patut
Tampilan
Bahasa Indonesia
[sunting]patut [id]
- pa‧tut ⓘ
Adjektiva
- baik; layak; pantas; senonoh
- 1943, n.d, Pimpinan Singkat Oentoek Membikin Karet, Amerika Serikat: Centrale Proefstation Vereeniging, Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Oostkust van Sumatra, halaman 8-9:
- Tabiat berkering didapati djika membikin tjobaan-kentalan dengan tjara kerdjaan teroes, jang paling baik sepoeloeh hari, lantas giling kentalan itoe, tanda jang patoet sepotong crêpe itoe, dan nanti timbang bila soedah kering betoel.
- [Tabiat berkering didapati jika membikin cobaan-kentalan dengan cara kerjaan terus, yang paling baik sepuluh hari, lantas giling kentalan itu, tanda yang patut sepotong crêpe itu, dan nanti timbang bila sudah kering betul.]
- Perbuatan baik itu patut dipuji; tidak patut seorang anak melawan orang tua; diperlakukan dengan patut
- sesuai benar (dengan); sepadan (dengan); seimbang (dengan)
- Rumahnya kurang patut dengan jabatannya yang tinggi itu
- masuk akal; wajar
- Pada hemat saya tuntutan mereka itu tidak boleh dikatakan tidak patut
- sudah seharusnya (sepantasnya, selayaknya)
- Orang yang berjasa kepada negara patut diberi penghargaan; penjahat itu patut dihukum seumur hidup
- tentu saja; sebenarnya
- Patut ia tidak sanggup membayar utang karena uangnya sudah habis
- bentuk lain dari patoet
Etimologi
- Berasal dari bahasa Jawa Kuno "patūt" 'selaras; sesuai, layak; pantas', dari bahasa Jawa Kuno "tūt" 'mengikuti; menyertai, bersama; beserta'
- Proto-Austronesian (PAN) *tuRut (*-R- hilang [Ø], u + u menjadi ū) menjadi bahasa Jawa Kuno tūt (ū menjadi u) menjadi bahasa Jawa Modern tut.
- bahasa Melayu turut meneruskan PAN *tuRut ‘ikut’ secara langsung (*-R- menjadi r).
- Dalam bahasa Jawa terjadi dua perubahan: 1) *R hilang [Ø] dan 2) sesudah *R hilang [Ø], kedua *u yang berdampingan mengalami kontraksi sehingga timbul bahasa Jawa Kuno tūt. Vokal panjang menjadi u biasa, sesudah perbedaan antara vokal panjang dan pendek hilang dalam bahasa Jawa yang lebih modern.
- Dalam bahasa Jawa tut merupakan kata yang muncul dalam karya sastra yang sekarang dianggap arkais. Bentuk yang menurut Pigeaud (1938) masih digunakan ialah ditutake (di- + tut + ake) ‘diikuti’.
- bahasa Jawa Modern anut ‘mengikut’ yang terdiri atas prefiks aN- + tut dimarkahi sebagai bahasa sastra lama dalam Pigeaud (1938). Kata ini dipinjam bahasa Melayu.
- bahasa Jawa patut ‘sesuai, layak’ merupakan bentuk derivatif yang terdiri atas prefiks kausatif pa- + tut. Kata patut juga dipinjam bahasa Melayu. Sebaliknya, bahasa Jawa Modern turut ‘melalui, mengikuti’ dipinjam dari bahasa Melayu. Artinya, untuk etimon ini, baik bahasa Melayu maupun bahasa Jawa mempunyai bentuk kembar. Nothofer (2013).
- Zoetmulder, P.J., dan Robson, S.O. (2006). Kamus Jawa Kuna-Indonesia. (Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna, Penerjemah). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Bernd Nothofer. (2013). Pengantar Etimologi. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
- “patut” di Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi VI (Daring), Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, 2016.
Entri turunan
Sinonim
- “patut” di Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi VI (Daring), Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, 2016.
Bahasa Jawa
[sunting]patut [jv]
Adjektiva
- patut
- pantês
Bahasa Sasak
[sunting]
Adjektiva