Lompat ke isi

Pembicaraan Pengguna:Swarabakti

Konten halaman tidak didukung dalam bahasa lain.
Bagian baru
Dari Wikikamus bahasa Indonesia, kamus bebas
Komentar terbaru: 6 hari yang lalu oleh Swarabakti pada topik Sudah mendaftar

Salam kenal

[sunting sumber]

Halo, terima kasih untuk suntingan-suntingan Anda di Wiktionary. Ditunggu kontribusi selanjutnya. Salam.
Bennylin
1 September 2022 13.05 (UTC)Balas

Sama-sama! Swarabakti (bicara) 19 September 2022 14.10 (UTC)Balas

Alihkan, jangan kosongkan

[sunting sumber]

Istimewa:Halaman_pendek, yang salah diakritiknya dialihkan saja, jangan dikosongkan. Trims.
Bennylin
29 Juni 2024 11.46 (UTC)Balas

Siap, untuk yg baru-baru memang sudah saya alihkan / tambahkan penjelasan kalau itu variasi ejaan. Swarabakti (bicara) 29 Juni 2024 11.51 (UTC)Balas

Templat:lio

[sunting sumber]

Menurut kode bahasanya, ini adalah bahasa Liki, bukan bahasa Lio (kode bahasa ljl). Sudah saya ganti. Saya tidak tahu apakah Istimewa:Pranala_balik/Templat:lio itu bahasa-bahasa Liki atau bahasa Lio. Kalau bahasa Lio, silakan diganti menjadi {{ljl}}. Trims.
Bennylin
16 Desember 2024 20.46 (UTC)Balas

Ini sebetulnya karena kemarin ikut format templat {{nama bahasa}} (cth. {{palembang}}) di subjudul sih ya, kebetulan aja nama lengkap bahasanya tiga huruf dan sama dengan kode bahasa lain. Apa lebih baik semuanya diseragamkan pakai templat {{kode bahasa}} di subjudul ya? Pranala ke entri untuk nama bahasa menurutku juga tidak terlalu perlu... Swarabakti (bicara) 28 Desember 2024 18.11 (UTC)Balas
Ya, saya sedang merapikan dan melengkapi semua kode bahasa daerah Indo. Saat ini saya putuskan secara sepihak dulu, hanya bahasa dengan kode dua huruf yang "boleh" dibuatkan aliasnya semisal {{indonesia}}. Kalau kodenya tiga huruf, tidak boleh dibuatkan demikian, karena banyak nama bahasa yang tiga huruf, dan banyak bahasa yang memiliki terlalu banyak variasi, dan/atau skrip non-Latin; susah kalau harus mengakomodasi semua varian nama. Atau nanti bisa dibuatkan aturannya, bahwa huruf pertama harus kapital, misalnya {{Lio}}, atau gimana.

Bennylin
31 Desember 2024 12.53 (UTC)Balas
PS: pranala baliknya sudah saya kosongkan via bot.
Bennylin
31 Desember 2024 12.53 (UTC)Balas

Templat yang benar

[sunting sumber]

Halo Mas Swarabakti, untuk bahasa baru tuh templat yang dipergunakan mana ya? Contoh kata kerja ada -verb-, ada -verba-, ada kk, semuanya bentuk visualnya berubah-ubah, jadi bingung. :) Biyanto R (bicara) 14 November 2025 04.56 (UTC)Balas

Itu sengaja di-fork untuk mengakomodasi usulan perubahan tata letak, Mas. Draf kebijakan lengkapnya bisa dibaca di sini. Alihan yang dipilih untuk jadi fork memang sengaja yang nama lengkap dalam bahasa Indonesia, karena relatif sedikit pranala baliknya.
Kemarin baru diujicobakan dalam rapat internal anggota Komunitas Wiktionary Indonesia (Kategori:Uji coba tata letak entri 2025). — swarabakti💬 14 November 2025 05.15 (UTC)Balas
Mantep banget. Aku sepakat harus diubah tata letaknya. Terlalu ramai dan membingungkan. Terutama urusan templat-templatan. Biyanto R (bicara) 14 November 2025 05.17 (UTC)Balas
Boleh diberikan tanggapan di usulannya kalau ada perbaikan atau usulan tambahan lain, hehe.
Nanti rencananya semua templat akan diseragamkan sintaksnya, cukup dengan satu atau dua pintasan, sementara templat utama diletakkan di halaman dengan nama lengkap dalam bahasa Indonesia, supaya lebih transparan fungsinya bagi pengguna pemula. — swarabakti💬 14 November 2025 05.20 (UTC)Balas
Paling aku usul agar padanan di bahasa lain, bisa mencontoh penggunaan templat di Wikikamus bahasa Inggris, rapi banget di sana dengan templat:trans dan juga istilah turunan. Biyanto R (bicara) 14 November 2025 05.27 (UTC)Balas
Betul, rencananya memang akan seperti itu (walaupun teknis templatnya agak sedikit berbeda, tapi susunannya sama, lihat di bagian #Terjemahan di draf kebijakan). Contoh penerapannya bisa dilihat di bew:bikin (setahun terakhir memang bewwikt yang kujadikan wadah uji coba untuk format baru ini wkwkw) — swarabakti💬 14 November 2025 05.43 (UTC)Balas

Banyak templat baru

[sunting sumber]

Terima kasih atas kontribusi Anda. Jika Anda membuat templat, mohon selalu mengategorikan semua templat. Kategori:Templat umum bisa digunakan sampai kategori lebih baik ditentukan. Juga semua templat harus memiliki dokumentasi. Templat yang Anda buat dengan dokumentasi agak minimal jauh lebih baik daripada templat terdahulu yang tidak memiliki dokumentasi sama sekali. Lihat Templat:gamkan yang memiliki dokumentasi dan tes diri. Taylor 49 (bicara) 14 November 2025 23.29 (UTC)Balas

Nanti akan saya perbarui jika ada yang belum terkategorisasi. Semua templat baru yang saya tambahkan beberapa hari belakangan adalah untuk keperluan uji coba tata letak (sebagian besarnya direncanakan sebagai pengganti dari templat lama), dan dokumentasinya akan ditambahkan selengkapnya segera. — swarabakti💬 14 November 2025 23.43 (UTC)Balas
Tambahan: Apabila diperlukan, kita bisa menyusun panduan untuk membuat dokumentasi templat dan modul (hanya semacam petunjuk praktis, bukan kebijakan) sehingga susunannya seragam. Perlu diperjelas apa saja yang mesti ada dalam sebuah dokumentasi, serta penyelarasan istilah kepada bentuk yang memang dikenal atau dipahami penutur bahasa Indonesia, seperti misalnya "uji tampilan" alih-alih "tes diri". — swarabakti💬 15 November 2025 01.24 (UTC)Balas

plesir

[sunting sumber]

Halo mas. Saya bingung kenapa bahasa indonesia peranakannya dihapus ya, Apakah ini menandakan bahwa buku yang dikutip menggunakan bahasa betawi dalam penulisannya? Agus Damanik (bicara) 10 Desember 2025 08.34 (UTC)Balas

@Agus Damanik: Sebetulnya sudah lama saya mau bicarakan di sini, tapi kode [pea] untuk "bahasa Indonesia Peranakan" itu aslinya dikhususkan untuk merujuk pada ragam yang di masa kini digunakan dalam percakapan sehari-hari oleh masyarakat Peranakan Tionghoa di Jawa, utamanya di daerah perkotaan (cf. titik geografis yang diberikan di Ethnologue dan Glottolog, serta sumber-sumber rujukan yang dikutip di Glottolog). Ragam ini, menurut Oetomo (1991), mesti dibedakan dari ragam tulis yang digunakan dalam sastra Melayu karangan penulis Tionghoa masa kolonial dan awal kemerdekaan.
Pun di masa kolonial, yang disebut "Melayu Tionghoa" (mulai sejak 1920-an ke atas) itu bisa merujuk pada beberapa hal berbeda sekaligus, yakni 1) ragam-ragam kontak Melayu dengan campuran leksikon Tionghoa, 2) ragam Melayu yang digunakan dalam karya terjemahan dari bahasa Tionghoa, 3) campur kode Melayu dan Hokkien secara disengaja sebagai penanda etnis, dan 4) penggunaan stereotipe aksen Tionghoa untuk tujuan humor (Hogervoorst 2017).
Kwee Kek Beng (1923) menulis bahwa walaupun penutur Melayu dari kalangan Peranakan umumnya punya ciri khas yang sedikit berbeda dari penutur Melayu setempat pada umumnya, perbedaan ini tidak seberapa dibanding perbedaan regional antara ragam-ragam Melayu itu sendiri. Penutur Peranakan di Batavia bahasanya hampir pasti lebih dekat dengan penutur Betawi dibandingkan dengan penutur Peranakan di Medan, misalnya. Hanya saja, memang ada repertoar kebahasaan yang dimiliki khas oleh penutur Peranakan secara umum, utamanya dari segi kosakata.
Kebanyakan naskah karangan penulis Tionghoa zaman dahulu sebetulnya perlu diperhatikan lagi masuknya ke ragam mana. Sepanjang pengamatanku, sebagian besarnya dapat dianggap masuk ke dalam "Melayu Pasar" atau "Melayu Rendah" umum, yang juga digunakan sebagai bahasa sehari-hari oleh semua kalangan (tidak terbatas pada masyarakat Peranakan) pada masa kolonial. Hanya saja, beberapa karya memang punya ciri ragam cakapan daerah yang signifikan (utamanya pada dialog), dan ini bisa saja dijustifikasi sebagai bukti ketercatatan (atestasi) bagi ragam tersebut, termasuk bahasa Betawi. Dalam contoh kutipan untuk kata plesir yang tadinya ditambahkan di bawah "bahasa Indonesia Peranakan", kalimatnya diambil dari dialog dengan ciri kebetawian (termasuk penggunaan imbuhan -in, penggunaan kata angguran dsb.), dari naskah yang ditulis dan diterbitkan di Batavia.
Tentunya tidak semua isi dari naskah Melayu karangan penulis Tionghoa bisa dikategorikan begini (terutama dengan adanya percampuran bahasa pada karya-karya tersebut), sehingga penentuannya mesti kasus-demi-kasus. Yang pasti, sebagian besar kutipan untuk entri "bahasa Indonesia Peranakan" saat ini perlu diperiksa kembali agar dapat diletakkan di bawah subjudul bahasa yang tepat.
Terkait dengan ini, untuk enwikt saya juga sedang merancang proposal perombakan klasifikasi ragam-ragam Melayik, yang salah satunya mencakup penambahan "Bazaar Malay" (Melayu Pasar) sebagai ragam bahasa etimologis (i.e. bahasa yang tidak bisa jadi subjudul sendiri). Nantinya, kosakata yang muncul di karya-karya berbahasa Melayu Pasar (baik itu karangan Peranakan atau bukan) dapat dimasukkan di bawah subjudul bahasa Melayu dengan label (Bazaar), jika memang penggunaannya umum se-Nusantara, atau dipisahkan ke subjudul bahasa lain seperti Betawi jika kosakata tersebut terbatas penggunaannya. — swarabakti💬 10 Desember 2025 10.07 (UTC)Balas
dipahami mas. Mungkin bisa diperiksa ya beberapa kata dalam bahasa indonesia peranakan Agus Damanik (bicara) 10 Desember 2025 10.30 (UTC)Balas

SwarabaktiBot

[sunting sumber]

Salam ... mohon buat permintaan status bot di Wikikamus:Bot. Saya bisa lihat bahwa bot Anda sudah aktif di 3 wiki, di antaranya dua dengan "flag" dan satu tanpa. Taylor 49 (bicara) 24 Desember 2025 02.42 (UTC)Balas

@Taylor 49: Siap, beberapa suntingan saat ini hanya untuk pengujian terlebih dahulu. — swarabakti💬 24 Desember 2025 02.45 (UTC)Balas
@Taylor 49 Sudah saya ajukan. Terima kasih atas pemberitahuannya. — swarabakti💬 24 Desember 2025 02.51 (UTC)Balas

Pakai "dari bahasa Indonesia"/"dari bahasa Melayu"?

[sunting sumber]

Halo bung Swarabakti. Dilihat di en.wiktionary, lebih banyak menggunakan istilah seperti borrowed from Malay. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa Indonesia adalah bagian dari bahasa Melayu. Jadi, untuk id.wiktionary menurut Anda seharusnya menggunakan apa, berikut contohnya:

  • diserap dari bahasa Indonesia,
  • diserap dari bahasa Melayu, atau
  • diserap dari rumpun bahasa Melayu?

Terima kasih. MITGATVM (bicara) 6 Januari 2026 12.25 (UTC)Balas

Untuk istilah bahasa Indonesia? Di enwikt kan kebanyakan pakainya inherited from Malay ("diwariskan dari bahasa Melayu") atau from Malay ("dari bahasa Melayu"), bukan borrowed from Malay ("diserap dari bahasa Melayu"). Bagi istilah warisan ini sudah tepat, karena bahasa Indonesia memang sebagian besarnya melanjutkan bahasa Melayu. Pakai "diserap dari..." hanya kalau memang ada catatan peminjamannya terjadi di masa modern, setelah bahasa Indonesia muncul sebagai identitas baru.
Contohnya seperti en:berdikari dan en:mantan yang jelas dicetuskan dalam konteks bahasa Indonesia terlebih dahulu, sehingga ketika masuk ke bahasa Melayu hitungannya menjadi diserap. Kalau ada istilah bahasa Melayu yang begini (masuk ke bahasa Indonesia pada masa kiwari) baru bisa ditandai diserap. — swarabakti💬 6 Januari 2026 12.38 (UTC)Balas
Iya, menurutku juga begitu. Bahasa Indonesia bagian dari bahasa Melayu dari wilayah kita sendiri MITGATVM (bicara) 6 Januari 2026 13.02 (UTC)Balas
Atau maksudnya untuk bahasa di luar Indonesia? Kembali lagi lihat konteksnya, kalau penyerapan terjadi sebelum identitas bahasa Indonesia wujud, pakai "diserap dari bahasa Melayu". — swarabakti💬 6 Januari 2026 12.39 (UTC)Balas
Bukan, misalnya kata Tagalog libo (ribu) yang diserap dari bahasa Melayu, berarti tetap Melayu kan? MITGATVM (bicara) 6 Januari 2026 13.01 (UTC)Balas
Ah iya, jadinya tetap Melayu. Tapi kalau misal en:sinetron yang konteks pencetusannya adalah oleh penutur bahasa Indonesia kiwari, maka bisa ditandai diserap dari bahasa Indonesia. Jadi bukan pukul rata kalau diserap dari bahasa selain Melayu (dan Indonesia) = "dari bahasa Melayu"... — swarabakti💬 6 Januari 2026 13.06 (UTC)Balas
Contoh lain soal peminjaman: en:dangdut itu jelas dicetuskannya dalam konteks bahasa Indonesia secara khusus sebelum diserap ke bahasa Inggris, atau bahkan bahasa Melayu (Malaysia) sekalipun. Ini seingatku bahkan ada bukti fonologisnya, karena pengucapan dangdut dalam Melayu Malaysia (dialek urban) pakai [u] mengikuti pengucapan Indonesia Jakarta (dan baku), meskipun kalau ikut tata bunyi asli Melayu seharusnya diucap pakai [o] karena diikuti oleh bunyi konsonan (semacam "dangdot"). — swarabakti💬 6 Januari 2026 13.10 (UTC)Balas
Oke, sudah sangat jelas. Terima kasih! MITGATVM (bicara) 6 Januari 2026 16.02 (UTC)Balas

Sudah mendaftar

[sunting sumber]

@Swarabakti halo Bung. Saya sudah mendaftar tp knpa tidak kelihatan namaku di daftar peserta? Rama Maay (bicara) 1 Maret 2026 03.06 (UTC)Balas

Untuk marasunting WikiKathā? Nama penggunanya sudah muncul kok di sini. — swarabakti💬 1 Maret 2026 03.24 (UTC)Balas
@Swarabakti Untuk dapatkan poin apa hanya fokus kuantitas atau ada lagi Pak? Rama Maay (bicara) 1 Maret 2026 07.44 (UTC)Balas
Seperti yang disebut di halaman Meta untuk acaranya, entri dasar dengan kata kepala dan definisi mendapat +1 poin, entri dengan tambahan unsur lain (kecuali referensi) mendapat +2 poin. Tentunya entri yang dihitung hanya yang masih dalam lingkup bahasa yang ditentukan dan mematuhi kaidah pedoman umum maupun khusus sebagaimana yang telah dijabarkan. — swarabakti💬 1 Maret 2026 08.19 (UTC)Balas
Untuk entri yang dimasukkan, daftar referensi di halaman acara itu juga sudah diverifikasi, jadi bisa gunakan itu dulu. Sumber sekunder selain yang ada di daftar itu tidak disarankan (selain karena memang definisi di Wikikamus itu sendiri adalah sumber sekunder, bukan tersier seperti Wikipedia). — swarabakti💬 1 Maret 2026 08.25 (UTC)Balas