap tembang macapat
  147. haiku puisi Jepang yang biasanya menggunakan ilusi dan perbandingan, terdiri atas 17 suku kata yang terbagi menjadi 3 larik, larik pertama 5 suku, larik kedua 7 suku, dan larik ketiga 5 suku
  148. heptameter sajak yang terdiri atas tujuh suku
  149. hero tokoh utama dalam novel, puisi, dan sebagainya yang mampu menimbulkan rasa simpati pembaca
  150. iambus pertentangan bunyi keras (panjang) dan lunak (pendek)
  151. ictus tekanan yang berulang-ulang pada urutan sajak
  152. idealisme aliran yang mementingkan khayal atau fantasi untuk menunjukkan keindahan dan kesempurnaan meskipun tidak sesuai dengan kenyataan
  153. insanan majas yang memberikan sifat-sifat manusia kepada barang yang tidak bernyawa; personifikasi
  154. interpolasi penyisipan kata, kalimat, dan sebagainya dalam buku atau naskah
  155. interpolasi pengalihan pola (pikir, pandangan, dan sebagainya)
  156. intertekstualitas hubungan yang muncul antara teks-teks berbeda, khususnya teks sastra, atau pengacuan dalam satu teks dengan teks yang lain
  157. irama alunan yang terjadi karena perulangan dan pergantian kesatuan bunyi dalam arus panjang pendek bunyi, keras lembut tekanan, dan tinggi rendah nada (dalam puisi)
  158. ironi majas yang menyatakan makna yang bertentangan dengan makna sesungguhnya, misalnya dengan mengemukakan makna yang berlawanan dengan makna yang sebenarnya dan ketidaksesuaian antara suasana yang diketengahkan dan kenyataan yang mendasarinya
  159. ironi dramatik situasi yang timbul dalam drama, apabila seorang tokoh mengucapkan sesuatu yang bermakna bagi pembaca atau penonton, tetapi tidak disadari oleh tokoh lain
  160. ironi dramatik informasi yang diberikan kepada penonton atau pembaca melalui ucapan mengenai identitas seorang tokoh, maksud, atau suatu peristiwa
  161. jawi Melayu
  162. jayeng menang atas; menang di
  163. jeda larik hentian arus ujaran dalam pembacaan sajak yang ditentukan oleh peralihan larik dalam sajak
  164. jentaka celaka; sengsara; sial
  165. jihat arah; sisi; pihak
  166. juru panggil orang yang bertugas memanggil para pemain dalam pertunjukan drama
  167. kakawin jenis puisi Jawa Kuno
  168. kakofoni rangkaian bunyi yang tidak harmonis yang sengaja digunakan dalam puisi untuk mendapatkan efek artistik atau menarik perhatian pembaca
  169. kanon karya drama yang dianggap ciptaan asli seorang penulis
  170. kanon karya drama yang dianggap ciptaan asli seorang penulis
  171. kanto bagian puisi yang panjang
  172. karas papan kayu atau keping batu yang dipakai oleh penyair susastra Jawa Kuno untuk menuliskan karyanya
  173. katarsis kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis
  174. katastrofe penyelesaian (akhir) suatu drama, terutama drama klasik yang bersifat tragedi
  175. kawah candradimuka kawah yang keramat dan sakti dalam cerita wayang tempat penggemblengan kesatria agar menjadi sakti dan tangguh
  176. kejadian peristiwa dalam suatu drama yang dinyatakan dalam gerak dan dialog
  177. kejutan perubahan dalam lakuan secara tiba-tiba dan tidak terduga sehingga lanjutan cerita tidak sesuai dengan dugaan pembaca
  178. kelong pantun Bugis
  179. kialan pertunjukan drama tanpa suara karena dialog diganti dengan gerakan tangan, badan, dan mimik; pantomim
  180. kilas balik sorot balik
  181. kilatan ragam gaya bahasa perbandingan yang merujuk secara tidak langsung pada suatu karya sastra, salah seorang tokoh, atau peristiwanya; alusi
  182. klimaks kejadian atau adegan yang paling menarik atau penting
  183. koherensi keselarasan yang mendalam antara bentuk dan isi karya sastra
  184. kolase teknik penyusunan karya sastra dengan cara menempelkan bahan-bahan, seperti ungkapan asing dan kutipan, biasanya dianggap tidak berhubungan satu dengan yang lain
  185. kolase cara menentukan naskah yang dianggap asli dengan membanding-bandingkan naskah yang ada
  186. kolator orang (petugas) yang membanding-bandingkan naskah untuk menentukan naskah yang dianggap asli; orang (petugas) yang melakukan kolase
  187. kolofon catatan penulis, umumnya pada akhir naskah atau terbitan, berisi keterangan mengenai tempat, waktu, dan penyalin naskah
  188. komedi satire komedi yang berisi pernyataan sindiran (kepedihan, kegetiran, dan sebagainya) terhadap suatu keadaan atau seseorang
  189. konflik ketegangan atau pertentangan di dalam cerita rekaan atau drama (pertentangan antara dua kekuatan, pertentangan dalam diri satu tokoh, pertentangan antara dua tokoh, dan sebagainya)
  190. konon kabar
  191. konon istimewa pula; apalagi; jangan lagi
  192. konsonansi pengulangan bunyi konsonan yang berdekatan yang mengapit vokal yang berbeda, digunakan dalam puisi untuk mencapai efek tertentu
  193. korespondensi perihal hubungan antara bunyi yang satu dan yang lain dalam sajak
  194. korespondensi hubungan antara bentuk dan isi
  195. korpus himpunan karangan dengan tema, masalah, pengarang, atau bentuk yang sama
  196. krisis saat yang menentukan di dalam cerita atau drama ketika situasi menjadi berbahaya dan keputusan harus diambil
  197. kuatren puisi yang terdiri atas empat larik dalam satu bait; puisi empat seuntai
  198. kubisme usaha (dalam puisi) untuk memecah-mecah unsur pengalaman, kemudian menyusunnya kembali dalam sintesis baru
  199. kuin sajak lima seuntai
  200. kuintet puisi (sajak) yang setiap baitnya terdiri atas lima larik
  201. kuplet tertutup distikon
  202. lakon peristiwa atau karangan yang disampaikan kembali dengan tindak tanduk melalui benda perantara hidup (manusia) atau sesuatu (boneka, wayang) sebagai pemain
  203. lakon peran utama
  204. lakon karangan yang berupa cerita sandiwara (dengan gaya percakapan langsung)
  205. lakon perbuatan; kejadian; peristiwa
  206. lakon episodik lakon yang terdiri atas sejumlah episode yang jalinannya mengikuti arus longgar
  207. laku dramatis laku yang sesuai dengan kehendak perwatakan dan didasarkan pada pergolakan yang terjadi dalam jiwa pelaku
  208. lakuan deretan peristiwa nyata atau fiksi yang membangun sebagian alur dramatik
  209. lanturan penyimpangan dalam cerita akibat masuknya bagian cerita yang menyimpang yang tidak secara langsung berhubungan dengan cerita; digresi
  210. latar keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra
  211. leraian bagian struktur alur sesudah mencapai klimaks yang menunjukkan perkembangan lakuan ke arah penyelesaian
  212. lirik karya sastra (puisi) yang berisi curahan perasaan pribadi
  213. lirik susunan kata sebuah nyanyian
  214. lokalitas wilayah, tempat, kondisi, atau situasi dalam teks yang menggambarkan para pelaku memainkan perannya
  215. lokalitas ruang kultural yang menyimpan potret sosial dan ideologi yang direpresentasikan melalui interaksi tokoh-tokohnya dan dinamika kultural yang mengungkapkan dan menyimpan nilai-nilai tentang manusia dalam kehidupan berkebudayaan
  216. lokalitas proses pemaknaan atas teks, baik yang tersurat maupun yang tersirat
  217. manajer pentas petugas yang berada di belakang pentas untuk memimpin pertunjukan drama
  218. masnawi jenis puisi asal Parsi, berirama dua-dua, dan berisi pujaan
  219. matra bagan yang dipakai dalam penyusunan baris sajak yang berhubungan dengan jumlah, panjang, atau tekanan suku kata
  220. meiosis majas yang mengandung pernyataan yang merendah untuk penekanan, sering dipakai secara ironis, khususnya untuk menggambarkan sesuatu yang luar biasa atau yang mengesankan, misalnya hasilnya agak kurang baik untuk maksud “pekerjaannya gagal”
  221. melodrama lakon modern yang serius, tetapi yang belum dapat disebut sebagai drama duka
  222. melodrama pergelaran seni deklamasi yang diiringi musik
  223. melodramatis bersifat melodrama; bersifat menggetarkan perasaan hati; sensasional
  224. metrum ukuran irama yang ditentukan oleh jumlah dan panjang tekanan suku kata dalam setiap baris
  225. metrum pergantian naik turun suara secara teratur dengan pembagian suku kata yang ditentukan oleh golongan sintaksis
  226. mimesis tiruan perilaku atau peristiwa antarmanusia
  227. monodi sajak yang dinyanyikan seorang pemeran dalam tragedi Yunani
  228. monodi sajak duka yang dibawakan oleh satu orang dalam meratapi kematian seseorang
  229. monodrama drama yang dimainkan atau dirancang untuk dimainkan oleh seorang aktor atau aktris
  230. monolog dramatik sajak yang terdiri atas kata-kata yang diucapkan seorang tokoh tunggal pada saat kritis yang mengungkapkan keadaan dirinya dan situasi yang dihadapinya
  231. moralitas sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun
  232. narasi cerita atau deskripsi suatu kejadian atau peristiwa; kisahan
  233. narasi tema suatu karya seni
  234. naratologi studi tentang narasi dan struktur naratif
  235. nazam puisi yang berasal dari Parsi, terdiri atas dua belas larik, berima dua-dua atau empat-empat, isinya perihal hamba sahaya istana yang setia dan budiman
  236. nazam karangan
  237. nonfiksi yang tidak bersifat fiksi, tetapi berdasarkan fakta dan kenyataan (tentang karya sastra, karangan, dan sebagainya)
  238. novel karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku
  239. novel grafis cerita bergambar yang mempunyai alur lebih kompleks daripada komik, tidak berseri
  240. novel polifonik novel yang sangat ritmis yang menggunakan perangkat puitis, seperti aliterasi dan asonansi
  241. novel web novel yang diterbitkan di jaringan internet, berbentuk halaman laman, berkas yang bisa diunduh, atau bentuk elektronik lain
  242. novela kisahan prosa rekaan yang lebih panjang dan lebih kompleks daripada cerita pendek, tetapi tidak sepanjang novel, jangkauannya biasanya terbatas pada satu peristiwa, satu keadaan, dan satu titik tikaian; novelet
  243. novelet novel pendek; novela
  244. novelis pengarang novel
  245. oktaf sajak yang terdiri atas delapan larik dalam satu bait
  246. omnibus kompilasi beberapa karya (film, buku, dan sebagainya), biasanya ditulis atau dibuat oleh orang yang sama, melibatkan karakter yang sama atau memiliki tema yang sama, yang sebelumnya pernah diluncurkan secara terpisah
  247. padah teknik penyusunan peristiwa dan penjelasan dalam alur kisahan atau drama, yang berfungsi memberikan bayangan peristiwa sebelum peristiwa itu terjadi
  248. padatan cerita yang disarikan atau dipendekkan dengan membuang bagian tertentu
  249. pancingan teknik penyajian awal cerita rekaan untuk memancing minat pembaca
  250. panji tokoh cerita sastra Nusantara lama yang dalam pengembangannya menunjukkan sifat kepahlawanan yang mampu mengatasi segala tantangan
  251. parabel cerita rekaan untuk menyampaikan ajaran agama, moral, atau kebenaran umum dengan menggunakan perbandingan atau ibarat
  252. parados kedua bagian kiri dan kanan teater Yunani yang merupakan jalan masuk penonton dan pemain
  253. parados lagu pertama yang dinyanyikan paduan suara sambil berjalan menuju orkestra
  254. pemeranan kelompok sistem pertunjukan drama yang penekanannya pada penggabungan semua peran pada pementasan utama
  255. pendekatan ekstrinsik pendekatan karya sastra dengan menggunakan ilmu bantu bukan sastra, seperti sejarah, sosiologi, dan psikologi
  256. pendekatan intrinsik pendekatan karya sastra dengan menerapkan teori dan kaidah sastra yang penelaahannya bertolak dari karya sastra itu sendiri
  257. pengial pemain yang bermain dengan kialan
  258. pengutik alat yang terbuat dari pisau kecil yang dipakai untuk menulis huruf pada daun lontar dalam tradisi kesusastraan Jawa Kuno
  259. pentameter baris sajak yang terdiri atas lima matra
  260. perkataan cerita; kisah
  261. plot jalan (alur) cerita (dalam novel, sandiwara, dan sebagainya)
  262. prosa karangan bebas (tidak terikat oleh kaidah yang terdapat dalam puisi)
  263. prosenium dinding permanen yang berkubah yang memisahkan bagian pentas dari bagian tempat duduk penonton
  264. prosodi kajian tentang persajakan, yaitu mengkaji tekanan, matra, rima, irama, dan bait dalam sajak
  265. protagonis tokoh utama dalam cerita rekaan
  266. protasis eksposisi; paparan
  267. puisi esai ragam sastra berisi pesan sosial dan moral melalui kata sederhana dan pola tertulis berbait-bait, berupa fakta, fiksi, dan catatan kaki
  268. purwapada hiasan dan tanda pada awal penulisan dari rangkaian teks tembang dalam tulisan Jawa
  269. regangan proses menambah ketegangan emosional atau proyeksi vokal suatu adegan
  270. repetisi gaya bahasa yang menggunakan kata kunci yang terdapat di awal kalimat untuk mencapai efek tertentu dalam penyampaian makna ulangan (sandiwara dan sebagainya)
  271. saga cerita rakyat (berdasarkan peristiwa sejarah yang telah bercampur fantasi rakyat); prosa kisahan lama yang bersifat legendaris tentang kepahlawanan keluarga yang terkenal atau pertualangan yang mengagumkan
  272. sasmita gerakan bagian tubuh, seperti tangan, lengan, bahu kepala, atau muka dalam pergelaran drama
  273. sastra peranakan karya sastra yang dihasilkan oleh pengarang berketurunan campuran pribumi dengan peranakan (Tionghoa) yang terbit pada zaman Belanda
  274. satire gaya bahasa yang dipakai dalam kesusastraan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang
  275. sekstet sajak enam seuntai
  276. selarasan kombinasi unsur karya sastra yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menampilkan keutuhan dasar karya itu
  277. selesaian pengakhiran tikaian dramatik pada akhir suatu karya sastra, biasanya menjelaskan rahasia atau kesalahpahaman yang bertalian dengan alurnya
  278. seloka jenis puisi yang mengandung ajaran (sindiran dan sebagainya), biasanya terdiri atas 4 larik yang berima a-a-a-a, yang mengandung sampiran dan isi
  279. sengkalan sastra sengkalan berupa gambar aksara Jawa
  280. sinrili tradisi lisan yang berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan, berisi cerita kepahlawanan, keagamaan, dan percintaan, dibawakan oleh seorang penyinrili dengan diiringi musik instrumental dengan gesekan keso-keso (rebab), dimainkan siang hari atau malam hari sesudah sembahyang Isa di anjungan rumah atau tempat terbuka pada waktu-waktu tertentu (perkawinan, syukuran, pesta panen dan sebagainya)
  281. sirkulasi kelas gerak setiap pribadi dari satu kelas sosial ke kelas sosial lain, baik secara vertikal maupun horizontal
  282. sorot balik penyelaan urutan kronologis di dalam karya sastra atau lakon dengan mengungkapkan peristiwa yang terjadi sebelumnya seolah-olah terjadi saat ini tanpa sepengetahuan pembaca tentang apa yang akan terjadi
  283. stanza kumpulan larik sajak yang menjadi satuan struktur sajak, ditentukan oleh jumlah larik, pola matra, atau rima; bait
  284. stema silsilah yang menggambarkan asal-usul naskah
  285. surealisme aliran dalam seni sastra yang mementingkan aspek bawah sadar manusia dan nonrasional dalam citraan (di atas atau di luar realitas atau kenyataan)
  286. syair puisi lama yang tiap-tiap bait terdiri atas empat larik (baris) yang berakhir dengan bunyi yang sama
  287. syair sajak; puisi
  288. tajuk judul, kepala surat (makalah, surat kabar, dan sebagainya)
  289. tajusalatin mahkota segala raja; tajuk
  290. tarikh sejarah; tambo; riwayat
  291. tawarik sejarah, tambo, riwayat
  292. teater epik teater bergaya antirealistik yang dapat mengundang penonton untuk mengamati tokoh dan watak, bukan untuk mengidentifikasi diri dengan mereka
  293. tegangan ketidakpastian yang berkelanjutan atau suasana yang makin mendebarkan yang diakibatkan oleh jalinan alur dalam cerita rekaan atau lakon
  294. tegangan pemungkas adanya secercah harapan yang kadang-kadang timbul saat menjelang terjadinya penyelesaian dalam drama duka
  295. terzina sajak yang terdiri atas tiga baris seuntai dengan bagan rima a-b-a, b-c-b, c-d-c, d-c-d
  296. tikaian alat atau sarana terjadinya konflik
  297. tokoh pemegang peran (peran utama) dalam roman atau drama
  298. tokoh bulat tokoh dalam karya susastra yang diperikan segi-segi wataknya sehingga dapat dibedakan dari tokoh yang lain
  299. tokoh datar tokoh dalam karya susastra yang hanya diungkapkan satu segi wataknya, tidak dikembangkan secara maksimal, dan apa yang dilakukan atau dikatakannya tidak menimbulkan kejutan pada pembaca
  300. tokoh fiksi tokoh karya fiksi
  301. tokoh fiktif tokoh fiksi
  302. tokoh pipih tokoh datar
  303. tokoh utama peran utama dalam cerita rekaan atau drama
  304. tokong terpotong rambutnya (tentang perempuan sebagai hukuman)
  305. tokong berambut pendek (tentang perempuan)
  306. tukang kaba pendongeng yang menjajakan ceritanya keliling kampung
  307. tun sebutan untuk bangsawan; tuan
  308. ungkaian peristiwa atau deret peristiwa yang terjadi sesudah klimaks di dalam alur, sebagai kesudahan dramatik dalam karya sastra

Halaman-halaman dalam kategori "id:Istilah sastra"

Kategori ini memiliki 200 halaman, dari 227.

(halaman sebelumnya) (halaman selanjutnya)
(halaman sebelumnya) (halaman selanjutnya)